
Sebelum baca please dong dukung nona, vottenya yaa.. kan mau juga seperti author lainnya yang bisa menangin rangking votte! ðŸ¤ðŸ¤
***
Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera bertemu dengan sang istri.
Ray akhrinya sampai dirumah orangtua Bela segera saja dia turun dari mobil dan mengambil langkah lebar untuk segera menemuinya.
Mengetuk pintu dengan tergesa, Ray masih mencoba untuk mengatur nafasnya. Ray masih memalingkan wajahnya kearah lain hingga kedua telinganya mendengar suara pintu terbuka langsung saja dirinya memeluk orang yang ada diambang pintu tersebut.
"Maafkan aku Bela, maafkan aku..."
"Sejak kapan namaku menjadi Bela!" seru ibu mertuanya.
"😳😳😳.." perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah seorang ibu yang wajahnya mirip dengan Bela.
Glek! Ray menelan salivanya dengan wajah pucat sumpah demi apapun mengapa bisa dia sampai salah memeluk orang.
"Aaa!!" teriak Ray kesakitan saat ibu mertuanya menjewer telinganya dengan kuat hingga memerah, "Sakit.. sakit.. sakit.. lepaskan telingaku!"
"Dasar pria hidung belang, aku ini sudah menikah bisa-bisanya pemuda sepertimu mencoba merayuku hah!" tandasnya dengan seram layaknya seorang ibu yang sedang mencereweti anaknya.
"Tolong lepaskan telingaku, sakit..."
Ribut-ribut didepan rumah membuat anak yang saat itu berada di dapur segera mendekat kesumber suara.
"Ibu?" seru Bela buru-buru mendekat saat tahu siapa yang sedang di siksanya itu. "Ibu tolong lepaskan dia.."
"Kau mengenalnya, siapa dia?"
__ADS_1
"Aku su- aaaa!!!" teriakan kesakitan Ray semakin melengking saat Bela menginjak kuat kakinya.
"Dia bos ditempatku bekerja."
Oh my god! Ibu terkejut dan langsung melepaskannya, memasang wajah sok benar tanpa rasa bersalah.
Dengan cepat melupakan perbuatannya yang tadi.
"Ssshh aaaa sakit sekali, telingaku hampir putus.." Ray mengusap-ngusap telinganya. Lalu menatap ibu mertuanya dengan kesal sampai mendengus sekesal itu.
Ibu mertuanya memasang wajah senyum semanis madu, mendadak bersikap kalem "Jadi kau adalah bos ditempat anakku bekerja? Kenapa tidak bilang dari tadi. Kalian mengobrol saja dulu ya ibu akan membuatkan minuman."
***
Ray dan Bela sedang duduk santai tepat dibawah pohon yang rindang tak jauh dari rumahnya.
"Kenapa kau kemari?"
"Maaf? Untuk apa?"
"Bela aku-"
"Pulanglah.. langit sudah senja sebentar lagi malam."
"Dengarkan dulu penjelasanku, aku kemari -"
Bela langsung beranjak dari duduknya, "Sekarang kau baru mengerti apa yang kurasakan saat itu.. kau mengusirku begitu saja saat aku tiba dikantormu. Bagaimana rasanya menjadi diriku?" Bela berdiri membelakangi suaminya, terlihat jelas saat itu Bela berusaha untuk mengusap air matanya.
Hati mana yang tak terenyuh melihatnya, Ray memeluknya dengan erat dari belakang, "Maafkan aku sayang.. kumohon.." terdengar lirih menyayat.
__ADS_1
Ibu yang membawa nampan berisipun segera menghentikan langkahnya diambang pintu saat melihat Bela dan pria yang dia kira sebagai bosnya sedang berpelukan seperti itu.
Tuhan apakah ini yang namanya jodoh? Ayo Bela terima dia.. terima!
Bela menggeleng sembari melepaskan pelukan Ray darinya, "Pergilah biarkan aku sendiri.." lalu berlari kecil masuk kedalam rumah tanpa menyapa ibunya terlebih dahulu.
Merasa frustasi membuat Ray mengusap wajahnya dengan gusar.
***
Sepanjang perjalan Ray terdiam tak menjawab satupun telefon dari Kris, menyanggahkan tangannya di tepi jendela mobil sembari menggigit kecil ibu jarinya.
"Aku pasti akan melenyapkanmu setelah urusanku selesai!" sorot matanya menyiratkan amarah yang tak bisa dipadamkan lagi.
Tak lama kemudian dirinyapun sampai di vila, barusaja menginjakan kaki diruang tamu tapi dia sudah berteriak-teriak memanggil Ling.
"Ling! Ling!" serunya dengan teriakan lantang.
Buru-buru Ling berlari kecil dan mendekat, "Iya saya tuan.."
"Katakan dengan jelas apakah sore itu ayah datang kemari untuk menemui istriku?"
"Benar tuan, tapi tepatnya apa yang nona dan tuan besar bicarakan saya tidak tahu."
"Apa?" pekiknya melengking. Menarik kerah kemeja Ling dengan kasar, "Kau bilang tidak tahu! Lalu kenapa kau tidak memberitahuku jika pria sialan itu datang kemari! Apa yang sudah kau dapatkan darinya? Apa!!" teriakannya membuat Ling gemetar ketakutan.
"Ampun tuan muda, maafkan saya.. itu semua terjadi karena kelalaian saya.."
"Kalian semua bodoh!"
__ADS_1
Bruk!
"Aargh!" Ling merintih kesakitan saat tubuhnya dihempaskan sekuat itu kelantai, dengan kepalanya yang terbentur meja.