
Bandara jam 15.00 sore waktu setempat Salsa terlihat sedang menyeret koper birunya dan membiarkan petugas untuk memeriksanya di konter cek-in.
Setelah selesai cek-in Salsa segera masuk keruang tunggu, duduk dikursi hijau sembari mendengarkan musik slow genre melalui earphone yang terpasang disebelah telinga kanannya.
Dia mengetik pesan dan mengirimkannya kepada Ray, "Aku akan pergi tapi ingatlah suatu saat ini aku akan kembali untuk merebutmu darinya!"
25 menit berlalu hingga jam keberangkatannya sudah tiba namun tak juga ada balasannya dari pria itu.
Dengan berat hati dirinya meninggalkan kota tersebut, membiarkan Bela menikmati kemenangan diatas kekalahan dan deritanya saat ini.
Aku pasti bisa merebutmu kembali. Akan kupastikan itu.
Pesawatpun terbang meninggalkan hanggar bandara international itu.
***
Mendapatkan notifikasi pesan dari Salsa lantas tak membuat Ray bergeming, pria itu sama sekali tidak berniat untuk membacanya. Malah langsung menghapusnya.
Selesai dengan pekerjaan dikantor dirinyapun bersiap untuk mengikuti rapat dengan dewan direksi Beez Group, mereka akan membahas persoalan pembangunan anak perusaahan dari Beez Group itu sendiri.
Seperti biasa lelaki yang selalu menjadi tameng tuan mudanya sudah menyiapkan semua kebutuhan rapat sore ini.
Ditangannya sudah ada beberapa map yang berisikan dokumen-dokumen penting.
Pintu ruang rapat terbuka dan mereka yang ada didalam segera berdiri untuk menyambut kedatanagn CEO muda yag terkenal akan ketampanannya.
__ADS_1
"Duduk." perintah Ray sembari mengangkat tangannya, "Kris?" menoleh kearah pria itu yang hanya disambut dengan sebuah anggukan kecil.
Kris mengikutinya hingga kekursi tuan muda, berdiri tepat disampingnya lalu memberikan map-map itu kepadanya, "Silahkan tuan.."
"Kita bisa memulai rapatnya sekarang. Aku ingin mendengar pendapat kalian terlebih dahulu.." ucap Ray dengan santai sembari tangannya masih memilah dokumen yang ada dihadapannya.
Matanya fokus pada benda itu, "Kenapa diam, tidak ada pendapat apapun?" mengangkat pandangan lalu mengabsen wajah mereka satu persatu, "Tuan Herman?" orang itu hanya diam tangannya bergerak memberi isyarat jika dia pas, ikut apapun keputusan yang akan diambil.
"Tuan Zino?" dia juga sama dengan Herman, "Tuan Hendro?" masih juga sama, "Kalian ini kenapa? Jika adak yang tidak setuju dengan proyek ini katakan saja. Aku tidak akan keberatan."
"Kami sudah mempelajarinya jadi kami mengerti dan tentu saja kami menerima hal itu dengan baik.." seru Zino dengan senyum mengembang.
"Baguslah jika seperti itu.." mengembalikan map tadi kepada Kris, "Selesaikan."
"Baik tuan muda.." mundur selangkah untuk memberi ruang tuan mudanya yang sudah berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.
***
Terdengar suara klakson mobil dari luar pagar dan membuat Bela menoleh kesumber suara, mengira itu suaminya ternyata bukan.
"Mobil siapa itu?"
Matanya membulat saat mengetahui ternyata yang datang mengunjunginya adalah ayah mertua.
"Ayah?" buru-buru Bela turun menapaki anak tangga menuju lantai 1 untuk membukakan pintu vila.
__ADS_1
Pria itu berdiri tegap didepan pintu dengan tangan yang hampir menyentuh bel, belum sempat bel itu berbunyi, dari dalam Bela sudah membukakan pintunya.
"Ayah?"
"Kenapa wajahmu seperti itu, kau sepertinya tidak suka jika aku datang kemari."
Menggeleng, "Tidak ayah, itu tidak benar.. silahkan masuk yah.." Bela segera memanggil Risa untuk menyiapkan secangkir teh dan cemilan untuk ayah mertuanya.
"Silahkan duduk ayah.." Bela meraih bantal sofa untuk memangkunya, mereka duduk berhadapan mendapatkan tatapan seperti itu sudah pasti akan membuat siapapun menjadi tidak nyaman.
Bela menarik ujung dresnya yang dirasa kurang menutupi lututnya. Dia tersenyum ramah.
"Ayah mencari Ray, jam segini dia masih berada dikantor."
"Untuk apa aku mencarinya jika aku bisa menemukanmu ditempat ini." menatap dingin, ayah merogoh amplop coklat kecil dari dalam saku jasnya. "Ambil dan pergilah sejauh mungkin dari putraku, dia layak mendapatkan wanita yang lebih darimu."
Sesuatu yang tajam sedang menghujam jantung dan hatinya, "Ma- maksud ayah apa?"
"Didalam amplop ini ada selember cek, kau bebas menulis berapapun nominalnya."
Tangannya bergetar namun Bela tetap harus bisa menenangkan dirinya.
##
hai guys Nona minta dukungannya vottenya dong boleh ya🤭🤭🤭
__ADS_1
like, komennya kencengin poooollll and klik favorite ❤️ yaaa