
Sampailah Ray dikantor dengan Kris yang mengikuti langkah kakinya dari belakang.
Perwakilan perusahaan T sudah menunggu kedatangannya di ruang tunggu lantai teratas Beez Group.
"Selamat pagi tuan.."
Ray mengangguk seperti biasanya, lalu segera masuk kedalam ruangannya.
"Silahkan masuk tuan.." seru Kris sembari menggerakan tangannya.
Ray menyetujui kerjasamanya kali ini dengan perusahaan T tentu saja semua itu tidak gratis, kontrak bersyarat dengan jaminan jika perusahaan T akan meneriman Bela sebagai salah 1 staf mereka.
Keduanya mencapai kesepakatan, setelah menandatanganinya Ray segera pergi meninggalkan mereka berdua.
***
Mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang sembari tersenyum-senyum sendiri. Dan sesekali Ray menatap spion kecil diatas kemudinya merapihkan rambutnya wah tuan muda jangan bilang jika dirimu sekarang sedang kasmaran ðŸ¤
Dirinyapun sampai di tepi jalan yang tak jauh dari rumah Bela.
Turun dari mobil sembari merapihkan jasnya, senang bukan kepalang Ray mempercepat langkahnya dengan tidak sabaran. Lalu mengetuk pintu rumah itu.
Ibu mertua yang datang untuk membukakan pintu, "Siapa?" diam terpukau dengan ketampanan Ray.. "Kau kan bosnya anakku. Kenapa datang kemari? Oh tunggu-tunggu apakah anakku membuat masalah dikantormu?" mulai panik.
"Tidak bukan begitu, karena hari ini dirinya tidak masuk jadi aku datang kemari untuk mencarinya."
Ibu mengelus dada sembari mengehela nafas. "Jika dia tidak pergi kekantor, lalu pergi kemana anak itu?" meraih hp dari saku celananya dan menelefon Bela. Setelah mengetahui posisinya tentu saja ibu segera memberitahukannya kepada Ray.
__ADS_1
***
Sebuah coffe ditepi jalan yang tidak ramai, dari dalam mobil Ray masih memperhatikan tempat itu dengan seksama.
"Tidak ramai, sedang apa dia ditempat seperti ini?"
Karena penasaran dirinyapun segera turun memakai kacamata hitamnya dan duduk di kursi sudut sembari membaca sebuah majalah basket yang memang sudah disediakan oleh pemilik coffe tersebut.
Ruangan dibagian itu tidak memiliki banyak pengunjung, hanya ada dia dan seorang pria paruh baya yang duduk tak jauh darinya.
Pandangannya terus mengamati gerak-gerik para pelayan dan pandangannyapun terhenti saat dirinya mendapati Bela sedang memakai celemek serta pakaian khas para pelayan.
"Kau bekerja ditempat seperti ini?" tangannya terkepal dengan geram apalagi saat melihat seorang pria paruh baya yang mencoba mengganggunya.
"Tuan tolong lepaskan tangan saya." seru Bela memohon dengan wajah iba. Pergelangan tangannya sakit hingga memerah.
Deg!
Kalimat itu terdengar jelas dikedua telinga Ray, tatapannya menajam saat melihat pria itu dengan sengaja mencengkram kuat rahang wanitanya.
"Aku bisa memberimu lebih dari ini!"
Bela terkejut saat pria itu mencoba mencium bibirnya, sontak saja Bela mendorongnya dengan kuat hingga terjerembab jatuh.
"Sialan kau!" pekiknya berteriak, sebelum sempat menyentuh Bela, tak jauh dari mereka Ray sedang berjalan mendekat.
Botol minuman ditangannyapun ia pukulkan dikepala pria tersebut, membuatnya memekik kesakitan dan berdarah.
__ADS_1
"Aaarrggghh!! Sialan siapa kau hah berani sekali mencari mati denganku?!" bicara tanpa melihat.
Brak!
"Uuhhuukk!!" pria itu terbatuk saat Ray menendang perutnya dengan kuat.
Lalu menarik Bela kedalam pelukannya, wanita itu terlihat ketakutan. Membelai rambut Bela sembari menatap tajam kepada pria yang tersungkur dibawah kakinya, "Kau sudah bosan hidup?"
Mata dan telinganya mengembang sempurna saat mendengar suara yang tak asing lagi baginya.
"Tu- tuan Ra- Raymond?" ucapnya dengan nada bergetar.
Bela yang memeluk suaminya dengan erat itupun membuat Ray melepaskan pria tersebut, "Pergi dan jangan sampai aku melihatmu lagi!"
***
Ray yang masih emosi itupun lekas menarik Bela keluar dari dalam coffe, "Lepaskan kau mau membawaku kemana?" seru Bela berusaha melepaskan cengkraman tangannya.
"Siapa yang menyuruhmu bekerja ditempat seperti ini? Siapa! Jika kau butuh uang kenapa tidak datang saja kepadaku dan memintanya, aku punya banyak uang dan -"
Plak!
Ray terdiam saat Bela menamparnya, dia kembali terkejut saat melihat wanitanya meneteskan air mata.
"Bela aku -"
"Cukup!" padahal dirinya sudah tidak mau menangis lagi tapi kenapa malah kebalikannya?
__ADS_1