
“Iya, Pangeran. Sepertinya Nona Chelsea jatuh cinta pada Putra Mahkota kekaisaran,” kata Chiara melaporkan, pria di depannya mengetuk-ngetuk meja sambil menopang dagu.
“Hem, Xavier ya? Aku mengerti, kau boleh pergi.”
Chiara menunduk hormat dan berjalan keluar, dia sempat menoleh ke arah pria itu sambil membuka pintu. “Pangeran, aku harap. Anda tidak akan jatuh cinta pada Nona Chelsea, kedatangan Anda kemari hanya un--”
“Aku tau, Chiara. Jangan mengucapkan hal itu si sini.”
“Saya mengerti, maafkan ketidaksopanan saya. Pangeran.” Chiara menutup pintu ruangan.
Pria itu menyeringai. 'Xavier, akan kurebut gadis yang kau sukai dan kujadikan senjata untuk mengalahkanmu. Dan setelah itu, aku akan membuat kekaisaran jatuh di bawah kakiku!'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey bersin, Sato memberikannya selembar tissue. “Apa kau sakit? Kau sedari tadi bersin.”
“Tidak tau.” Audrey menggosok hidungnya. “Mungkin karena tadi siang aku tidak sengaja tercebur ke danau.”
“Apa perlu kuantar ke ruang kesehatan? Kau sedang tidak enak badan, malam ini tidak usah ikut mengintai.”
Audrey tersenyum. “Aku baik-baik saja, aku akan ikut membantu malam nanti. Oh iya, di mana Erika dan yang lainnya?”
“Aku di sini!” Erika berjalan masuk sambil menenteng kantong plastik berisi cemilan, dia meletakkannya di meja.
“Wah cemilan! Kau sangat baik, Erika!” Sato mengacungkan jempolnya, dia mengambil sebungkus keripik kentang dan membukanya. “Em, enak sekali. Audrey, kau juga cobahlah.”
“Tidak, aku sedang tidak ingin. Kalian saja yang makan.”
“Wah, sayang sekali. Padahal keripik ini sangat enak.”
“Em, kalian membicarakan apa dengan Profesor tadi? Aku tidak sempat pergi karena tertidur di kelas, dan juga. Kenapa tidak ada yang membangunkanku??”
Sato cengengesan. “Ini perintah Neon, dia melarang kami masuk ke kelas untuk membangunkanmu.”
Audrey berdecak. “Ada apa sih dengan pria itu?” gumam Audrey kesal, dia berdiri dan berjalan keluar.
__ADS_1
“Kau tau kan, bersin pertama itu artinya dibicarakan. Kalau bersin kedua, itu artinya dicintai,” kata Erika setelah pintu tertutup, Sato menatapnya dengan wajah berbinar meski mulutnya penuh dengan keripik.
Dia menelan makanan di mulutnya dan meminum air. “Benarkah? Kalau begitu, aku akan membuat diriku bersin dua kali!”
“Caranya?”
“Em, dengan bulu. Bulu ayam bisa membuat kita bersin, kan?”
Erika mengangguk membenarkan. “Iya, tapi bagaimana kalau bersinnya sampai tiga kali?”
“Eum, aku tidak tau soal itu. Aku hanya tau kalau bersin pertama artinya digosipkan dan bersin kedua artinya dicintai.”
“Hem, menarik ya. Mungkin kita bisa mencobanya.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
'Sadarlah, Audrey!! Kau itu bukan lagi Audrey dari novel, sekarang. Kau bisa membuat kehidupan untuk dirimu sendiri, sekarang. Kau bisa membuat identitas dan lembaran baru! Tidak perlu lagi terpaku pada alur novel yang sudah melenceng sangat jauh dari tempatnya.' Audrey memijat pelipisnya pusing. 'Laura, aku akan membantumu. Aku juga sudah berjanji, tapi apa aku bisa melakukannya sendiri? Terlebih lagi, musuh lama telah muncul kembali. Huh, di dunia ini merepotkan. Musuhku terlalu banyak karena jiwa Laura yang telah bersatu dengan jiwaku.'
Audrey menyentuh dadanya. “Aku merindukan kalian, beberapa bulan itu aku lalui dengan bahagia. Maaf membohongi kalian semua, aku tidak ingin melakukan hal itu. Tapi aku terpaksa, aku membutuhkan kalian untuk membantuku meraih apa yang kuinginkan. Tapi sekarang.” Audrey tersenyum miris. “Aku malah terlena dengan cinta keluarga hingga lupa dengan alasanku datang ke dunia ini.”
Audrey tersenyum miris. “Aku tidak yakin kalian tidak akan membenciku, aku tau kalian pasti sangat kecewa. Apalagi kehilangan putri sebelum mengucapkan kata-kata perpisahan, itu sangat menyakitkan. Aku tau hal itu, tapi aku.. aku tetap saja berbohong dan bercengkrama layaknya orang yang dekat dengan kalian.” Audrey menunduk dengan air mata yang mengalir. “Audrey, kenapa kau menjadi sangat cengeng??” gumam Audrey.
“Aku tidak membencimu, Audrey. Keluarga kita juga tidak membencimu, tapi jika kecewa. Kami pasti kecewa karena kau tidak memberitahu semuanya lebih awal.”
Audrey mengangkat kepalanya, matanya bergetar dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. 'S-suara itu..'
Dia dengan pelan-pelan berbalik badan dan menatap kabur pria yang berdiri di depannya. “K-kak Mike.”
Mike berjalan mendekat dan mengusap wajah Audrey lembut, dia tersenyum tipis. “Jangan menangis lagi, ok. Kakak tau kau tidak bermaksud, tapi kau memang seharusnya tidak menyembunyikan hal sebesar itu pada kami. Audrey, kami sangat kecewa denganmu. Tapi bukan berarti kami akan membencimu.”
“Aku tau aku jahat, tapi aku tidak bermaksud. Kak, aku juga tidak ingin membohongi kalian. Tapi apa kalian akan tetap menerimaku jika aku mengatakan yang sebenarnya di saat aku mengalaminya? Aku juga susah untuk menerima hal ini, tapi aku harus bagaimana? Menganggapnya sebagai mimpi, itu tidak mungkin.”
Mike mengacak rambut Audrey gemas. “Kakak tau kau juga tidak bisa menerimanya, tapi setidaknya. Kau harus terbuka pada keluargamu ini, kau tidak boleh menyembunyikan rahasia apapun pada keluargamu ini.”
Audrey membuang muka. “Apa kalian masih menganggapku keluarga? Setelah yang aku lakukan, aku pikir kalian pasti akan membenci atau mungkin menaruh dendam padaku. Karena yang kulakukan pada kalian itu, sama saja seperti penipuan.”
__ADS_1
“Ini sudah menjadi takdir, Audrey. Ayah, kak Damien, kak Caesar dan aku. Kami tidak membencimu, kami sangat khawatir saat mengetahui kau menghilang, kakak juga minta maaf karena mengurungmu di kamar waktu itu.”
Audrey menggeleng. “Ini bukan salahmu, kak. Ini memang salahku, aku memang pantas menerima akibat dari kelakuanku saat berpura-pura menjadi Audrey.”
Mike tersenyum tipis. “Oh iya, kenapa kau mengubah warna rambutmu?”
Audrey memegang rambutnya, dia tersenyum tipis. “Entahlah, aku hanya ingin.”
“Kau terlihat a--”
“Chelsea.”
Mike dan Audrey menoleh ke asal suara, Neon berdiri di tak jauh dari mereka dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.
“Sudah waktunya.”
Audrey menoleh ke jendela. “Yaampun! Kak, aku harus pergi!” Audrey berlari ke arah Neon dan berjalan pergi, namun tangannya langsung ditahan oleh Mike. “Ada apa, kak??”
Mike mengeluarkan batu giok berwarna merah dari sakunya dan memberikannya pada Audrey. “Ambillah, ini akan melindungimu.”
Audrey mengambil bagi batu giok itu dengan wajah bingung. “Ini mirip dengan..”
“Chelsea, ayo cepat!”
Audrey tersadar, dia berlari ke arah Neon. Mike memperhatikan keduanya yang mulai menjauh.
“Apa kau akan kembali ke keluargamu?” tanya Neon, Audrey menggeleng dengan wajah lesu.
“Entahlah, aku masih merasa aneh. Tidak mungkin mereka tidak menaruh dendam padaku, apalagi aku membohongi mereka selama berbulan-bulan. Dan juga, bukankah aneh kalau Mike tiba-tiba muncul dan mengetahui identitasku dalam sekejap. Mungkin ada yang memberitahukannya tentangku.”
Neon memegang dagunya berpikir. “Benar juga, Mia saja tidak bisa mengenalimu. Tapi kenapa Mike yang bahkan belum pernah melihatmu tiba-tiba menyimpulkan kalau kau Audrey.”
Audrey menghela napas pelan.
“Karena itu hubungan darah.”
__ADS_1
Keduanya menoleh ke belakang, Audrey mengerutkan keningnya saat melihat seorang yang paling dia hindari.