Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Pertengkaran (2)


__ADS_3

"Kris kenapa kau hanya diam saja, cepat bantu aku mencarinya.."


Yang diperintah mengangguk, "Baik tuan, kita berpencar saja agar lebih mudah menemukan nona muda."


Kesana kemari mencari namun belum membuahkan hasil, "Kemana kau pergi!" Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mengusap wajahnya dengan gusar.


Telefon masuk di hpnya dari Kris, "Hallo, kau menemukannya?"


"Nona ada disini, arah jam 2."


Ray segera berlari menuju arah jam 2 berharap akan bertemu dengan Bela, sesampainya disana benar saja dia mendapati sang istri sedang duduk dikursi panjang seorang diri sambil menikmati gulalali jumbo.


Ray mengehela nafas panjang sekesal itu, "Kau membuatku mengejarmu kesana kemari dan kau malah asyik makan makanan manis.." berjalan mendekat dengan cepat namun tidak terlalu tergesa-gesa, "Sepertinya kau sangat menikmatinya ya, nona Arabela.."


Yang ditegur langsung membuang pandangan, hatinya masih kesal.


"Kau marah padaku?"


"Tidak, hanya kesal."


"Itu sama!"


"Aku bilang tidak!"

__ADS_1


Berhenti berdebat dengannya tuan, wanita selalu menang. Seru Kris didalam hatinya, dia mengamati perkembangan kencan tuan mudanya dari kejauhan.


Bela yang sudah mau beranjak dari tempat itupun langsung ditahan oleh cengkaraman tangan Ray.


"Lepaskan, tanganku sakit.."


"Duduk.. kau ini cepat sekali marah ya?"


"Lepaskan dulu tanganku.."


"Duduk dulu.."


Tak jauh dari mereka seorang wanita dan anaknya lewat berjalan kaki.


"Sssttttt!!!" dengan cepat ibunya menutup mulut sang anak lalu mengangguk isyarat minta maaf sembari tersenyum kepada mereka berdua.


"Aaassshhh... lihatkan ini semua gara-gara kau yang suka marah."


"Aw!" pekik Ray kesakitan setelah tangannya digigit Bela, "Hei Arabela, berhenti kubilang.. berhenti, hey.."


Ray berlari lagi menyusul istrinya yang sudah lari menjauh terlebih dahulu. "Berhenti kataku, ARABELA DANITA!!" teriaknya memenuhi udara hingga mendapatkan pandangan puluhan mata, dia lupa jika saat ini sedang berada dikeramaian.


Awas saja kau Arabela, akan kupastikan hukumanmu 5x lipat!! geramnya didalam hati.

__ADS_1


Haaaaah!! Sudah kuduga, sikap tuan yang seperti itu akan merusak momen bahagia 😏 Kris masih memantau mereka berdua.


***


Sudah jam 16.45 sore tapi Bela masih belum kembali keparkiran mobil, Ray dan Kris ternyata sudah menungguinya sejak tadi ditempat itu.


"Woaaah dia sungguh berani, aku akan benar-benar mengurungnya di vila."


Tak jauh dari pandangannya sosok Bela mendekat, dia menangis lagi.


"Kali ini rencana apa lagi yang sudah kau susun agar bisa menghindari amarahku!" Ray segera keluar dari mobil lalu berkacak pinggang dengan wajahnya yang begitu kesal.


Semakin dekat Bela berlari memeluk sumainya dengan salah 1 sudut bibirnya yang berdarah, "Siapa yang berani menyakitimu, katakan!" Ray mengangkat dagu istrinya dan merogoh sapu tangan dari dalam saku kemejanya, mengusap lembut sudut bibir Bela.


"Aaa! Sakit.." mengusap air mata, "Seseorang menuduhku mencuri padahal aku hanya membantu mengambilkan dompetnya yang terjatuh."


"Bukankah aku sudah mengatakan untuk berhenti tetapi kau tetap tidak mau mendengarku, Kris cari orang itu sampai dapat!"


"Baik tuan.."


Setelah menelefon sopir pribadinya di vila untuk menjemput Bela, merekapun menunggu sembari duduk disebuah kursi.


Mobilpun tiba ditempat, buru-buru sopir itu keluar untuk membukakan pintu mobil, "Silahkan masuk nona muda.." lalu mengangguk hormat pada tuan mudanya.

__ADS_1


Setelah mobil yang membawa istrinya berlalu pergi Ray kembali menunggu Kris, berharap dia segera membawa orang yang sudah berani menyakiti istrinya.


__ADS_2