Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Masalah


__ADS_3

Selesai makan para pelayanpun segera membersihkan meja makan itu, dan sekarang adalah giliran mereka untuk makan siang.


"Hei pelayan baru cepat makan!" seru Maria meneriakinya sembari melemparkannya sendok dan terjatuh tepat dibawah kaki Risa.


Dirinya masih berbesar hati untuk memungut sendok itu, mencuci hingga bersih lalu ia gunakan untuk menyendok makanannya.


"Hei kau pelayan baru cepat ambilkan aku air minum." Risa masih diam tak menjawab, "Hei kau!" bentak Maria sembari menggebrak meja.


"Kau bisa mengambilnya sendiri bukan? Lagipula disampingmu itu ada air mineral botolkan?"


"Waah kalian lihat dia, hari pertamanya bekerja sudah berani melawan seniornya."


Pelayan yang lain hanya diam tak mau ambil pusing karena mereka juga sudah terbiasa dengan sikap Maria.


Lagi-lagi Risa tak menggubrisnya dan tetap mencoba untuk bersabar, dia makan dengan begitu lahapnya.


Sedangkan Maria yang masih kesal dengan sikap Risa tak ingin berdiam diri, Maria mengambil 1 botol air mineral berukuran sedang membuka tutup botolnya lalu berjalan mendekati Risa dan byur..


Kepala Risa hingga kedua pundaknya basah akibat ulah Maria yang menyiramnya dengan sebotol air.


"Rasakan itu!" pekik Maria lalu menoyor kepala Risa.


Tentu saja hal itu membuat Risa tak bisa lagi menahan emosinya, dia memiting 1 tangan Maria dan membekuknya kebelakang, "Aarggh! Sakit.. sakit.. lepaskan aku.. lepaskan!"


Maria masih merintih kesakitan namun hal itu tidak membuat Risa berbelas kasih padanya, "Bukankah kau terlihat sangat berani? Lalu apa ini, hanya begini saja sudah membuatmu menangis kesakitan?"

__ADS_1


"Risa!" suara Ling terdengar dari kejauhan membuat mereka semua menoleh kearah jam 10.


Risapun melepaskan kuncian tangannya pada Maria, lihat bahkan sekarang pelayan itu mulai memainkan perannya dengan baik.


"Bula?" berlari mendekat dengan taut wajah sedihnya, "Bula lihatlah pelayan baru itu aku tidak tahu apa masalahnya tiba-tiba saja dia menyerangku."


Mendengarnya berkata seperti itu membuat Risa terkejut hingga membulatkan kedua matanya, "Apa yang kau katakan, bula itu semua tidak benar.. aku -"


Plak!


Teridam, Risa menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Kenapa malah jadi seperti ini? Aku tidak bersalah, sama sekali tidak!


"Kembali ke kamarmu!"


"Kubilang kembali kekamarmu!" bentakannya memenuhi ruangan makan dibeskem, Risapun segera berlari menuji kamarnya yang ada disudut ruangan lantai 2.


***


Malam menyapa, sebelum tidur Ray ingin sekali memberikan Bela sebuah liontin yang indah yang ia taruh didalam laci meja rias.


Dia tersenyum saat membuka lacinya, kotaknya masih tertutup rapat dan tanpa rasa curiga sedikitpun Ray mengambilnya.


Duduk ditepi ranjang sembari menunggu sang istri keluar dari kamar mandi, "Kau pasti akan menyikainya.. ibu lihatlah menantumu yang cantik ini, dia sangat can -" suaranya tercekat dengan kedua matanya yang membulat sempurna, urat diwajahnya menonjol keluar dengan tangan yang menggenggam kuat kotak liontin itu hingga ia membantingnya kelantai.


"Pelayan!! Pelayan!!" suara teriakannya terdengar hingga kedalam kamar mandi, Bela yang baru selesai memakai piyama mandinyapun buru-buru keluar.

__ADS_1


"Sayang ada apa, kenapa kau berteriak seperti itu?"


"Dimana benda itu, dimana?" bahkan Bela yang tidak tahu apa-apapun mendadak menjadi sasaran Ray, pria itu mencengkram bahunya sembari mengguncangkannya dengan kuat, "Katakan kepadaku dimana benda itu?" teriaknya sekali lagi dengan nada membentak.


"Sakit.. lepaskan aku.." melepaskan cengkraman tangan Ray, "Benda apa yang kau maksud aku sama sekali tidak mengerti."


Ray mengusap wajahnya dengan gusar lalu menendang meja didekat ranjang tidurnya, kemudian dirinya segera turun kelantai 1 dan kembali berteriak memanggil pelayan-pelayannya.


Bela yang ikut panikpun segera meraih hpnya lalu menelefon Kris.


Setelah menelefon Bela segera menyusul suaminya dilantai 1, sekaligus ingin memastikan sebenarnya apa yang memicu suaminya hingga semarah itu.


Para pelayan sudah berkumpul dihadapannya termasuk Risa.


Dan tak lama kemudian Krispun datang, namun tak ada satupun mata yang berani memalingkan pandangannya dari sang tuan muda.


"Katakan, siapa diantara kalian yang telah mencuri liontinku!" Ray melemparkan kotak liontinnya kelantai, semua terdiam tidak ada yang menjawab, "Jawab!" teriaknya membentak, membuat para pelayan terlonjak kaget.


Wajah Maria terlihat sangat pucat bahkan bibirnya saja sudah bergetar, Matilah aku!


"Apakah kalian tuli? Cepat jawab!!" ternyata mereka masih diam, Ray sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, "Ling!!"


"Saya tuan?"


"Potong tangan mereka semua!"

__ADS_1


__ADS_2