
Hai nona minta votte nya lagi dong boleh yaaa 😽😽
##
Siang itu di vila Arabela benar-benar merasa bosan, dia ingin sekali pergi keluar tapi tetap saja tidak diperbolehkan suaminya.
Dirinya harus tetap berada dirumah menunggu kepulangan Ray, ya seperti itulah kehidupannya di vila ini sudah benar-benar menjadi seperti seekor burung didalam sangkar emas. Mewah tapi tidak bebas.
"Nona maaf mengganggu.." ucap Ling sebelum mengetuk pintu kamarnya, "Nona?"
"Iya.." pintupun terbuka, "Ada apa Ling?"
"Tuan meminta saya untuk membuatkan nona bubur kacang hijau.."
Mendadak Bela tidak menyukainya padahal sebelum hamil makanan itu menjadi salah satu yang terfavorit untuknya.
Bela menggeleng, "Aku tidak mau.. untukmu saja Ling.."
"Maaf nona saya tidak bisa.. karena ini adalah perintah dari tuan muda, menurut saya makanan ini juga sangat bagus untuk ibu hamil."
Kalau sudah menyangkut kata hamil maka Bela tak berani lagi membantah suaminya, toh lagipula janin didalam rahimnya juga milik Bela. Dia tersenyum lembut, "Baiklah aku akan memakannya, terimakasih Ling."
Selesai menyantap bubur itu Bela meraih hp diatas meja rias, mengirimi suaminya sebuah chat.
"Sayang aku merindukanmu.."
Hingga 20 menit kemudian tak ada balasan, lama menunggu membuatnya mengantuk akhirnya Belapun tertidur.
***
Di kantor tuan muda Ray masih memimpin rapat, hp yang ia silent pantas saja jika sampai menit ini dia tak membalas chat dari Bela.
__ADS_1
Satu jam kemudian rapatpun selesai. Saat semuanya sudah pergi meninggalkan ruangan tapi Ray masih bertahan. Memegang hp untuk memeriksanya.
Kedua sudut bibirnya terangkat keatas setelah membaca chat dari Bela namun dia tak membalasnya.
"Tuan muda sore ini kita ada janji makan malam dengan -"
"Batalkan semua, aku merindukan istriku!" ucapnya tegas sembari beranjak dari duduknya dan segera pergi. Meninggalkan perusahaan untuk segera pulang menemui istri tersayangnya.
Didalam ruangan rapat Kris mematung sejenak, dia terdiam lalu menghela nafas pelan.
Mobil yang dikemudikan Raypun sudah sampai divila, dia mempercepat langkah kakinya aaah tuan muda kau benar-benar tidak bisa menahan dirimu walau sebentar saja ya?
Begitu mendengar atau membaca kalimat rindu dari istrimu, wah..
Membuka pintu kamar dan mendapati istrinya sedang tertidur pulas. "Hei kau bilang merindukanku tapi apa ini? Kau malah tidur sampai sepulas ini." Ray naik keatas ranjangn lalu memeluknya dari belakang.
Tangannya masuk kedalam baju Bela, mengelus lembut perut ratanya.
Tak seberapa lama Bela terbangun, "Emh.." meraba tangan yang sejak tadi menyentuh perutnya. "Sayang?"
"Kau bilang merindukanku tapi saat aku pulang kau malah tidur."
Bela membalikan tubuhnya agar bisa bersitatap dengan Ray, ingin sekali mencium bibir merah pria dihadapannya itu. Cup!
"Hei apa ini? Kau melakukannya untuk menghindari hukuman dariku?"
Bela menggeleng, dia mendekat mengikis jarak diantara mereka. Lalu menangis.
"Kenapa kau menangis, Bela?"
"Aku merindukanmu.. kau bahkan tidak membalas chatku.. kau membuatku menunggu."
__ADS_1
Ray terdiam apakah ada yang salah dengannya hari ini? Hanya tidak membalas chatnya saja dan itu membuat Bela menangis?
"Kau jahat sekali.."
Ray meraih punggung tangan Bela lalu menciumnya, "Maafkan aku sayang.. tadi aku sangat sibuk jadi tidak sempat membalas chatmu. Apakah kau tahu, begitu membacanya aku langsung pulang.." mengusap air mata Bela, "Sudah ya jangan menangis lagi.. aah benar ayo kita pergi liburan kau pasti sangat bosan disinikan?"
"Sungguh? Kau tidak akan membatalkannya lagi seperti yang dulukan?"
"Iya tentu saja."
Dan akhrinya Ray membalas tuduhan Bela atas dirinya yang mengatakan jika Ray jahat karena tak membalas chatnya dengan sesuatu yang menyenangkan.
Usai melewati kenikmatan bersama diatas ranjang Ray menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, mengecup kening Bela dan membelai wajahnya. "Tidurlah.."
"Jangan pergi.."
"Wah, wah, kau ini benar-benar ya diberi hati tapi minta jantung." ucapnya dengan senang lalu kembali menyerangnya sekali lagi.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu sekarang Bela merasa tidak nyaman dibagian perurnya, "Sayang sudah perurtku keram."
"Tahan sebentar lagi."
"Sayang?" Bela mengernyit, rasa keram diperutnya membuatnya tidak nyaman.
Namun Ray tidak mau berhenti menikmati tubuhnya, pria itu masih dipenuhi nafsu. "Ini tidak akan lama, tahan sebentar lagi.."
"Emh.. sayang?"
Bela dibuat bungkam dengan kecupan Ray dibibirnya, mengecupnya dengan dalam dan dalam hingga akhirnya Ray benar-benar dibuat puas oleh kenikmatan tubuhnya.
Nafas Bela tersengal dan mencoba untuk mengatur nafas dengan baik, tubuhnya merasa begitu lemas sementara rasa keram diperutya sudah mulai hilang.
__ADS_1