
"Silahkan tandatangani ditempat ini Risa.."
Tangan wanita itu bergetar saat memegang polpen hatinya begitu sedih, bagaimana tidak?
Dia harus menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi ditempat seperti ini.
"Risa, kau tidak mendengarku?"
"Maaf.." Risapun langsung menandatangani bagiannya yang bermaterai itu.
Usai menandatangani Ling mengantarnya ke beskem belakang tempat mereka akan tinggal.
Dia tidak melihat orang yang bernama Kris diluar pintu hingga ia masuk kedalam beskem, Apakah pria mengerikan itu sudah pergi? Syukurlah.
"Ini kamarmu.." ucap Ling memperlihatkan kamar tidurnya yang berukuran sedang.
Hanya ada lemari, meja kursi, ranjang, ac, sedangkan tv tidak disediakan di beskem karena mereka hanya dituntut untuk bekerja dengan serius.
"Besok adalah hari pertamamu bekerja, setelah makan malam beristirahatlah. Ingat jangan sampai kesiangan atau kau tidak akan pernah melupakan hukumanmu!" terdengar datar namun seperti sedang mengancam.
"Baik saya mengerti.."
Didalam kamar atas lantai 2, tuan muda masih memanjakan istrinya memijit kaki Bela dengan minyak zaitun.
"Sayang aku lapar.."
"Kau ingin makan apa, aku akan meminta chef dan pelayan lainnya untuk menyiapkan semuanya.."
__ADS_1
"Aku ingin makan kimci yang diberi banyak daging sapi."
"Hanya itu?"
Bela mengangguk, "Iya hanya itu saja suamiku sayang.." ucapnya sembari menepuk wajah Ray dengan kedua tangannya, senyum cantiknya mengembang sempurna.
Makan malampun disiapkan sesuai dengan keinginan Bela, mereka terihat begitu menikmati makanannya.
Setelah selesai makan sekitar 20 menit kemudian di atas ranjang kamar, Ray berbaring dipangkuan istrinya meraih punggung tangannya lalu menciuminya hingga berkali-kali.
"Ayo kita pergi liburan.."
"Kemana?"
"Pulau dewata, bali.."
"Apa itu? kau sedang berusaha untuk menjilatku ya?"
Bela yang sudah kesalpun langsung berbaring membelakangi suaminya, "Ya sudah kalau begitu aku -"
Dengan cepat Ray membalikan kembali tubuh Bela agar bisa saling berhadapan, dan barusaja Bela mau bangun lagi-lagi Ray dengan cepat menindih tubuhnya.
Tangannya mencengkram kuat kedua tangan Bela diatas kepala, membuat kuncian yang sulit untuk dilepaskan, "Apa yang mau kau lakukan padaku.. lepaskan tanganku kau mencengkramnya dengan kuat.. sakit.."
"Sakit? Ini yang lebih sakit!" tandas Ray yang semakin menjadi menjahili istrinya. Ray menggelitik tubuh Bela membuatnya tertawa kegelian dan hampir menangis.
"Aaa ampun lepaskan aku.. lepaskan.."
__ADS_1
"Cium!"
"A- apa?"
"Cium!"
Bela menggeleng saat Ray berusaha untuk mencium bibirnya, "Hmm... Hmm..." habis sudah tenaganya hingga akhirnya menyerah dan membiarkan sang tuan muda menikmati bibirnya yang tipis dan merah.
Puas menciuminya aaa tidak itu adalah sebuah hukuman lanjutan untuknya karena tadi siang sudah berani membuatnya menjadi perhatian publik.
Sebuah telefon menyelamatkan Bela, nafasnya tersengal hampir ****** kehabisan oxygen dibuatnya.
"Hallo Kris ada apa?"
"Tuan besok kita akan menghadiri acara amal disebuah rumah sakit swasta.."
"Ya aku mengerti, siapkan segala keperluanku."
"Baik tu -" tut tut tut.. telefonnya dimatikan. Sepertinya tuan muda sedang sibuk.
***
"Hukumanmu masih beleum selesai!" Ray segera turun kelantai 1.
Apa? Ooh aku bahkan hampir mati kehabisan nafas karena ulahmu hei tuan muda!! Berkali-kali Bela menghembuskan nafasnya keudara, menggulingkan tubuhnya kesana kemari karena begitu kesalnya.
"Ya! Hukum apa itu? Hukum rimba? Ooh aku tak percaya lagi pada penegak hukum!" mengacak rambutnya hingga berantakan.
__ADS_1
Malam pukul 22.00 suami istri itu sudah tertidur pulas entah seperti apa posisi sang istri tidur hingga membuat suaminya merasa seperti sedang mengangkat beton, semua badannya sakit.