Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 45. Abella


__ADS_3

“Semuanya, perkenalkan. Namaku Neon, dan dia adalah sepupuku. Chelsea,” kata Neon dengan senyum ramah yang tentu membuat para gadis berteriak-teriak.


Audrey berdecak, dia mendekat ke arah Neon dan berbisik. “Jangan sok lebai, kau membuatku ikut mencolok.”


“Iya, iya. Maafkan aku.”


Audrey kembali berdecak, tatapannya mengarah ke seisi kelas. Dia menganalisis setiap orang yang ada di kelas itu dan mengingatnya.


“Khem, Chelsea dan Neon. Silahkan duduk di tempat kosong.”


Audrey menghela napas, dia berjalan ke kursi kosong dan mendudukkan dirinya.


“Hay, salam kenal. Namaku Mia, siapa namamu?” tanya Mia dengan wajah berseri-seri.


'Mia benar-benar tidak mengenaliku, jadi seharusnya penyamaranku ini tidak akan terbongkar.' Audrey tersenyum tipis. “Salam kenal, aku Chelsea. Mohon bantuannya untuk kedepannya.”


“Ya! Cari aku jika kau butuh sesuatu.”


“Oh, iya. Mia, aku dengar, di sini ada yang bernama Mike. Dia di mana?” tanya Audrey, dia sempat heran karena dirinya yang masuk ke kelas A. Audrey kini menduga-duga, pasti Neon yang menyogok profesor.


“Ah, Mike ya.” Mia menunduk dengan senyum kecut. “Entahlah, aku sudah lama tidak berbicara dengannya. Dia seolah, mengindariku.”


Audrey mengumpat dalam hati. 'Apaan ini?? Aku kan menyuruhnya untuk berbicara dengan Mia, kenapa dia malah menjauh? Dasar bodoh!'


“Oh iya, apa kau ingin menemaniku berkunjung ke makam nenekku?”


Audrey terdiam, dia menatap Mia yang tersenyum manis meski tersirat kesedihan di matanya. Audrey tersenyum. “Baik, aku pasti akan menemanimu.”


“Khem, apa kalian sudah selesai berbicara?” tanya Neon yang tiba-tiba muncul di samping Audrey dan membuat percakapan kedua gadis itu terganggu.


“Ada apa?” tanya Audrey sewot.


“Aku ingin mengajakmu ke kafetaria, tidak apa kan kalau aku menculik Chelsea sebentar.”


Mia terkekeh geli. “Silahkan, aku juga ingin menemui tunanganku.”


Audrey yang hendak berjalan pergi menjadi terhenti. 'Jadi Mia memang memiliki tunangan?'


“Ayo!” Neon menarik tangan Audrey namun gadis itu tak bergerak sama sekali, dia justru berbalik dan menatap Mia.


“Mia, bisa kita bicara sebentar?”

__ADS_1


“Eh, ada masalah apa?”


“Aku ingin membicarakan sesuatu, ayo ke kafetaria agar pembicara kita lebih nyaman.”


“Oh, ok.” Mia berdiri dan mengikuti Audrey yang berjalan ke kafetaria lebih dulu.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Mia berkedip polos. “Ada apa?”


Audrey menghela napas. “Apa kau tau kalau Mike menyukaimu.”


“A-apa?” Wajah Mia langsung bersemu merah.


“Mike menyukaimu, apa kau tau itu?”


Mia menunduk. “A-aku.. tau.”


“Lalu, kenapa kau tidak membatalkan pertunanganmu?” tanya Audrey sambil bersandar dan melipat tangannya di depan dada.


“A-aku tidak bisa, ini permintaan orang tuaku. Meskipun aku menolak, mereka akan tetap memaksaku.”


Audrey menghela napas, dia mengeluarkan sesuatu dari saku Almamaternya. Audrey melirik sekitar dan meletakkannya di meja.


“Ambil benda ini dan tunjukkan pada orang tuamu, ah sekalian dengan surat ini juga. Ayahmu dan ibuku dulu berteman baik,” kata Audrey berbohong. 'Aku saja tidak mengenal ayahnya, tapi seharusnya ini cukup jika dia tidak tau siapa saja teman ayahnya.'


Mia mengambil benda dan surat itu. “Eum, aku akan memberikannya. Tapi kenapa kau ingin membantuku? Kenapa kau juga mengetahui hal itu. hanya Mike, aku, dan Audrey yang tau tentang hal itu.”


Audrey menggaruk pipinya. “Ya, karena aku--”


“Silahkan, ini pesanan Nona-nona.” Neon meletakkan dua nampan di meja, dia duduk di samping Audrey dan mengambil mangkuk bakso dan meletakkannya di depannya. “Kalian membicarakan apa?”


“Tidak penting.” Audrey melirik arlojinya. “Sudah waktunya, ayo kita pergi. Mereka pasti sudah menunggu.” Audrey berdiri dan menarik Neon yang hendak menyantap baksonya.


“Tapi.. makananku.”


“Lupakan saja, ayo cepat!”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Di sini letak pohon sihir, dan dugaan. Para pasukan iblis akan menyerang daerah ini.” Profesor membentuk lingkaran tempat yang dimaksud, mereka semua berkumpul di ruangan profesor.

__ADS_1


“Apa informasinya sudah pasti?”


“Iya, informan kami mengatakan pasukan iblis hanya menyerang daerah ini. Ini adalah daerah terdekat dari pohon sihir itu, jadi kami harap. Kalian bisa membantu kami untuk menghalangi para iblis untuk merebut pohon sihir.”


Audrey mengetuk-ngetuk meja malas, tatapannya tak lepas dari peta di atas meja. “Jaga area ini, aku yakin mereka akan berpencar dan mengepung pohon sihir itu,” kata Audrey tiba-tiba.


“Kenapa kau sangat yakin?”


“Strategi, jika kita berkumpul di satu tempat dan para iblis menyerang dari segala sisi. Itu akan membuat formasi yang kita buat hancur dan kita akan kelimpungan dan membuat fokus kita pada pohon sihir terganggu, jadi alangkah baiknya jika kita membuat murid-murid akademi mengelilingi pohon sihir.” Audrey menggunakan tongkat untuk membuat lingkaran sesuai yang dia katakan dan pohon sihir sebagai titiknya.


“Tapi akan lebih baik jika kita membuat rencana B, jika rencana A gagal. Kita bisa meminta murid-murid untuk membentuk formasi khusus dan melaksanakan rencana B,” lanjut Audrey, dia bersandar dan terlihat kelelahan. “Aku kelelahan menjelaskannya, kalian pikirkan saja rencana selanjutnya.” Audrey berdiri dan berjalan keluar.


Neon menghela napas, dia menoleh ke arah Profesor. “Maaf, Profesor. Suasana hatinya akhir-akhir ini sedang buruk.”


“Ya, tidak masalah. Lagipula, penjelasan Chelsea memang ada benarnya, lebih baik kita menyiapkan rencana B untuk siaga. Begini saja, kelas S dan kelas A+ akan bersiaga untuk rencana B, jika terjadi sesuatu. Mereka akan langsung turun tangan dan membantu.”


Neon mengetuk-ngetuk dagunya sambil melihat peta. “Anda sampai membuat kelas A+ dan S turun tangan? Sepertinya misi kali ini memang sangat penting.”


“Benar, misi kalian kali ini bahkan lebih penting dari nyawa.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Desiran angin malam membuat Audrey memeluk badannya, dia yang tengah duduk di dahan pohon melihat sekitaran sambil memakan apel. Mata hijaunya menatap sebuah bunga dengan senyuman manis.


“Aku sudah tidak sabar, aku benar-benar ingin melihat darahnya mengalir,” gumam Audrey, dia menyentuh dadanya. “Aku ingin mendengarkan suara memohonnya, ah.. membayangkannya saja membuatku jadi gila.”


“Chelsea.”


Audrey menoleh ke asal suara, dia tersenyum dan melempar satu apel matang dan langsung ditangkap oleh Abella. “Ada apa kau mencariku malam-malam begini?”


“Aku ingin berbicara denganmu sebentar, bisa tolong turun?”


Audrey menghela napas, dia menutup matanya beberapa detik sebelum membuka matanya lagi. Wajahnya berubah datar, dia melompat turun dan menatap Abella dengan sebelah alis yang terangkat. “Ada apa?”


“Jujur saja, kau Audrey kan?”


Audrey menatap remeh. “Atas dasar apa kau mengira aku Audrey?”


“Aku tau, kau adalah Audrey. Matamu, matamu itu mirip dengan Audrey. Suaramu juga dan tatapan itu, semuanya mirip dengan Audrey. Kau pasti Audrey kan! Jujur saja.”


Audrey berdecih. “Kenapa kau sangat kekeh menanggap aku sebagai Audrey? Apa dia sahabatmu, atau keluargamu?”

__ADS_1


Abella tiba-tiba menamparnya, Audrey yang masih dalam mode terkejut tak berkata apapun.


__ADS_2