
Risa merasa kehadiran dirinya tak dibutuhkan hingga membuatnya duduk termenung disudut kamar.
Pandangannya tak beralih kesuara pintu yang terbuka, "Risa kenapa kau disini, ayo yang lain sudah menunggumu.." Meri menghampirinya mencoba untuk meraih tangan Risa.
"Jangan menyentuhku!"
Apa? "Risa kau kenapa?"
"Kenapa, hmph!" Risapun beranjak dari duduknya berhadapan dengan Meri, dia mendorong tubuhnya sekuat mungkin hingga terjerembab jatuh.
"Aw.." Risa apa yang terjadi padamu.. gumam Meri dengan khawatir, "Risa kau ini kenapa?" berusaha bangun menyeimbangkan diri.
"Aku yang seharusnya bertanya kenapa denganmu kenapa tuan Kris hanya melihatmu sekalipun dia tak pernah melihatku.. kenapa, kenapa?" tetiak Risa terisak-isak.
"Risa kau menyukainya?" hati meri bergetar, dadanya juga bergemuruh.
"Apa salahku sampai-sampai dia tak mau memandangku? Aku membencimu aku sangat membencimu!!" teriakan Risa terdengar hingga keluar kamar.
2 pelayan resort sebut saja namanya Lili dan Lulu yang kebetulan lewatpun segera menghampiri, saat pintu terbuka Risa melayangkan tangannya membuat beberapa bagian tubuh Meri tergores, "Risa apa yang kau lakukan hentikan.. kita bisa bicara baik-baikkan?"
__ADS_1
"Nona-nona apa yang kalian lakukan?" seru Lili berusaha melerai, "Lulu cepat cari orang!"
"Ba- ba- baik.."
Lulu segera berlari mencari siapapun yang bisa membantunya hingga tak sengaja dibelokan lorong kiri dia bertabrakan dengan Ray, Bela, dan juga Kris.
"Ma- ma- maafkan sa- saya tuan.. di- disana.." menunjuk kamar Meri dan Risa, Kris yang mengertipun langsung berlari kekamar itu.
"Pelayan tenanglah apa yang ingin kau sampaikan?" seru Bela.
"Jangan bicara padanya, dia gagap! Pergilah selesaikan pekerjaanmu!"
"Sayang apa yang dikatakannya?"
"Sudah jangan ikut campur ini semua juga terjadi karena ulahmu!" imbuh Ray dengan kesal.
Apa gara-gara aku? Masih tak sadar.
***
__ADS_1
Kris yang segera membuka pintu kamar melihat wanitanya ketakutan seperti itu, memang dia pria yang tak kenal lawan.
Pria itu mempercepat langkah kakinya meraih tangan Risa dan bayangkan sendiri apa yang terjadi selajutnya, sampai-sampai Meri berlutut merengkuh kaki Kris menangis memohon untuk tidak melenyapkan Risa.
"Berani sekali kau membelanya, tidak ada satupun yang boleh menyakitimu! Sekalipun kau orangnya!" cengkraman tangan dileher Risa yang hampir membuatnya kehabisan nafaspun terlepas saat Kris menghempaskan tubuhnya hingga membentur tembok.
Lili membawakan kotak P3K kepada Kris untuk mengobati luka ditubuh Meri, "Kau ini bodoh atau apa? Kenapa tidak melawan.. aku tidak bisa berada disisimu setiap saat.."
"Maafkan saya tuan.."
Tangan Kris masih bergerak lincah mengobati Meri, didalam kamar itu hanya ada mereka berdua saja. Soal Risa? Entahlah hanya Kris yang tahu nasibnya seperti apa. Dia hanya perlu menjentikkan jarinya saja jika ingin melenyapkan seseorang untuk sisanya dia akan menyerahkannya langsung kepada mandog seorang kaki tangan yang di didik langsung oleh Kris.
"Taun?" Meri merasa risih saat Kris menyentuh bagian dadanya. "Tuan apa -"
Kris membungkamnya dengan cium*an lembut dibibir cukup lama mereka melakukannya hingga keduanya ingin saling menikmati lebih dari sekedar cium*an belaka.
Mata dingin Kris dapat melihat keindahan setiap lekukan tubuh Meri yang sudah berada dibawahnya.
Jemari mereka saling meremas dengan lenguhan kecil yang terdengar dari mulut Meri. Pria itu menyesap bagian-bagian favoritenya.
__ADS_1
Siang itu menjadi saksi bisu kegiatan panas mereka berdua diatas ranjang, usai melewati kenikmatan yang seharusnya tidak mereka lakukan sebelum menikah Kris segera membersihkan tubuhnya. Membiarkan Meri tertidur dibalik selimut yang menutupi tubuh polosnya.