
Sekembalinya sepasang suami istri itu ke kota ada hal menarik yang mencuri perhatian Bela.
Seorang Kris tidak sendirian menunggui kedatangan mereka.
Siapa wanita itu? "Sayang siapa wanita yang sedang duduk disebelah Kris?" berbisik pelan.
"Tidak tahu mungkin saja pacarnya."
Apa, ku fikir dia balok es yang tidak membutuhkan cinta!
Bertemu diruang tunggu menjemput penumpang, Kris melirik Meri memintanya untuk segera memperkenalkan diri.
"Perkenalkan dirimu."
Meri mengangguk, "Selamat pagi tuan, selamat pagi nona perkenalkan nama saya Meri pelayan baru di vila." ucapnya dengan ramah.
"Hai Meri, semoga kau bisa betah bekerja di vila.." ucap Bela tak kalah ramahnya.
Tidak kusangka ternyata nona muda sangat cantik dan memiliki senyum yang begitu manis.
Ada hubungan apa dia dan Kris? Hm sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dariku. dugaan mu sepertinya benar nona Bela ayo cepat kembali ke vila agar bisa mencari tahu kebenarannya.
Mereka berempat pun masuk kedalam mobil dan segera melaju cepat menuju vila.
Setelah sampai Meri segera turun untuk membukakan pintu mobil nona mudanya, "Silahkan nona.."
Sepertinya Meri telah dilatih dengan baik agar tidak melakukan kesalahan sekecil apapun saat sedang bekerja.
"Terimakasih Meri, oh ya bisakah aku meminta bantuan mu lagi?"
Meri diam sejenak hingga deheman Kris menyadarkannya, "Bisa nona.."
Kedua wanita itu masuk kedalam vila, Meri mengikuti langkah kakinya dengan baik dari belakang.
Duduk diruang makan berdua, ada sesuatu yang sangat menggelitiknya sejak tadi.
"Meri, kapan kau mulai bekerja disini sepertinya baru pertama kali aku melihatmu.."
"4 hari yang lalu nona.."
4 hari, bukankah kami sedang berbulan madu? "Wah benarkah? Kenapa Ling tidak segera memberitahuku? Oh ya kau bisa jalan berdua dengan Kris itu hebat sekali katakan apakah kalian pacaran?"
Meri menggeleng cepat, "Tidak nona.." wajahnya merona merah mana mungkin itu tidak benar." Bela semakin penasaran dibuatnya.
Panjang lebar pertanyaan yang dilontarkan oleh nona mudanya, mendadak Meri terdiam dan segera menundukan pandangannya saat melihat Kris berdiri tak jauh dari belakang Bela. Mengamatinya dengan tajam.
"Meri kau kenapa?"
"Tidak apa-apa nona, maaf saya masih banyak pekerjaan saya permisi dulu nona.." beranjak dari duduk lalu mengangguk hormat.
Buru-buru dia pergi ke beskem belakang dengan langkah cepat yang kemudian di ikuti Kris.
__ADS_1
Baru Saja dirinya lolos dari pintu belakang vila, Kris semakin mempercepat langkahnya lalu menangkap wanita itu. Menahannya sejenak.
Mengunci pergerakan tubuhnya dengan sebuah dinding yang menjadi tumpuan.
"Tu- tuan?"
"Apa yang kau katakan tadi, memberitahukan nona muda jika aku yang memaksamu bekerja disini?" dingin, tangannya mengangkat pelan dagu Meri membuat mata indah dan lembutnya bertemu dengan sorot mata tajam Kris.
"Tidak tuan saya tidak mengatakan apapun.. nona hanya bertanya -"
Jarak wajah mereka hampir habis, Kris yang seolah mau mencium bibirnya yang ternyata perbuatannya itu tertangkap basah oleh Ray.
"Kris?"
"😳.." diam sejenak, lalu melepaskan kuncian nya membiarkan Meri untuk pergi. "Tuan anda membutuhkan sesuatu?"
Sejak tadi Ray hanya memperhatikan Meri siapa dia? Kenapa wanita itu begitu menarik perhatian seorang Kris?
"Ayo ikut aku keruang kerja."
"Baik tuan.."
Sementara itu Ling yang ternyata sedang mengamati rekaman cctv di ruangannya bekerja benar-benar dibuat terkejut.
"Tuan Kris?" siapapun yang melihatnya pasti akan salah faham. Padahal yang sebenarnya saat itu Kris hanya ingin membisikinya sesuatu yang mungkin bisa mengancam Meri agar tidak membuka suara.
***
"Meri?"
"Nona?"
Bela duduk di kursi yang baru saja dibersihkan, "Kenapa melihatku seperti itu ayo duduklah sebentar.. aku masih sangat penasaran denganmu.." tersenyum.
Nona saya mohon jangan bertanya apapun.
"Jangan takut, ayo duduklah sebentar.."
Mereka berbincang layaknya seorang teman bukan lagi memandang status pekerjaan.
Tak lama kemudian Risa pun datang, "Selamat pagi nona senang sekali bisa segera bertemu dengan nona."
"Risa? Wah kau semakin cantik saja."
Dan jadilah mereka bertiga mengobrol namun tetap menjaga jarak.
Kedua pelayan itu terdiam langsung berdiri saat melihat Kris yang berjalan kearah mereka.
"Kalian kenapa?"
Terutama Meri, dirinya sudah menelan saliva sekuat mungkin sementara Risa wajahnya bersemu merah saat melihat Kris.
__ADS_1
Meri yang tiba-tiba saja bersembunyi dibalik punggung Risa berharap tatapan mata dingin Kris tidak untuknya.
Bela yang mengamati keadaan kedua pelayan itu seketika terdiam.
Apakah ini yang namanya cinta segitiga? Kris kau berada diposisi yang sulit.
Berdiri tegak menebarkan pesonanya yang begitu memikat, "Siapa yang menyuruhmu sembunyi?"
Tak berani menjawab Meri pun memberanikan diri untuk berdiri di samping Risa.
"Ikut aku.."
Ketiganya terkejut, "Kenapa kau diam? Tidak dengar!" lanjut Kris dengan dingin.
Meri yang sudah mau membuka suara secara mengejutkan Kris mencengkeram tangannya, "Aku tidak suka orang yang lamban."
"Tuan?" panik takut hal buruk akan terjadi, "Nona muda tolong saya.."
"Kris kau mau membawanya kemana?"
Risa yang merasa seperti dihempaskan oleh pria yang disukainya secara diam-diam perlahan mendudukkan tubuhnya.
Selama ini dirinya telah dibuat salah faham, siapa sebenarnya Meri sampai-sampai membuat Kris jadi seperti itu.
Kris masih menuntun langkah Meri hingga kegarasi mobil yang juga diikuti Bela.
"Pria itu kenapa sih?"
Melewati tangga tanpa melihat kesekitarnya.
"Arabela?"
Langkahnya terhenti saat mendengar suaminya memanggil, dia menoleh kearah tangga.
"Sayang?"
"Mau kemana kau kenapa membuntuti mereka?"
"Aaaa itu aku hanya takut Meri diperlakukan dengan -"
"Jangan ikut campur, cepat masuk kekamar."
"Tapi sayang -"
"🤨.."
"Iya baiklah.."
Ditatap seperti itu mana mungkin Bela berani membantah semua ucapan dan perintahnya.
Jiwa dan raganya semua yang ada pada dirinya hanya milik tuan muda Ivander Raymond.
__ADS_1