
Kris sudah memegang jadwal usg nona mudanya, dia meminta pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan terbaik.
Bersikap baik dan tenang seperti biasanya meskipun sebenarnya Kris memiliki sebuah rahasia kecil, atau mungkin akan terbongkar juga hari ini.
Mobil yang dinaiki ketiga orang itupun akhirnya sampai di area parkir VVIP rumah sakit, Kris berjalan memandu mereka berdua dari depan.
"Lewat sini tuan, nona silahkan.."
Belok kiri dan tak jauh dari mereka sebuah ruangan dokter kandungan sudah menunggu.
Bela masuk kedalam yang juga ditemani Ray sementara Kris tetap setia menunggu diluar.
Stik usg yang bergerak maju mundur diatas perut putih Bela, jujur saja Ray sudah tidak tahan lagi memandanginya.
Selesai memeriksa Bela segera turun dari bed hospital dan ikut duduk disebelah suaminya.
"Bagaimana dok hasilnya?"
"Semuanya normal, tidak ada yang aneh.."
"Aneh seperti apa?" saut Ray dengan menatap tajam pada dokter wanita dihadapannya.
"Maksud saya tidak ada yang aneh dengan isi perut istri anda tuan.."
Sepasang suami istri itu mengerutkan keningnya secara bersamaan.
"Apa maksudmu?" Ray yang tak terima merasa dirinya sudah dibohongi, tangannya sudah terkepal kuat.
"Istri anda tidak hamil tuan."
Sontak saja mendengar hal itu membuat Bela terkejut, bagaimana mungkin bisa dokter di klinik itu berbohong akan kehamilannya?
Sudah tak mau lagi mendengar penjelasan dari dokter, Ray segera beranjak dari duduk kemudian mengambil langkah lebar.
__ADS_1
Meraih handle pintu, "Kris!" ucapnya dengan lantang namun pria itu sudah tidak ada lagi ditempatnya.
Kabur menyelamatkan diri.
Hanya menempelkan sebuah post it di daun pintu, "Semoga bulan madu anda menyenangkan tuan 🥰.. maaf karena telah membohongi kalian soal kehamilan nona muda.."
1 menit kemudian notifikasi di hpnya muncul, sebuah email pemberitahuan pembelian tiket hotel di trio gili, lombok. Hei bukankah itu namanya menyogok? Entahlah.
Sialan kau Kris berani sekali menipuku dengan cara seperti ini, awas saja kau! Memang benar Ray sangat marah, tapi anehnya dia malah menyunggingkan senyuman tipis di ujung bibirnya.
Dirinyapun kembali melangkah masuk kedalam, meraih tangan Bela. "Ayo.."
"Kita mau kemana?"
Ray hanya diam tak menjawab sepatah katapun, membuat Bela merasa tidak enak dengan dokter itu. "Maaf.." ucapnya dengan lirih sembari mengangguk.
Keluar dari rumah sakit ternyata mobil itu masih terparkir sempurna ditempatnya.
"Ini ambilah." Ray memberinya beberapa lembar uang 100.000.
***
Didalam mobil yang masih melaju sedang, "Kita mau kemana?"
"Diam dan ikut saja.."
Bela merasa takut karena tadi dirinya sempat melihat reaksi yang ditunjukan Ray saat tahu ternyata dirinya tidak hamil.
"Aku -"
"Sudah tidak usah memikirkannya.." mengusap kepala Bela, "Seseorang sengaja melakukannya.."
"Siapa?" diam sejenak memikirkan sesuatu, "Aku yakin pasti dokter di klinik waktu itu yang -"
__ADS_1
"Bukan dia, aku yakin jika dokter itu juga merupakan kaki tangan seseorang. Yang jelas orang itu sudah memanipulasi data dengan sebaik mungkin."
Penasaran? Lupakan saja Bela.. lupakan, pria itu sekarang sedang bersembunyi untuk menikmati waktu luangnya, sebelum kalian kembali dan memberinya sebuah hukuman.
Mobil mereka berbelok ke jalur kanan, tunggu bukankah itu mengarah ke bandara internasional?
"Sayang bukankah jalan ini menuju kebandara?" Ray mengangguk, "Apakah kita akan pergi kesuatu tempat?"
"Ya.."
"Tapi kita tidak membawa satu barangpun."
"Kau hanya perlu pergi denganku bukan dengan barang-barang mu."
Maklum saja namanya juga orang kaya, setiap ucapannya pasti mengandung nilai yang mahal.
Nah merekapun sampai dibandara, melewati antrian panjang membuat Bela merasa tidak enak, dia menutupi wajah atasnya dengan telapak tangan sementara tangan yang satunya digenggam erat Ray.
Petugas yang barusaja bekerja dibandara segera menghentikannya, "Maaf tuan tapi bisakah anda ikut mengantri dengan yang lainnya.."
"Apa? Siapa kau berani sekali menunjukan wajahmu disini!"
Bela mencubit pelan punggung tangan suaminya, lalu berbisik pelan "Sayang sudah jangan berdebat."
"Kau kupecat!" mendorong dada petugas dihadapannya.
Manager yang tak sengaja melewati tempat itupun segera mendekat, "Tuan muda Raymond?" lalu melihat petugas yang barusaja didorong, "Tuan muda tolong maafkan kelalalaian saya.. saya yang akan menghukumnya."
"Minggir!" pekik Ray melewati mereka berdua dengan satu tangannya yang masih menggenggam tangan Bela.
Setelah sampai di hanggar tangannya bergerak memberi perintah, sebuah pesawat mewah segera keluar untuk diterbangkan.
Ya tuan muda Ivander Raymond pebisnis hebat yang juga menanam saham terbesar di bandara yang sedang ia pijaki itu.
__ADS_1