
Sampai digarasi mobil Kris melepaskan cengkraman tangannya.
Membuka pintu mobil kemudi depan untuk mengambil sesuatu, "Ambil ini.." melemparkannya sebuah goodie bag dengan ukuran yang cukup besar.
"Ini apa tuan?" Meri terkejut setelah mendapati isinya, "Hairdryer?"
Ya benar, tuan Kris membelikanmu sebuah hairdrayer mahal jadi jagalah dengan baik.
"Pakai itu dan jangan lagi menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutmu."
Meri membulatkan kedua matanya, ingat saat terakhir kali dirinya mengeringkan rambut dengan handuk di balkon kamar.
"Tu- tuan.." haha Meri cepat sembunyikan rona wajahmu darinya. "Tapi gajiku tidak akan dipotongkan?"
"Akan kupotong jika dalam waktu 5 detik kau masih berdiri dihadapanku!" menyeringai sembari mengangkat dagu Meri, "3 detik lagi!"
"Aaa tidak.." Meripun segera berlari masuk kedalam vila membuat Kris tersenyum. "Terimakasih tuan.." menggoyangkan goodie bag ditanganya.
Dari balkon kamar atas Bela dan suaminya menyaksikan adegan indah itu membuat Bela tersipu malu. "Sayang kau bahkan tidak pernah membelikanku hairdryer.."
"Aku sudah membelikanmu hp baru kemarin, kan?."
Yah dan nanti juga akan kau rusak lagi.
Ray merangkul istrinya, "Kau cemburu? Semua toko hairdryer aku akan memborongnya untukmu."
"Tidak usah, kau ini memang tidak peka."
"🤨🤨🤨.."
***
Makan siang sudah disiapkan tuan dan nona muda terlihat begitu menikmatinya.
Para pelayan juga terlihat menikmati santapan siang mereka dibeskem.
__ADS_1
Selesai menyantap makan siang sekarang waktunya untuk istirahat, Meri yang sudah rebahan diatas ranjang ia menolehkan pandangannya keatas meja tempatnya menaruh hairdryer.
Benda yang masih tersegel dari luarnya saja terlihat begitu mewah.
Bangkit dari tidurnya dan meriah benda itu, dibukanya perlahan lalu mengeluarkannya.
Menggoyangkannya diudara, "Wah pasti harganya mahal." membolak balikannya kekanan dan kekiri lalu tersenyum. Duduk didepan meja rias menyentuh bibirnya.
Teringat jelas bagaimana sensasinya saat dia mengecup bibir Kris.
Langkah yang cukup berani yang juga didominasi sebuah kesalahpahaman yang tercipta diantara mereka berdua dan berbuntut masalah hingga detik ini.
Terjerat dan berurusan dengan pria yang salah hm mungkin tidak sepenuhnya salah.
Suara ketukan terdengar dari luar pintu, ternyata Risa.
"Risa?"
"Apakah kau sedang sibuk, bisa aku mengganggumu sebentar?"
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan tuan Kris?"
"Hubungan kami?" Risa mengangguk, Meri terdiam sejenak ingatannya kembali segar dengan apa yang pernah diucapkan pria itu padanya.
"Meri kenapa kau diam?"
"Kami tidak punya hubungan apapun, aku pernah berhutang padanya karena tidak bisa membayar jadi dia memaksaku bekerja ditempat ini.."
"Benarkah tapi entah mengapa aku merasa -"
"Risa kau menyukainya?"
"Aaa tidak, tidak!" menggeleng mengambil jarak darinya, "Tidak ada satupun yang akan menyukainya, dia pria yang jahat tidak mengenal siapa lawannya.." mengepalkan tangannya dengan erat didepan dada.
"Risa apakah kau sangat membencinya?"
__ADS_1
"Tentu saja, lalu kau sendiri apakah kau tidak membencinya?"
"Aku.. em.."
Dari luar kamar terdengar suara Ling memanggil mereka berdua. "Meri, Risa.."
"Bula?" mendongak keluar bersamaan.
"Sedang apa kalian didalam kamar, jam istirahat sudah habis cepat kembali selesaikan pekerjaan kalian.."
"Baik bula.."
Menghabiskan sisa waktu untuk bekerja semaksimal mungkin.
Sementara itu didalam kamar lantai 2, sepasang suami istri masih sibuk bermain game.
Yang kalah akan mendapatkan hukuman dari sipemenang dan tidak boleh menolak hukuman tersebut apapun alasannya.
"Yes aku menang haha.." seru Bela dengan girangnya membuat Ray tak terima dan melah menuduh Bela bermain curang.
"Ulangi sekali lagi kau pasti bermain curang.."
"Apa? Hei Ray jangan seenaknya menuduhku."
Pria itu membulatkan matanya, "Kau memanggilku apa barusan.." memeluk Bela merebahkannya dibawah tubuhnya, "Sepertinya kau sudah rindu dengan hukumanmu ya?"
Bela menggeleng mencoba untuk mendorong tubuh Ray darinya tapi tidak bisa karena kedua tangannya teegenggam erat.
"Ampun lepaskan aku sayang..."
"Kau sudah membuatku marah jadi terima dan nikmati saja hukumanmu nyonya Ivander Raymond." 1 tangannya yang lain digunakan untuk mengangkat dagu Bela lalu mengecup lembut bibir tipisnya, mel*matnya dengan dalam dan saling merasai saliva.
Kecupannya turun keleher meninggalkan banyak jejak kepemilikannya, "Sayang jangan aku masih datang bulan.."
Moodnya kembali buruk.
__ADS_1