Menikahi Tuan Muda

Menikahi Tuan Muda
Sebuah Permainan


__ADS_3

2 hari kemudian mereka bertemu kembali disidang pertama, suasananya sangat sepi. Jangan lupa ini adalah sidang tertutup sebagaimana saat mereka menikah dulu.


Bela tak kuasa menahan tangisnya bagaimana mungkin semua momen indah dan manis yang dipenuhi cerita cinta hancur seketika, sebelum hakim mengetuk palu Bela berdiri dari kursinya dan memberitahukan mereka jika saat ini dirinya sedang hamil. Bagaimana mungkin wanita hamil bisa diperlakukan seperti ini? Sungguh semua ini tidak adil untuknya.


"Bukankah yang mulia hakim juga seorang wanita, bagaimana mungkin anda bisa bertindak tidak adil seperti ini?" tangannya terkepal erat dengan sepasang binar indah yang menahan tangisnya.


Suaranya terdengar sengau dengan hidungnya yang memerah, "Saudari Bela harap tenang dan kembali ketempat dudukmu atau kami akan mengusirmu dari ruangan ini." tandas seorang hakim lainnya.


"Menurut hukum yang berlaku di negara ini, seorang istri yang sedang hamil maka pengadilan tidak bisa mengabulkan permohonan pemohon untuk mengabulkan permohonan cerai.. setelah anak kalian lahir maka sidang akan kembali dilanjutkan! Dan selama masa kehamilan kalian akan tetap tinggal diatap yang sama." tuk tuk tuk.. hakim mengetuk palu dengan lantang, tegas menyatakan jika untuk saat ini mereka tidak akan bercerai sebelum anak mereka lahir.


Bela menghela nafas lega setidaknya masih ada harapan untuk dirinya berjuang sampai hari kelahiran sang buah hati.


Dipersidangan hanya diwakili Daren, hal yang terjadi di pengadilan barusan telah sampai ditelinga Ray.


***


Brak!


Sesuatu yang keras mengenai kepala Daren setelah dilemparkan sekuat itu oleh Ray hingga berdarah.

__ADS_1


"Bukankah kau seorang pengacara profesional, kenapa hal yang seperti ini saja tidak bisa kau selesaikan? KENAPA?!" teriaknya membentak.


Daren tak berani menatap mata pria itu, dia membungkukan tubuhnya sejenak dengan permohonan maaf yang dalam.


"Keluar.." Daren masih setia ditempat, dan itu membuatnya sangat kesal. "Ku bilang KELUAR!!" sekali lagi dia berteriak.


Tak lama kemudian Kris datang dengan membawa berkas yang tersusun rapih didalam map merah.


Meletakannya diatas meja lalu menatap Daren dengan menyedihkan. "Pergi dan obati lukamu itu tuan Daren!" seru Kris dengan lantang memerintah.


Daren mengangguk lalu beranjak untuk meraih tas kerjanya yang ia taruh disofa lalu mengangguk lagi kepada kedua orang penting itu, "Maafkan saya tuan.. maaf.."


"Aaaah..." duduk dengan menghempaskan tubuhnya sendiri di kursinya. Mengusap wajahnya dengan gusar.


Kris mengangguk hormat lalu meletakan map merahnya diatas meja Ray.


"Apa yang kau bawa?"


"Sesuatu yang menarik!"

__ADS_1


"Apa!"


Kris hanya diam tak menjawab, benar-benar watak yang menyebalkan sekali. Wanita mana yang bisa tahan hidup denganmu Kris, ada yang mau?


Dengan malas Ray meraihnya membuka map tersebut dilihatnya foto mobil sang ayah, sejauh ini tidak ada yang aneh.


Lembar keduapun terbuka, masih memperlihatkan foto mobil yang sama namun dengan nomor plat mobil yang lebih jelas.


Dibukanya lagi hingga lembar ketiga, sebuah foto yang membuatnya terkejut pasti saat melihat foto mobil yang sama untuk ketiga kalinya, mobil itu terparkir di area parkir vilanya.


Sosok pria yang keluar dari mobilpun membuatnya begitu emosi. "Pria sialan! Aku sudah memperingatkanmu!"


Hingga akhirnya Ray menemukan sebuah falsh disk di dalam amplop kecil yang menjadi bagian dari map tersebut. "Apa ini?"


"Tuan bisa melihatnya sendiri."


Tuan muda benar-benar dibuat penasaran olehnya langsung saja Ray mencucukan flash disk itu ke port usb.


Sebuah video dengan durasi singkat sekitar 2 menit, matanya membulat sempurna saat tahu jika ternyata ayahnyalah yang memberikan Bela selembar cek, dengan tangan yang terkepal erat dan emosi yang sudah tidak bisa lagi dikontrol.. brak! Laptop dihadapannypun dia banting hingga LCDnya hancur seperti itu.

__ADS_1


"Bela... Bela!" Ray meraih jas yang tergantung rapih di stand hanger kemudian melangkah secepat mungkin untuk meneumi istri yang hampir saja diceraikannya.


__ADS_2