
“Audrey, sebenarnya--”
“Sudahlah kak, mau bagaimanapun kalian menjelaskannya. Aku melihatnya sendiri, Ayahanda ingin membunuhku.” Audrey berdiri dia menatap ketiga keluarganya bergantian, tatapan kecewa terpancar jelas di mata gadis itu.
“Ayahanda, Kak Mike. Kak Caesar, jika kalian membenciku tidak apa-apa. Tapi tolong jangan membunuhku.” Audrey merasa sangat sesak, di kehidupan pertama. Dia mati karena menghindari pertunangan, di kehidupan kedua. Dia bahkan ingin dibunuh oleh keluarganya sendiri.
“Audrey, kau salah paham. Ka--”
“Keluar, kalian semua keluar dari kamarku!”
“Audre--”
“Kalian keluar!!”
Grand Duke dan kedua putranya saling melihat, mereka menghela napas secara bersamaan dan memutuskan untuk keluar agar Audrey menenangkan diri terlebih dahulu.
Audrey terduduk di tepi kasur, dia mengusap wajahnya kasar. 'Sebegitu bencinya kah, kalian? Lalu kenapa kalian tidak membunuhku ketika aku tau? Kenapa kalian malah lebih memilih menjelaskannya??'
Audrey memijat pelipisnya pusing.
“Ada apa, Rey?”
Audrey berdecak. “Namaku Audrey, bukan Rey. Aku juga bukan pria, paham!?”
Seseorang berjalan masuk dari balkon, pria berjubah yang dikenali Audrey.
“Baik, baik. Audrey yang cantik, pintar dan baik.”
'Dia Er, sahabat Audrey sejak kecil. Hanya dia yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan Audrey,' batin Audrey.
“Ada apa, Audrey? Kau sepertinya baru saja menangis.”
“Heh, menangis? Aku tidak secengeng itu. Mengerti?”
“Tidak,” Er duduk di samping Audrey dengan jubah yang masih menutupi wajahnya.
“Apa kau tidak bosan dan gerah menggunakan jubah itu?” tanya Audrey penasaran.
“Tidak, kan ada kau yang bisa mendinginkanku.”
“Kau itu memuji atau menghinaku?” Audrey menggulung lengan bajunya, bersiap untuk memukul Er jika jawabannya tidak sesuai yang dia pikirkan.
“Aku memujimu tau!” kesal Er, Audrey mengangkat bahunya acuh. Dia menghela napas dan berbaring.
“Ada apa? Kau terlihat begitu tertekan.”
Audrey menoleh ke arah Er yang menatap ke arahnya, dia menghela napas. “Aku tidak tau, entah kenapa. Keluargaku ingin menghabisiku tanpa sebab.”
“A-apa? Menghabisimu, tapi kenapa?” tanya Er terbata-bata.
__ADS_1
“Tidak tau, aku pernah sekali tanpa sengaja mendengar pembicaraan kak Damian dan Kak Caesar.” Audrey menghela napas, Er terlihat gelagapan. Entah apa yang terjadi dengan pria itu.
“Ada apa, Er? Kau terlihat gelagapan atau.. ketakutan??”
“Ah, t-tidak. Aku baik-baik saja.”
Audrey ber-oh, dia bangun dan menghela napas. “Jika keluargaku juga mengincar nyawaku, ada kemungkinan aku akan mati kapanpun. Jadi Er, aku ingin kau mengabulkan satu permintaan terakhirku.”
“A-apa maksudmu, Audrey?? Kenapa kau mengucapkan hal itu? K-kau seperti akan meninggalkanku selamanya.”
Audrey menatapnya dengan senyuman tipis.
“Aku memang mengucapkan perpisahan, aku tidak tau kapan aku mati. Bisa hari ini, besok, atau mungkin dewa masih memberiku kesempatan hidup hingga setahun.”
Audrey diam kaku, tanpa disangka-sangka. Er malah memeluknya dengan erat. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Jangan mengatakan hal itu lagi, aku tidak ingin kehilangan kau. Audrey.”
Audrey dengan kaku mengangkat tangannya dan mengusap punggung Er. “M-maaf, aku tidak akan mengatakan itu lagi.”
'Ada yang aneh dengan diriku! Kenapa jantungku berdetak sangat cepat?? Astaga, apa aku sakit jantung??' batin Audrey terkejut.
“Audrey.”
Audrey tersandar dari lamunannya. “Hm, kenapa?”
Er melepas pelukannya. “Audrey, apa kau.. ingin tetap menjadi temanku?”
“Dengar Er, kau itu adalah sahabatku selamanya. Tidak akan ada yang menggantikan posisimu di hatiku!”
“Sebagai teman?” lanjut Er dengan nada getir, Audrey mengangguk dengan wajah bingung.
“Tentu saja, kau pikir apa?”
Er menghela napas. “Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa.”
“Apa kau cemburu??” tanya Audrey dengan senyum jail, Er membuang muka.
“U-untuk apa? Aku tidak menyukaimu!”
“Eh, benarkah?? Erku,” tekan Audrey di akhir kalimatnya, dia terkekeh kecil melihat Er yang terlihat tegang.
“K-kau!!”
“Ahahaha, aku hanya bercanda saja. Jangan dimasukkan ke hati.” Audrey tertawa terbahak-bahak, beban di hatinya seolah menghilang.
Er berdecih. “Dasar menyebalkan!”
“Maaf, maaf. Aku janji tidak mengulanginya lagi,” kata Audrey setelah tawanya mereda, dia menghapus setitik air dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Er berdecak, dia melipat tangannya di depan dada sambil membuang muka. “Tidak akan! Aku sedang marah padamu hari ini, selamat tinggal!”
Audrey berkedip bingung. “Katanya selamat tinggal, tapi kau tidak bergerak dari tempatmu sama sekali.”
“Kau ingin aku pergi?? Baik, aku pergi sekarang. Bay!” Er berdiri dan berjalan pergi, namun jubahnya ditarik oleh Audrey sehingga dia tak bisa kemana-mana.
“Lepaskan jubahku!” kesal Er.
“Kembali atau aku akan menarik jubahmu!”
Er mendengus, dia dengan terpaksa kembali duduk di samping Audrey. Pria itu membelakanginya dengan tangan yang dilipat di depan dada.
“Apa kau marah?” tanya Audrey, namun Er sama sekali tak menjawab pertanyaannya.
“Er, apa kau marah denganku?” Audrey memasang wajah memelas, namun Er masih tak memperdulikannya sama sekali.
“Er!!” Audrey mengguncang tubuh Er hingga pria itu berbalik dan menatapnya dengan kesal.
“Kau seharusnya membujukku! Bukannya malah membuatku semakin kesal!!”
“Ya, maaf. Aku kan tidak tau bagaimana cara membujukmu.” Audrey menggaruk tengkuknya dengan senyum konyol.
“Kau mau tau cara membujukku?” Er menyinggung senyum misterius.
Audrey mengangguk.
“Cium ak-- arg.” Er langsung meringis kesakitan karena Audrey yang menyentil dahinya.
“Mulutmu ingin kurebok apa kujahit??”
Er langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil menggeleng cepat. “Aku hanya bercanda, Audrey. Kenapa kau sampai ingin merobek mulutku sih? Kau itu kejam, sangat.. sangat kejam!”
Audrey memutar bola matanya. “Pergi sana, kau membuatku tambah pusing.”
“Tap--”
“Pergi, Er!”
Er menghela napas, dia berdiri dan dengan terpaksa berjalan ke balkon sambil sesekali melirik Audrey yang tak memandangnya sama sekali.
Audrey berbaring di atas kasur, dia berguling-guling untuk menghilangkan rasa bosannya namun percuma.
Audrey bangun, dia menatap sekeliling kamarnya dengan teliti. Dia menghela napas pelan dan berdiri, Audrey berjalan ke salah satu meja dan membuka lacinya.
Dia mengeluarkan sebuah buku tebal dengan tulisan asing, Audrey duduk di tepi kasurnya dan membuka buku itu.
'Apa ini buku harian Audrey?'
'Hari yang kutunggu-tunggu akan tiba, hari debuntanteku. Dimana setelah hari itu, aku bisa masuk ke akademi seperti kak Mike. Aku sangat menantikan hari itu, namun.. rasa sakitnya terus menggerogoti tubuhku. Aku takut, suatu saat nanti. Aku tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya dan melukai keluargaku sendiri, mereka setiap hari selalu memberikan sesuatu di makananku. Aku sadar akan hal itu, tapi aku selalu percaya. Mereka tidak akan melakukan hal yang akan merugikanku, karena mereka menyanyangiku lebih dari apapun. Tapi, sepertinya yang kupikirkan selama ini salah. Obat yang selalu dicampur dengan makananku malah membuat rasa sakitnya semakin besar, aku merasa seperti dikuliti hidup-hidup setelah memakan obat itu.'
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ