Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 24. keluarga kaisar


__ADS_3

“Apa kau berbicara dengan seseorang?” tanya Er, Audrey tertawa terbahak-bahak untuk menutupi kegugupannya.


“Se-seseorang?? Siapa, aku tidak berbicara dengan siapapun!”


“Heh, begitukah? Lalu siapa Rhys??” tanya Er dengan nada datar, Audrey hampir saja tersedak salivanya sendiri. Dia menatap Er dengan mata membulat.


“R-rhys, siapa dia? A-aku tidak kenal.”


“Sudahlah, Audrey. Kau tidak pintar berbohong.” Er melompat turun dan berjalan masuk ke kamar Audrey, dia melihat sekeliling.


Audrey menghela napas, dia berbalik ke arah Er. “Tidak ada siapapun di sini, kau pasti salah dengar.”


“Oh, sepertinya aku memang salah dengar.” Er duduk di tepi kasur dan menatap Audrey yang memainkan jemarinya gugup.


“Tidak usah sepanik itu, duduklah di sini.”


Audrey menghela napas, dia ikut duduk di tepi kasur tanpa mengucapkan sepatah katapun.


“Audrey, aku kemari ingin mengatakan sesuatu,” kata Er dengan nada rendah, Audrey menatapnya bingung.


“Tentang apa?”


“Ayahku.. dia ingin menjodohkanku dengan anak temannya.”


“Apa?? Tapi kenapa?? Bukankah kau sudah janji kalau-- lupakan soal itu! Kenapa ayahmu menjodohkanmu??” tanya Audrey terkejut, Er menggeleng tak tau.


“Setelah aku kembali, Ayahku tiba-tiba saja memutuskan pertunangan kami. Dan aku.. tidak bisa menolak permintaannya.”


Audrey memijat pelipisnya. “Mau bagaimana lagi, jika itu permintaan ayahmu dan kau tidak bisa menolaknya. Maka tidak apa-apa, aku tau kau juga dalam keadaan bimbang saat ini. Jangan khawatir, lebih baik kau pulang dan sering-seringlah bertemu dengan tunanganmu.” Audrey tersenyum manis.


“Emm, baiklah.. aku juga harus kembali, mungkin aku akan jarang kemari untuk menemuimu. Tapi jangan khawatir, jika bisa. Aku pasti akan membujuk Ayah untuk membatalkan pertunangan kami!” kata Er serius, Audrey tersenyum.


“Aku mengerti, kau jaga kesehatan dan jangan terlalu memaksa Ayahmu. Jika Ayahmu tidak mengubah pemikirannya, kau terima saja gadis yang dijodohkan denganmu.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Audrey, apa tadi itu pacarmu?” tanya Rhys yang baru saja keluar, Audrey menatapnya dingin.


“Jangan banyak bicara! Di mana Angela?? Aku ingin bicara dengannya!”


Rhys menghela napas dan bersandar di dinding. “Kenapa kau jadi sangat sensitif? Angela sedang menunggang kuda, kau tau kan. Dia orang yang seperti apa.”

__ADS_1


“Memang kuda bisa naik kuda?” gumam Audrey sambil memegang dagunya, dia menghela napas. “Pergilah, aku muak melihat wajahmu.”


“A-apa?? Muak!? Aku ini sangat tampan, kenapa kau--” Rhys tidak lagi melanjutkan ucapannya ketika melihat tatapan membunuh dari Audrey, dia menghela napas dan berjalan keluar.


Tidak lama setelah kepergian Rhys, sebuah bola sihir berukuran kecil terbang masuk dari jendela dan masuk ke tubuh Audrey. Gadis itu kembali menghela napas.


'Huh.. energiku belum pulih meski mereka telah kembali.'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Nona Audrey,” panggil Gina sambil berlari tergesa-gesa, Audrey yang tengah duduk santai di kamarnya menoleh ke arah pintu sambil meminum teh dengan anggun.


“Ada apa, Gina. Kenapa kau terlihat sangat pucat?”


“N-nona.. Tuan, dia ingin menjodohkan Anda!!”


Audrey langsung terbatuk-batuk, dia memukul dadanya beberapa kali hingga akhirnya dia berhenti. Audrey menatap Gina dengan mata membulat. “Apa?? Tapi kenapa? Aku bahkan belum selesai sekolah! Kenapa bisa terjadi? Apa ada yang menghasut Ayahanda??”


“Nona, saya dengar. Nyonya Nia yang mengusulkan hal ini pada Tuan Grand Duke.”


Audrey berdesah frustasi, dia mengusap wajahnya kasar. “Astaga, kenapa bibi bertindak gegabah??” gumam Audrey.


“N-nona..”


Gina mengangguk, dia berjalan keluar sambil sesekali menoleh ke arah Audrey. 'Apa Nona akan baik-baik saja?'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“A-- salam, Yang Mulia.” Audrey langsung membungkuk hormat saat melihat keluarga kekaisaran yang tengah berbicara dengan Grand Duke, entah apa yang mereka inginkan sampai kemari secara pribadi.


“Dia pasti putrimu Audrey, dia sangat cantik dan manis,” puji Kaisar diakhiri senyuman lembut.


“Saya merasa terhormat karena mendapat pujian dari Anda.” Audrey masih membungkuk hormat.


“Audrey, duduklah di sana.”


Audrey menurut, dia berdiri tegak dan duduk di samping Mike yang menatap tajam seseorang.


“Seperti yang kita bicarakan tadi, Putraku. Xavier Amory Arch, akan ditunangkan dengan putrimu.. Audrey.”


Audrey terkejut setengah mati, begitu pula dengan tiga saudaranya yang lain. Tatapan membunuh, dingin, dan kesal langsung mengarah ke Xavier yang terlihat terkejut.

__ADS_1


'Apa-apaan ini?? Tunggu-tunggu, apa aku salah dengar?? Yang benar saja!!' Audrey rasanya ingin menangis darah saat itu juga, bisa-bisanya dia bertunangan dengan orang yang dia hindari sekaligus benci. Audrey menghela napas, dia berusaha untuk tetap tenang meskipun rasanya dia ingin mencabik-cabik bibi, ayah dan kaisar yang langsung saja memutuskan pertunangannya tanpa pemberitahuan.


“A-anu..”


“Semuanya sudah diputuskan, kita akan melangsungkan pertunangan sebulan lagi,” kata Grand Duke yang langsung menyela ucapan Audrey.


“Tap--”


“Baiklah kalau begitu, kami juga harus permisi. Maaf sudah menganggu kalian.” Kaisar dan keluarganya yang lain berdiri, Grand Duke, Audrey dan ketiga Kakaknya juga berdiri.


“Mari saya antar,” tawar Grand Duke, dia kemudian mengantar keluarga kekaisaran itu pergi. Audrey terduduk di sofa, otaknya seolah belum mencerna apa yang baru saja terjadi.


“Audrey,” panggil Mike sambil memegang bahu sang adik, Audrey menghela napas dan berdiri. Dia menatap ketiga pria di depannya bergantian sebelum membuang muka.


“Aku akan ke kamar, kalian istirahatlah juga.” Dengan wajah lesu, Audrey berjalan ke kamarnya.


Mike, Caesar, dan Damian saling menatap satu sama lain. Mereka saling berangkul dan membentuk lingkaran kecil. “Apa yang harus kita lakukan? Sepertinya Audrey juga tidak tau soal pertunangan ini!” bisik Mike.


“Yang pasti, kita harus membuat si putra mahkota itu membatalkan pertunangannya! Aku tidak mau adikku bertunangan dengan orang sepertinya.” Damian ikut nimbrung, Mike mengerutkan keningnya.


“Dia juga adikku!”


“Bukan, dia adikku!”


“Dia juga adikku, kak Damian!”


Damian dan Mike mulai bertengkar, Caesar menghela napas dan menjewer telinga kedua adiknya.


Mike maupun Damian, keduanya meringis kesakitan sambil memohon agar Caesar melepaskan mereka.


“Apa kalian sudah puas berdebat?? Audrey sedang dalam suasana hati buruk sekarang, dan kalian malah memikirkan hal bodoh!?’” tanya Caesar sarkas, hal itu langsung membungkam Mike dan Damian.


“Maaf, Kak Caesar,” kata keduanya bersamaan, Caesar melepaskan jewerannya dan melipat tangan di depan dada.


“Untuk sekarang, kita harus fokus untuk menghibur Audrey dan memikirkan rencana agar putra mahkota tidak jadi bertunangan dengannya.”


“Tapi kak, bagaimana cara menghibur Audrey? Kau tau kan, ketika dia kesal. Dia tidak akan ingin berbicara dengan siapapun, apalagi kalau menemuinya secara langsung.”


Caesar memegang dagunya berpikir, senyum seringai perlahan menghiasi wajah tampannya. “Aku tau bagaimana cara agar bisa membuat suasana hati Audrey membaik.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


'Cih, yang benar saja!' Audrey melempar pot kecil ke lantai dengan sekuat tenaga, usahanya untuk jauh-jauh dari protagonis justru gagal. Dan sekarang, dia malah terjerat dengan hubungan yang tak seharusnya.


Audrey mengepalkan tangannya. “Aku harus membatalkan pertunangan itu, bagaimana pun caranya!”


__ADS_2