Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Pelayan Baru (2)


__ADS_3

Usai menandatangani kontrak kerjanya Ling mengeluarkan pakaian resmi seorang pelayan di vila ini, memberikannya kepada Meri.


"Kau bisa mulai bekerja sekarang.."


Apa? Apakah aku harus menjadi pelayan yang bahkan nona mudanya saja tidak ku ketahui siapa.


"Meri?"


"Baik bula saya mengerti.." dengan berat hati Meri menerima semua nasib buruknya hari ini.


Bekerja dengan gajih yang cukup namun tetap saja dia tidak menyukainya.


Setelah selesai mengganti pakaian Ling membawanya ketempat-tempat yang harus ia kerjakan nanti, serta tempat-tempat yang tidak boleh dimasukinya.


Lalu membawanya ke beskem belakang vila. Memperkenalkannya dengan pelayan yang lain termasuk Risa.


Mereka semua menyambut kedatangan Meri dengan baik, namun entah mengapa wanita itu hanya memasang wajah yang mengatung mendung.


"Mereka adalah rekan kerjamu.." mereka saling memperkenalkan diri, "Kuharap kalian bisa bekerja dengan akur ingat kita disini adalah keluarga. Mengerti?"


"Baik bula kami mengerti." seru mereka menjawab serempak.


***


Trio Gili, lombok..


Siang ini Ray dan Bela sedang menikmati siaran tv yang cukup terkenal.


Ray yang tidak bosan-bosannya merangkul lalu menciumi wangi rambut Bela sungguh entah sudah berapa kali dia melakukannya.


"Sayang perutku sakit.."


"Bukankah kau sudah makan, kenapa bisa sakit?"


Bela menggeleng, matanya sudah berkaca-kaca. "Sakit.." rintihnya menahan sakit.

__ADS_1


Ray yang melihatnyapun langsung panik bukan kepalang. Beranjak dari sofa untuk menelefon layanan hotel.


Setelah menelefon, pihak hotel memintanya untuk menunggu beberapa menit, tentu saja mengingat seperti apa sifat pria itu mana mungkin dia mau menunggu.


Ray membuka lemari pakaian untuk mengambil jaket. "Pakai ini.."


Wajah Bela yang sudah semakin pucat membuat Ray semakin panik. "Kau bisa berdiri?" Bela menggeleng merintih sakit. "Bertahanlah sebentar aku akan membawamu kerumah sakit terdekat."


Ray memapah istrinya keluar kamar, masuk kedalam lift lalu keluar lagi setelah litf itu sampai di area parkir hotel.


"Sayang sakit..." keluh Bela untuk yang kesekian kalinya.


"Bertahanlah sayang.." buru-buru Ray melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju RS terdekat.


Tak lama kemudian merekapun sampai di RS, "Suster.. suster.." teriak Ray dengan panik membuat para suster berlarian mendekat. "Cepat bawa istriku, dia mengeluh sakit perut."


"Baik tuan serahkan kepada kami."


Masuk IGD dan dilakukan observasi mendetail membuat Ray tak betah lagi untuk menunggu.


Meskipun wajah pucatnya masih belum hilang. Ray mengusap wajahnya dengan begitu gusar sembari menghela nafas panjang.


"Dokter bagaimana keadaannya?"


"Kami akan melakukan pemeriksaan secara mendetail untuk mengetahuinya."


"Lakukan yang terbaik untuknya."


"Baik tuan.." dokter itu mengangguk hormat lalu pergi untuk mengecek pasien lainnya.


Satu jam kemudian setelah dilakukan pemeriksaan mendetail dapat diketahui bersama jika Bela hanya mengalami kram perut.


Usai diperiksa pihak RS memindahkannya keruangan VVIP.


Ray menarik kursi didekat bed istrinya berbaring, mengusap lembut rambutnya. "Bagaimana keadaanmu sekarang?"

__ADS_1


"Sudah lebih baik, sayang terimakasih sudah mengkhawatirkan ku."


"Aku sangat mencemaskan mu sayang.." mengecup kening Bela lalu turun kebibir nya, kecupan itu mendadak berubah liar.


Tangan Bela menahan dada bidang Ray, "Sayang jangan ini RS.."


"Sebentar saja, tidak akan lama aku janji.."


"Tapi -"


Siang itu dikamar inap VVIP menjadi saksi bisu percintaan mereka.


Entah berapa lama waktu berlalu hingga akhirnya Ray benar-benar puas menikmatinya.


Usai menikmati siang bersama Ray segera membersihkan dirinya. Sebelum masuk kedalam kamar mandi dia memunguti bajunya dan Bela yang berserakan dilantai.


***


Di vila Meri masih sedikit disibukan dengan pekerjaan barunya yang dibantu Risa.


"Meri?"


"Iya, ada apa?"


"Kenapa kau bisa masuk kerja ditempat ini?"


Meri terdiam sejenak sedang memikirkan alasan yang tepat untuk ia berikan.


"Karena saya punya hutang dengan seseorang jadi -"


"Meri?" suara Ling mengejutkan mereka, "Risa jika kau masih punya waktu untuk mengobrol lebih baik kau bersihkan taman didepan."


"Baik bula, permisi."


Meri yang merasa tidak nyaman ditatap bula hingga seperti itupun berusaha untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2