Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu


__ADS_3

Masih melanjutkan kisah romantis Bela dan Rey di pulau resort, rasanya tak cukup waktu yang dihabiskan untuk merajut kisah asmara mereka berdua.


Bela yang baru saja selesai mandi, "Hei.. buka kimono mu."


Bela yang mendengarnya pun langsung berwajah merah malu.



"Bicara sembarangan kau mau aku masuk angin? Memangnya sudah lupa ya jika saat ini aku sedang mengandung darah daging mu.."


"Aku suamimu, tentu saja aku masih berhak untuk mendapatkan kewajiban mu sebagai istriku."


"Tidak mau, sama gulung saja sana.."


"Hei, nona muda.." Rey menyeringai sembari menarik pinggangnya yang masih ramping, lalu mencubit gemas hidungnya.


"Aaa sayang sakit.."


Rey sudah tak sabar lagi dan segera menarik ikatan kimononya, membuatnya jatuh teronggok diatas lantai.


Tubuh indahnya sangat memikat, "Sayang apa yang kau lakuka -"


Bibirnya dibungkam lembut oleh bibir Rey, keduanya saling menikmati dengan pelan tapi pasti.


Rey segera melepaskan ciumannya saat merasakan pasokan oksigen mereka menipis. Lalu memeluknya.



"Sayang?"


"Hm?"

__ADS_1


"Tubuh mu berat sekali.."


Rey tersenyum lalu mulai menggagahinya, "Pejamkan saja matamu, karena ini akan menjadi sesuatu yang sangat nikmat.. sayang."


"Ah.."


Jemari mereka saling meremas dengan hangat, Rey benar-benar tak menyisakan bagian manapun di tubuhnya. Setiap inci tubuh Bela sudah ia penuhi dengan jejak kepemilikannya.


Rasanya tak pernah bosan untuk terus melakukannya setiap waktu, bukan lagi terhitung hari melainkan jam.


"Sayang pelan-pelan, ingat anak kita yang ada di dalam rahimku."


"Mana mungkin aku menyakitinya, sayang.. kalian hidup dan nyawaku.."


"Emh.." lenguhan kenimatan itu seolah membuatnya ingin terus disentuh sang suami, kenikmatan yang mencapai di ubun-ubun kepala namun sayang harus segera berakhir akibat keram perut yang ia rasakan. "Sakit.."


"Sakit? Aku melakukannya dengan sangat pelan.."


Tinggal sedikit lagi Rey akan mengeluarkan pasukan yang ada di dalam benda pusakanya.


Tapi mau bagaimana lagi toh dia juga tidak ingin hal buruk terjadi kepada istri dan calon anaknya.


Segera Rey menarik diri dari kepemilikan Bela yang masih terasa begitu nikmat.


"Apakah masih sakit?"


"Emh.."


Bela meremas kuat tangan Rey hingga memerah dan membuat pria itu meringis kesakitan, Aaa sakit!!


Tapi bahkan Rey tak berani bersuara dihadapan istrinya, "Tenanglah sayang aku akan segera memanggil dokter untuk memeriksamu.."

__ADS_1


"Aaaa tidak, tidak. aku tidak mau sayang, aku malu."


"Apa yang membuatmu malu?"


"Tubuhku dipenuhi jejak kepemilikan dirimu, bagaimana mungkin masih punya muka untuk diperiksa.." menahan tangan Rey, lalu memeluknya, "Anak kita minta ibunya dipeluk."


"Hah?"


"Kenapa malah hah, ayo cepat.."


Rey menghela nafas lalu menggeleng, "Sebenarnya kau ini benar-benar keram atau -"


"Aduh.." mengelus perut yang membuat Rey semakin menggeleng kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam panjang belum usai, Bela yang tengah tertidur di dalam peluak Rey itupun semakin menguatkan pelukannya. Seolah tahu jika suaminya itu hendak bangun dan turun dari ranjang.


Rey menaikan selimut yang hampir melorot dari tubuh polos Bela, sekali lagi dia memperhatikan sekujur tubuhnya yang dipenuhi kiss Mark.


Dia tersenyum sembari mengelus perut Bela yang masih rata dan segera turun untuk memakai baju, buru-buru dia melakukannya setelah mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya.


Klek!


Pintu pun terbuka ternyata yang mengetuk tadi adalah Kris, "Kris? Ada apa malam-malam kemari."


"Maaf mengganggu tuan tapi ini mendesak."


"Apa?"


"Presdir Jhon baru saja menelefon dan meminta kita untuk datang ke acara ulangtahun putrinya yang secara kebetulan diadakan tak jauh dari resort ini."

__ADS_1


__ADS_2