
“Misimu hari ini ditunda.”
Audrey menatapnya dengan kening berkerut, dia menghela napas. “Ada apa? Tidak biasanya Anda ingin membatalkan misi.”
Pria itu menghela napas. “Kali ini, kau dan yang lainnya akan mendapatkan misi penting.” Dia memperhatikan Audrey yang terlihat acuh tak acuh. “Apa kau mewarnai rambutmu?”
Audrey menatap rambutnya. “Apa kelihatan?”
“Ya, kenapa kau mengubah warna rambutmu lagi?”
Audrey meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya. “Ini penyamaran, aku akan ketahuan sebagai pembunuh jika mereka melihat warna rambutku yang sebenarnya.”
“Jadi, kau ingin kembali teringat dengan masa lalumu?”
Audrey berdecak. “Aku juga tidak ingin melakukannya, tapi tidak ada warna lain yang cocok. Ngomong-omong, apa rambut hitam cocok untukku? Sebelum aku kemari, aku sudah mengubah warna rambutku menjadi Pirang. Jadi mungkin akan terlihat sedikit aneh, ngomong-omong soal misi. Misi apa yang akan aku jalankan bersama yang lainnya?”
“Kembalilah belajar di akademi.”
“Apa?” tanya Audrey dengan kening berkerut. “Kembali belajar, kau tau kan. Mike belum selesai belajar, jika aku kembali. Aku akan langsung ketahuan!”
Pria itu bersandar. “Itu sebabnya, hapus pewarna rambutmu dan biarkan orang-orang melihat rambut pirangnya. Dengan begitu, kau akan sulit untuk dikenali siapapun.”
Audrey berdecak. “Hm, baiklah. Aku akan ke sana, dengan siapa aku akan pergi?”
“Kau akan pergi dengan Erika, Sato, Kiara, Arden, Grace dan aku.”
“Apa? Tapi kenapa ketua juga ikut? Apa misi ini sepenting itu sehingga ketua ikut serta.”
“Ya, ini adalah misi tentang raja iblis.”
Ekspresi wajah Audrey berubah datar. “Apa dia akan menyerang akademi?”
“Ya, dia menginginkan pohon sihir yang hanya menumbuhkan satu buah dan setahun sekali.”
Audrey memegang dagunya berpikir, dia melirik Pria di depannya. “Apa.. Veronika juga akan ada?”
Pria itu mengerutkan keningnya. “Kau tidak tau? Veronika juga bersekolah di akademi.”
Audrey menyeringai. “Baik, aku akan pergi. Tapi dengan satu syarat, aku ingin Veronika diserahkan padaku.”
Pria itu menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat. “Kenapa? Kenapa kau sangat ingin dengan Veronika.”
Audrey tersenyum masam. “Karena aku memiliki janji, janji dengan sahabatku. Dia mati tanpa bisa melihat keadilan, dan penyebab dari semua itu adalah.. Veronika.”
Pria itu mengetuk-ngetuk dagunya. “Baiklah, aku akan memberitahu para profesor terlebih dahulu. Setelah mereka setuju, maka kau boleh mengambil Veronika. Apapun yang mau kau lakukan, lakukan saja.”
Audrey tersenyum manis. “Terima kasih, Ketua.”
__ADS_1
“Mulai sekarang, panggil aku Neon. Buat dirimu terbiasa, karena akan gawat jika kau memanggilku ketua di depan orang lain.”
“Baik, kalau begitu. Aku akan pergi.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Black, White. Kalian berdua tetap di sini, aku ingin membawa kalian ke akademi. Tapi itu tidak mungkin, jadi tinggallah di sini dan jaga guild ini,” kata Audrey sambil merapikan barang-barangnya, dia mengangkat tas yang dibawanya dan menatap kedua hewan kecil itu.
Suara ketukan pintu membuat senyum di wajah Audrey mengembang. “Tunggu sebentar.” Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. “Erika.”
Gadis imut tersenyum manis. “Ayo, ketua sudah menunggu kita.”
Audrey mengangguk, dia menggandeng tangan Erika dan berjalan ke halaman.
“Hay, Audrey. Erika,” sapa teman-teman yang lain.
“Selamat pagi.”
“Sudah siap?” tanya Neon, Audrey mengangguk. “Ayo kita berangkat, Erika, Sato, Kiara dan Audrey. Kalian baik kereta kuda, kami bertiga akan menaiki kuda ke Akademi. Ingat, jaga identitas kalian.”
“Mengerti.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Audrey, kau pernah bersekolah di akademi kan? Apa banyak pria tampan di sana?”
“Ah, begitu ya. Tapi aku dengar, ada pria tampan bernama Eryk yang menyandang gelar Archduke di usia muda. Apa itu benar?”
“Ya, memang benar. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali, semoga dia tidak mengenaliku.” Audrey memainkan rambut pirang panjangnya.
“Pertanyaan terakhir, apa kau memiliki pria yang kau sukai?”
Audrey terdiam, dia menghela napas dan membaca bukunya kembali. “Entahlah.”
“Wah, apa kau benar-benar menyukai seseorang?” Sato menyenggol bahu Audrey pelan, gadis itu berdesah frustasi.
“Jangan menganggu, Sato. Aku ingin membaca buku.”
“Nona-nona, ayo turun. Kita sudah sampai,” kata seorang pria berkacamata yang membuka tirai kereta kuda, Audrey menutup bukunya dan turun.
“Di mana Neon dan Grace?”
“Mereka sedang pergi entah kemana, mungkin menemui seseorang.”
Audrey hanya ber-ohh, dia melihat teman-temannya yang lain. “Ingat, jangan memanggilku Audrey. Tapi panggil Chelsea.”
“Ok!”
__ADS_1
“Ayo kita berangkat.” Neon dan Grace berjalan ke arah mereka.
“Ya,” jawab mereka serempak, ketujuh orang itu berjalan masuk secara bersamaan sehingga mencuri perhatian para siswa-siswi yang berkeliaran di halaman akademi.
“Lihat itu, apa mereka semua murid baru?”
“Wah, pria berambut biru itu tampan sekali!”
“Lihat gadis berambut cokelat itu, wajahnya sangat manis.”
“Gadis berambut pirang itu sangat cantik, meski wajahnya datar. Itu tidak mengurangi kecantikannya.”
Pujian demi pujian terus melayang ke arah kejutuh orang itu. Audrey, Neon, dan Arden berwajah datar sementara Grace dan yang lainnya tersenyum ke arah para siswa-siswi yang menatap penasaran. Apalagi Grace dan Kiara yang melambaikan tangannya ke banyak orang.
Audrey menghela napas. “Sejak kapan kita punya teman seperti mereka,” gumam Audrey, Neon yang berdiri di sampingnya ikut malu melihat tingkah teman-temannya itu.
“Mereka bukan temanku,” jawab Neon seenaknya.
“Selamat datang, semuanya. Bagaimana dengan perjalanan kalian kemari?”
“Sangat menyenangkan, Profesor. Kami merasa beruntung bisa bersekolah di sini, benar kan. A--” Ucapan Kiara langsung terpotong saat Audrey menatapnya dingin. “M-maksudku Chelsea.”
“Profesor, di mana kamar kami?” tanya Audrey to the point.
“Mari ikuti aku untuk berkeliling dulu.”
“Tidak perlu, kami akan berkeliling sendiri. Tunjukkan kamar kami sekarang,” kata Neon, Profesor menghela napas.
“Ikuti aku.” Dia berbalik badan dan berjalan masuk ke akademi.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Silahkan, ini kamar kalian.”
Neon hanya berdehem sebagai jawaban, Audrey menatap linglung asrama di depannya. Dia menoleh ke arah Profesor. “Bukankah seharusnya hanya ada dua kasur di satu asrama, tapi di sini ada.. tujuh?”
“Ah, soal itu. Neon yang meminta pihak akademi untuk menyiapkan tujuh kasur untuk kalian semua.”
Audrey menoleh ke arah Neon. “Kenapa kau melakukannya?” bisik Audrey.
“Ini agar lebih mudah dalam menyusun strategi.” Neon melirik Profesor, dia mengangguk kecil. Prosesor tersenyum.
“Kalian semua bisa istirahat hari ini, pelajaran kalian akan dimulai besok pagi.” Profesor berjalan pergi, Audrey berdecak. Dia berjalan masuk dan meletakkan tasnya di salah satu kasur.
“Kalian pilihlah kasur kalian, aku ingin ke kafetaria untuk membeli makanan.”
“Aku ingin menitip!” Sato segera mengangkat sebelah tangannya.
__ADS_1