Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Rencana Ayah


__ADS_3

Kapan lagi kesempatan emas seperti ini akan datang! Dengan penuh rasa percaya diri Bela meraih amplop itu lalu mengeluarkan isinya.


Bela menelan salivanya dengan wajah yang tenang, ditangannya sudah ada selembar cek. Berapapun nominalnya tidak akan membuat ayah mertua miskin dalam sekejap Bela.


Ayah mertuanya tersenyum sinis, tepat seperti dugaannya jika wanita yang sedang duduk dihadapannya itu hanya mengincar pundi-pundi rupiah.


Kilatan dimatanya terlihat jelas bukan menandakan kesenangan melainkan emosi saat ternyata apa yang difikirkannya salah.


Bela meremas cek itu hingga mengkerut kecil, kecil sekali dan sangat kecil.


"Ayah anggap apa diriku ini?"


"Apa?" nada tidak suka, "Kau jangan macam-macam denganku Arabela Danita! Terima cek itu dan pergilah sejauh mungkin sebelum orang-orangku membereskan ayah dan ibumu."


Bela tak bergeming dia percaya jika hatinya kini adalah milik Ray seutuhnya.


"Arabela Danita!" pria itu memanggil nama lengkapnya dengan tegas dan dingin.


Namun Bela masih tak bergeming.


Ayah berdiri lalu merapihkan jasnya, "Baiklah jangan menyalahkanku jika aku bertindak diluar batas. Kau tidak akan sanggup melawan kehendakku!" lalu pergi dengan langkahnya yang begitu angkuh.


Pembicaraan diruang tamu itu hanya mereka berdua yang mengetahuinya, Bela menghela nafas dalam sekuat mungkin dan mengulanginya lagi sampai 5x.

__ADS_1


***


Malam menyapa setelah selesai menyantap makan malam seperti biasa pria penuh gairah itu memeluk istrinya diatas ranjang.


Mendekapnya dengan erat dan dalam, "Hari ini aku sangat bahagia." ucap Ray berbisik ditelinga Bela.


"Benarkah?" balasnya sembari menggambar pola hati di dada bidang sang suami.


Ray mengangguk lalu mengecup keningnya, "Kau istriku dan hanya dirimu sayang.." sentuhan lembut ia berikan di bibir Bela, setiap sentuhan tanganya membuat Bela merinding geli ia tersenyum dan mulai mengikuti permainan sang suami.


Setelah selesai menikmati malam bersama Bela yang terlebih dahulu membersihkan dirinya kekamar mandi.


Ray yang langsung memakai piyama mandi sebelum mandipun dia terlihat sedang melangkah menuju balkon kamar untuk menikmati langit berbintang.


Beberapa menit berselang sebuah telefon terdengar di hp Bela. Hp yang sejak tadi tergeletak diatas meja lampu tidur segera saja Ray mendekat lalu meraihnya.


Ditatapnya layar ponsel itu alisnya berkedut saat melihat nomor baru yang mencoba melakukan panggilan telefon.


Ray menjawab telefon tersebut namun belum sempat dirinya membuka suara, di ujung telefonnya seorang pria tiba-tiba berkata hal yang mengejutkan, "Hallo nak kenapa kau tidak pernah mengirimi ayah dan ibumu uang lagi? Bukankah kau mengatakan jika pria yang menikah denganmu itu sangat kaya? Seorang pengusaha. Apakah kau lupa dengan janjimu kepada kami? Kau sendiri yang mengatakannya jika kau akan segera merampas semua harta kekayaannya lalu menceraikannya!"


Kedua telinga yang mendengarnya memanas, menggenggam hp itu dengan sangat erat. Bahkan urat-urat diwajahnya menonjol semua.


"Hallo.. hallo.. Bela?" terus memanggil karena tak ada jawaban. "Hallo.. ha -" tut.. tut.. tut..

__ADS_1


Ray mematikan telefonnya, dadanya seolah sedang dibakar api emosi, dia menoleh kearah pintu kamar mandi yang terbuka.


"Sayang, ada apa?"


Tangan Ray bergerak memperlihatkan hp milik Bela yang ada digenggaman tangannya.


Ray memutar rekaman suara telefon dari seseorang yang memanggil istrinya dengan sebutan 'Nak!'


Bela terkejut sangat terkejut saat mendengar isi rekamannya, dia melangkah cepat mendekati suaminya.


"Aku berani bersumpah demi nyawaku, aku tidak mengenali suara orang itu. Aku bahkan tidak memberitahukan kedua orangtuaku jika aku sudah menikah. Kumohon percayalah kepadaku sayang -"


Ray mengangkat tangannya setengah dada saat Bela mencoba untuk menyentuhnya, pria itu sudah sangat marah.


Bela memundurkan langkahnya kebelakang saat merasakan atmosfer yang tidak bersahabat.


"Sayang?" serunya dengan lirih lalu dirinya terlonjak kaget saat Ray membanting hpnya serta menginjaknya hingga rusak parah seperti itu.


Ray yang sangat marah itupun melemparkan tatapan mautnya dengan wajah dingin kepada Bela lalu pergi meninggalkannya sendirian didalam kamar.


Bela terkejut lagi saat Ray membanting pintu kamar itu dengan begitu kuatnya.


Dirinya duduk ditepi ranjang dan menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2