Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 52. Perang


__ADS_3

“Jadi, bagaimana cara kita membunuhnya?”


“Entahlah, aku tidak tau.” Audrey mengangkat bahunya acuh, dia menguap pelan. “Aku sangat mengantuk.”


“Heh, jangan banyak bertingkah atau kau bisa mati di sini.”


“Aku tidak takut dengan kematian, toh aku sudah mengalaminya sekali,”jawab Audrey acuh, Xavier meliriknya. Dia menghela napas.


“Hem, ayo kita serang bersama-sama.”


“Tapi aku tidak bisa menggunakan sihir.”


“Kau bisa menggunakan pedang kan?” tanya Xavier sambil memberikan pedang di tangannya, Audrey berdecak. Dia mengambil pedang itu sambil mengoceh tak jelas.


Xavier mengambil pedang lain yang dibawanya. “Semoga saja kemampuanmu lebih baik dari yang dulu.”


Audrey berdecak. “Terserah kau saja, aku malas meladeni orang sepertimu. Selalu membuat pusing saja.”


Lebah yang menyerang para monster seolah terbakar dan menjadi abu, setelah itu. Para monster berteriak nyaring dan mulai menyerang dengan ganas.


Audrey, Xavier, dan siswa-siswi yang lain mulai menyerang pada monster yang membabi-buta.


'Sial, jumlah mereka terlalu banyak! Kami tidak mungkin bisa mengalahkan jumlah mereka yang selalu hidup kembali!' Audrey memotong salah satu tangan monster yang mengarah padanya, namun mau bagaimanapun juga. Tangannya yang terpotong segera tumbuh kembali.


Audrey berdecih, dia menyerang para monster sambil melirik Raymond yang berdiri santai di tempatnya. 'Sial, apa dia merencanakan sesuatu? Firasatku tiba-tiba aneh!'


Seperti mendapat sebuah pencerahan, mata Audrey bercahaya biru sekilas. Dia terdiam beberapa detik sebelum tersenyum tipis. 'Terima kasih, Laura.' Audrey mengangkat tangannya ke langit. “Cyclone.”


Angin ****** beliung mengelilingi Audrey, dengan daya sedotnya yang kuat. Para monster berterbangan ke arah angin dan berputar-putar. Audrey yang ada di pusat angin ****** beliung tersenyum. 'Aku bisa menggunakannya!'

__ADS_1


Dia tiba-tiba meringis. “Heh, ternyata segelnya tidak terbuka sepenuhnya. Tapi tidak apa, aku akan memanfaatkan kekuatan sementara ini untuk menghabisi mereka!” gumamnya, dia menutup matanya sambil mengontrol deru napasnya yang tak beraturan.


Tangannya yang mengarah ke langit perlahan terkepal, saat itu juga. Para monster yang tersedot ke dalam angin seperti terkena belati transparan, badan mereka terkena sayatan benda tajam di sekujur bahkan ada yang hampir saja mengenal leher mereka.


'Bagaimana cara menghabisi mereka? Jika hanya di bunuh, mereka pasti akan beregenerasi lagi dan kembali hidup!' Audrey berpikir keras, dia tiba-tiba muntah darah dan membuat angin ****** beliung yang dikontrolnya menghilang. Para monster yang beterbangan itu langsung terjatuh ke tanah.


Audrey memegang dadanya yang terasa nyeri, dia menggertakkan giginya sambil menatap Raymond yang menampilkan senyum misterius. 'Sial!'


“Sepertinya kau mulai bisa mengontrol kekuatan kekasihku.”


Audrey menatap sinis. “Kekasih? Kekasih mana yang ingin membunuh kekasihnya sendiri?”


“Oh ayolah, dia tidak akan mati selamanya kan. Jika aku membunuhnya, aku akan melakukan ritual itu lagi agar jiwanya masuk ke raga orang lain dan hal itu akan terus terulang hingga aku berhasil mengumpulkan semua kekuatanku yang sebenarnya.”


Audrey seolah tersadar sesuatu. 'Benar! Dia hanya baru membunuh Laura sekali, dan iru artinya. Kekuatan sebenarnya belum pulih sepenuhnya, tapi bagaimana dia bisa menyerahkan pasukan monster sebanyak itu dengan kekuatan yang terbatas? Cih, aku kehabisan akal!'


Tiba-tiba, sebuah cakar tajam mengarah ke Audrey. Saat dia tersadar, seseorang sudah menahan cakar besar itu dengan pedang. “Audrey, jangan melamun di situasi seperti ini!”


“Berhenti melamun! Bantu aku untuk menghabisi harimau ini!” omel Xavier, dia mendorong cakar itu dan memotongnya.


“Merah, merah, merah,” gumam Audrey terus menerus. “Aku tau! Mata merahnya yang bercahaya seperti batu giok yang kutemukan di samping danau!”


Audrey mencari batu giok itu di saku Almamaternya, namun dia hanya menemukan batu giok yang diberikan Mike. Audrey memperhatikan baru giok itu dengan teliti. 'Warna merahnya sedikit berbeda.'


Dia menghela napas, Audrey menggenggam baru giok di tangannya. 'Aku tidak yakin akan bekerja, tapi mungkin bisa kita gunakan.'


Audrey melempar batu giok itu ke arah Xavier yang tengah bertarung, pria itu melirik Audrey dan mengambil batu giok itu. “Apa ini?”


“Aku tidak yakin, tapi gunakan itu dan dekati Raymond!”

__ADS_1


Xavier menoleh ke arah Raymond, dia berdecak. Xavier memasukkan batu giok itu ke sakunya. 'Mendekatinya? Hah, kupikir itu akan susah apalagi dengan adanya para monster.'


Audrey tersenyum tipis, dia menyerang beberapa monster sambil melirik ke arah Xavier dan Raymond. 'Aku tidak yakin kau akan bisa melakukannya, itu sebabnya aku menyiapkan salinan yang kubuat khusus dari batu permata merah.'


Audrey diam-diam bersembunyi di antara para murid yang menyerang para monster. “Apa yang kau lakukan, Chelsea?” tanya Mia bingung, Audrey meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.


“Sstth, diamlah. Apa kau ingin membantuku untuk mendekati raja iblis itu?” tanya Audrey sambil menunjuk Raymond yang berdiri di antara para monster.


Mia menyerang dengan sihir dan menatap ke arah Audrey. “Aku tidak yakin aku akan bisa, tapi aku akan membantumu mencobanya.”


Audrey tersenyum. “Terima kasih, tetap serang mereka seperti biasa dan aku akan mendekati raja iblis secara diam-diam.”


“Baik, tapi hati-hatilah. Aku tidak ingin kau terluka.”


Audrey mengangguk, dia mengarahkan pedangnya ke depan. 'Jika aku menggunakan sihir lagi, aku tidak yakin akan bisa bertahan. Tapi jika kau mau membantuku, Laura. Maka aku yakin aku pasti bisa menggunakan kekuatanmu meski hanya sekali lagi.' Audrey menutup matanya dan menghela napas. “Fire Blades,” gumam Audrey.


Sebuah api muncul di pedangnya dan menyelimuti pedang itu hingga berubah menjadi pedang api, Audrey menahan perih karena luka bakar di tangannya. 'Bertahanlah, kau hanya cukup untuk mendekati Raymond dan membuat dia menelan batu itu!'


Dia berjalan ke arah Raymond dengan diam-diam sambil menyerang para monster yang berada di sekitarnya.


Namun sialnya, dia ketahuan dan hampir saja terkena sihir gelap milik Raymond. “Jika kau ingin kemari, kau tidak perlu sembunyi-sembunyi. Aku akan menerimamu dengan senang hati.”


Audrey berdecak, dia diam-diam mengambil batu permata yang disembunyikannya. 'Mau bagaimanapun, aku harus membuatnya menelan benda ini. Tapi bagaimana caranya?'


“Kemarilah, aku akan membawamu pergi dan membebaskan mereka semua.”


'Siapa yang ingin ikut denganmu, bodoh! Tapi, ya sudahlah.' Audrey tersenyum. “Baik, aku akan ikut denganmu dan pergi dari sini. Tapi aku memiliki satu permintaan.”


“Apa itu?”

__ADS_1


Audrey berbalik ke arah Siswa-Siswi yang terduduk di tanah karena kelelahan. “Biarkan mereka semua hidup dan bawa para monstermu kembali.”


“Hanya itu? Baiklah, aku akan menarik kembali pasukanku.”


__ADS_2