
Keesokan paginya Kris sudah bersiap dengan setelan jasnya yang rapih. Menatap dirinya didalam pantulan cermin.
Alis tegas serta mata tajamnya menatap seksama wajah tampan yang terpancar.
Dibukanya laci meja untuk mengambil kunci mobil. Mengunci pintu apartemennya dan segera masuk kedalam mobil.
Melajukan mobil dengan kecepatan sedang menatap fokus pada jalan yang ada didepannya.
Hpnya bergetar, chat masuk dari seorang informan.
"Tuan kami sudah menangkapnya, kami juga membawanya ketanah lapang."
Senyum sinis membuatnya semakin dingin, Kris menarik tuas mobilnya kemudian menambah kecepatan mobil menuju tempat yang dimaksud.
***
"Lepaskan aku.. siapa kalian?" Meri yang kedua matanya tertutup rapat dengan kain hitam tak dapat melihat apapun disekelilingnya.
Tangannya sudah dicengkram kuat oleh 2 orang pria disampingnya.
"Diam dan menurutlah kau!"
Meri mendengar sebuah mobil mengerem dengan bannya yang berdecit nyaring.
Jantungnya berdegup kencang, bahkan bibirnya juga sudah pucat.
Siapa? Siapa itu?
"Selamat pagi tuan?" seru mereka menyapa yang hanya dibalas sebuah anggukan.
Kris menggerakan tangannya meminta kepada mereka untuk segera pergi meninggalkan dirinya dan Meri.
__ADS_1
Tangannya mendekat untuk membuka penutup kain, pandangan Meri yang tadinya remang perlahan menjadi terang.
"Tu- tuan?" Meri sangat terkejut saat bersitatap dengan pria itu, perlahan memundurkan langkahnya dan mencoba untuk kabur.
Namun sayang dia kalah cepat, Kris segera mencengkeramnya.
"Lepaskan saya, lepaskan.." Meri begitu berusaha untuk melepaskan diri.
"Diam, menurutlah atau aku akan benar-benar melenyapkan mu.."
"Tidak mau, tuan pasti akan melenyapkan saya.. lepaskan.."
Tarik menarik diantara merekapun terjadi hingga tak sengaja tangan kanan Meri melayang menampar wajah Kris.
Sontak hal itu membuat Kris semakin meradang, mata yang melotot tajam sedang menatapnya.
"Rupanya kau memang tidak bisa diajak bicara ya?" Kris tetap memaksa Meri untuk ikut dengannya, "Masuk!"
***
Sebuah vila mewah yang menjadi tempat tujuan berhentinya mobil mereka.
"Turun.."
A- apa? Kenapa dia membawaku kemari?
"Tidak dengar?"
Meri menelan saliva nya dengan wajah gusar, tunggu dulu Kris. Bukankah itu vila milik tuan muda Ray? Kenapa kau mengajak Meri kesana?
Kris berjalan mendahului Meri dibelakangnya, wanita itu masih mencoba untuk menyesuaikan kecepatan langkah kakinya dengan Kris, pria yang ia panggil tuan.
__ADS_1
Membawanya hingga masuk keruang kerja Ling, "Selamat pagi tuan Kris?" Siapa lagi wanita yang dibawa tuan Kris itu?
"Apa yang kau lihat?" seru Kris menyadarkan Ling.
"Tidak ada, maaf tuan.."
Kris merangkul Meri membuat Ling membulatkan matanya terkejut, namun tiba-tiba saja Kris langsung mendorong Meri hingga tersungkur dikaki Ling.
"Aw!"
"Mulai hari ini dia akan menjadi pelayan pribadi nona muda.." lalu pergi begitu saja membuat mereka berdua keheranan.
Tragis sekali nasibmu Meri, dibawa dengan menyedihkan seperti itu. Berbeda halnya dengan Risa.
Risa yang dibawa kerena menanggung perbuatan ayahnya, lalu bagaimana dengan Meri?
Ling mengulurkan tangan tapi tidak berharap jika uluran tangannya akan diraih Meri.
"Terimakasih nyonya.."
"Aku bukan nyonya, panggil saja aku bula.. tuan dan nona muda di rumah ini sedang berbulan madu diluar kota. Boleh aku tahu siapa namamu?"
"Nama saya Meri, bula.."
Ling beranjak dari hadapannya membuka laci meja untuk mengambil surat kontrak pekerjaan.
"Isi data-datamu disini.."
"Jika saya menolak?"
"Maka kau akan berurusan dengan tuan Kris."
__ADS_1
Mendadak tubuhnya serasa lemah saat diingatkan sekejam apa pria itu memperlakukannya.