
Lantai tertinggi gedung Beez Group tuan muda Ray tengah sibuk menandatangani berkas yang baru saja dibawakan oleh Kris hingga akhirnya ia menghentikan aktifitasnya saat mendengar ketukan pintu.
Kris yang kebetulan ada disitupun segera membukakannya, "Faron, ada apa kenapa datang kemari?"
"Maaf tuan Kris saya datang kemari untuk mengantarkan bento yang dibuatkan oleh nona muda."
"Untuk tuan?"
"Benar tuan Kris."
Kris meraih box bento tersebut, "Baiklah terimakasih sudah mengantarkannya, kau boleh pergi." setelah menutup pintu dia meletakan box bentonya tepat dihadapan tuan muda Ray, "Tuan sudah waktunya istirahat untuk makan siang."
"Kau yang membuatnya?"
"Bukan, tetapi nona muda.. barusan Faron datang kemari untuk mengantarkannya.."
"Kau saja yang makan, aku tidak mau menyentuhnya."
"Tapi tuan ini -"
"Jika kau tidak mau, buang saja." telunjuknya mengarah ketong sampah.
"Saya akan memakannya.. em bolehkah saya memakannya disini?"
"Terserah kau saja."
Kris beranjak dari hadapannya dan duduk disofa, membuka box bento dan tersenyum saat melihatnya.
"Masakan nona sepertinya sangat lezat, bahkan nona muda membentuknya seperti sebuah karakter wajah seseorang.."
Telinga di sebrang sana berkedut, Karakter wajah? Apakah dia membuatnya?
"Sayang sekali jika makanan ini harus dibuang, oh apa ini?" Kris membuka box susun bagian bawahnya ternyata ada nasi kepal onigiri yang dibentuk dengan lucu, "Waaah nona muda sungguh lucu sekali, aku jadi sangat tidak tega untuk memakan nasi kepal ini."
Ray melirik kearah Kris dan menelan saliva, terlebih lagi aroma masakannya sungguh menggugah selera.
Rasa penasrannya begitu membuncah hingga memaksa kedua kakinya untuk melangkah dan ikut duduk disofa, duduk bersebrangan dengan sekretaris pribadinya.
Mulutnya mengecap kecil lirikan matanya sangat detail kearah bento diatas meja itu, Kris menyantapnya dengan lahap.
"Tuan muda anda ingin mencobanya?"
__ADS_1
"Kau tidak dengar tadi aku bilang apa? Aku tidak sudi menyentuhnya.."
"Oh iya benar maaf saya lupa tuan.."
Melihat Kris menyantap makanan dengan lahap seperti itu membuatnya latah dan juga ingin segera menyantapnya, berharap ada yang tersisa namun nihil harapannya sirna.
Box pertama sudah bersih, dan sekarang giling box kedua yang berisikan nasi kepal onigirinya yang mulai disantap.
"Tuan yakin tidak ingin?"
"Tidak, makan saja sepuasmu!"
Kedua kaki Ray nampak tidak bisa tenang, dirinya sedikit gelisah namun tetap mencoba menahan keinginannya untuk ikut mencicipi.
Sialan kau Kris, kenapa malah makan selahap itu?
"Tuan saya sudah kenyang.. masih ada 4 nasi kepal lagi."
"Lalu kau ingin aku makan sisamu begitu? Lancang sekali kau!"
"Maaf tuan bukan begitu, perut saya sakit tuan maukah anda menjaga sisa nasi kepalnya untuk saya nanti?"
Apa? 😯😳 Kau mau mati ya!
"Tuan?"
"Pergilah!" Seenaknya saja memerintah.
Krispun melenggang pergi meninggalkan ruangan tuan mudanya untuk waktu yang cukup lama.
Hampir 1 jam Kris tidak kembali, sementara Ray sudah sangat kelaparan, dia menoleh kesana kemari agar tidak tertangkap basah oleh siapapun lalu dengan cepat memakan nasi kepal yang tersisa itu dengan begitu lahap.
Kunyahan terakhir ia tersedak saat melihat Kris yang ternyata sudah berdiri diambang pintu menyaksikan kekonyolannya.
Buru-buru dia menuang air kedalam gelasnya dan langsung meminumnya saat itu juga hingga habis.
"Brengsek kau Kris."
Sekretaris yang ternyata punya humor tersembunyi itupun diam-diam sengaja melakukannya, ingin melihat reaksi tuan mudanya seperti apa.
"Tuan kemana nasi kepal saya? Kenapa tidak ada?"
__ADS_1
"Mana aku tahu! Kau yang meninggalkannya tadi."
"Masih ada 4, dan saya menitipkannya kepada tuan."
"Jadi kau menuduhku yang memakannya?"
"Lalu apa yang ada disudut bibir anda tuan?"
"Jangan sembarangan bi -" matanya membulat sempurna saat meraih butiran nasi disudut bibirnya, aaaa rasanya malu sekali, "Aku ada janji dengan seseorang!" tukasnya lalu pergi tergesa-gesa.
***
Mobil yang dikemudikan Ray sudah sampai di vila, melangkah tergesa mencari istrinya.
"Selamat datang tuan mu -"
"Ling dimana nona mudamu?"
"Ada dikamar tuan.."
Buru-buru Ray menapaki anak tangga untuk menemui istrinya, "Bela.."
Yang dipanggil ternyata sedang mengikat rambut, "Iya?" hatinya merasa senang saat Ray menyebut namanya. Apakah itu artinya pria itu sudah tidak marah lagi? "Kau sudah pulang?" mendekat meraih tas kerjanya.
"Buatkan aku makanan seperti yang tadi, aku masih lapar."
"Hm?" sedikit memiringkan wajahnya karena heran, menurut ingatannya dia membuatkan bento dengan porsi yang banyak.
"Kenapa kau diam, kau tidak dengar?"
"Iya aku dengar, ayo kita kedapur."
15 menit kemudian..
"Kenapa lama sekali? Aku mau rasa makanan dan nasi kepalnya sama seperti yang tadi."
"Iya tenang dan bersabarlah.. aku masih membuatkannya." Tumben sekali.
Setengah jam kemudian makanannyapun sudah jadi, menyantapnya selagi hangat memang tepat.
Bela meletakan nasi kepal tepat dihadapan Ray, saat dia mencoba untuk melangkah hendak duduk disebrang meja Ray malah menariknya hingga ia duduk diatas pangkuan Ray.
__ADS_1
"Diam dan suapi aku.."
Wajahnya merona merah, lalu mengangguk.. Mimpi apa semalam sehingga siang ini mereka terlihat romantis.