
Bela menemani ibunya pergi kepasar terdekat untuk belanja kebutuhan bulanan mereka, usai berbelanja dan pulang menuju kerumah dirnya melihat sebuah mobil terparkir ditepi jalan dekat dengan rumahnya.
Mobil siapa itu? Bela yang semakin penasaranpun segera mendekat.
"Bela kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa bu, em ibu duluan saja sepertinya Bela melupakan sesuatu."
"Oh ya sudah baiklah kalau begitu, ingat jangan terlau lama diluar.."
Bela mendekati mobil itu sebelum dirinya mencoba untuk mengetuk pintu kaca jendelanya, terdengar suara kuncian pintu mobil yang terbuka dari dalam.
Dirinya terjekut ternyata orang yang ada didalam mobil itu adalah Kris, dan di kursi belakangnya tak lain adalah Ray.
Kris turun dari mobil dan mengangguk hormat padanya, sementara Ray hanya duduk diam ditempatnya memasang wajah dingin seperti biasanya, "Selamat siang.. kami kemari untuk mengantarkan surat panggilan untuk anda."
"Surat panggilan, apa?"
"Nona bisa membacanya sendiri.. dan ini ada selembar cek untuk anda. Anggap saja jika semua yang anda lalui bersama tuan muda hal itu sama sekali tidak pernah terjadi."
Sambaran kilat di jantungnya, sesuatu yang tajam sedang menyakitinya dari ubun-ubun kepala hingga keujung kakinya.
Nafasnya terasa sesak, dia menitikan air matanya hingga pandangannya buram tubuhnya yang mendadak lemah sempoyongan membuatnya jatuh pingsan dipelukan Kris.
Melihat wanita yang akan menjadi mantan istrinya pingsan seperti itu lantas tak membuatnya iba. Keegoan di dalam dirinya tak bisa di taklukan dengan apapun, seseorang yang ia anggap telah mengkhianatinya tak akan mudah baginya untuk memaafkan.
***
Siuman dari pingsannya tadi Bela mendapati dirinya berada di klinik terdekat, mereka hanya mengantarkannya namun tidak menungguinya hingga siuman.
"Emh..." keluhnya merasa pusing sembari memegangi kepala, "Aku dimana?" menatap ke sekeliling ada manekin medis dan peralatan medis lainnya.
"Selamat siang nona anda sudah siuman, syukurlah.." ucap dokter pria itu sembari melepas jas kedokteran dan juga stetoskopnya.
"Kenapa aku bisa ada disini?"
__ADS_1
"Tadi seorang pria mengantarkan anda kemari, katanya anda ditemukan pingsan di tepi jalan."
Tepi jalan? 😥😥
"Bisakah kita melakukan pemeriksaan lebih intensif?" dokter Jun membuka sebuah kotak dan mengambil handscoon untuk ia pakai.
"Pemeriksaan intensif?"
"Iya seperti pemeriksaan urine. Apakah anda keberatan?"
Bela menggeleng karena menurutnya itu adalah pemeriksaan kesehatan yang paling umum.
Ditangan Bela sudah ada botol pot urine, dirinya masuk kedalam toilet untuk segera menjalani pemeriksaan yang dimaksud.
Setelah selesai dia memberikannya kepada petugas wanita yang tak lain adalah seorang analisis kesehatan di klinik pribadi milik dokter Jun.
Sekarang Bela sudah duduk dihadapan Jun dengan dibatasi oleh sebuah meja kerja, yang tak lama kemudian petugas lab datang untuk memberikan hasil tes urine milik Bela.
Jun tersenyum saat melihatnya lalu memberikan hasil tes itu kepada Bela, "Selamat ya anda hamil."
"Kenapa menangis?"
"Oh itu.." menghela nafas pelan, "Karena aku sangat bahagia dokter.."
"Kehamilan anda masih sangat muda dan rentan jadi tolong lebih berhati-hati lagi dan perbanyak istirahat. Ini saya berikan resep untuk anda.."
"Baik dok saya mengerti terimakasih.." dirinya keluar dari ruangan itu dengan membawa hasil tesnya, membulatkan tekad dan niatnya untuk mempertahan rumah tangganya.
Langkah pertama yang harus dilakukannya adalah menemui Ray lalu memberitahukan berita bahagia ini.
***
Gedung Beez Group..
Bela menyamar menjadi seorang pengantar bunga agar bisa masuk kedalam gedung mewah itu.
__ADS_1
Bagaimanapun juga sejak insiden kemarin sudah pasti Ray memperketat pengawasannya.
"Maaf nona anda mencari siapa?"
"Tuan Ray memesan bunga ini, dan memintaku untuk mengantarkannya langsung kepadanya, tanpa perantara.."
Resepsionis itu tersenyum tak berani membantah, "Baiklah.. silahkan anda boleh masuk."
Masuk kedalam lift lalu keluar lagi setelah sampai dilantai tujuannya, ruangan besar tepat didepannya ada meja asisten sekretaris namanya Meta. Dia wanita yang pernah beseteru kecil dengannya.
2 ruangan dihadapannya sebelah kanan adalah ruangan Kris, dan yang sebelah kiri adalah ruangan Ray.
Untung saja meja asisten itu kosong tak berpenghuni jadi Bela bisa menjalankan niatnya dengan mulus.
Mengetuk pintu ruangan Ray dan setelah dipersilahkan masuk Belapun langsung memutar handle pintunya.
"Siapa kau? Kenapa bisa masuk keruanganku.."
Bela diam dengan menutupi wajahnya menggunakan buket bunga mawar merah yang besar.
"Aku tanya siapa kau?" tandas Ray dengan kesal.
"Ini aku.."
Ray terkejut saat melihatnya, sudah ingin marah namun sebelum Bela diusir dengan cepat dirinya memberitahukan kabar baik itu.
"Aku hamil!" bicara lantang membuat Ray terkesiap.
Pria itu berkali-kali memperlihatkan kilatan tajam dimatanya, "Aku membawa buktinya jika kau tidak percaya." lanjut Bela berusaha meyakinkannya
"Pergi sekarang juga, bukankah kau menikah denganku hanya karena harta? Aku sudah memberikan cek dengan nominal fantastis. Gugurkan saja kandunganmu!" tanpa berperasaan dan tidak memikirkan perasaan Bela, pria itu melontarkan kalimat menohok padanya.
Buket mawar ditangannyapun terjatuh kelantai, senyum getir pahit membuatnya tak percaya, "Jadi kau ingin aku melupakan semua yang pernah kita lalui bersama?" ucapnya dengan bergetar menahan air mata.
"Jika kau sudah mengerti, pergilah nona Arabela Danita!"
__ADS_1
Dimana ada petir disiang bolong?