Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 7. Rahasia bulan


__ADS_3

Namun, sesampainya di depan pintu kamar Mike. Dia justru tanpa sengaja mendengar pembicaraan Grand Duke, Mike dan seorang tabib.


“Apa Putraku tidak bisa disembuhkan secara menyeluruh?” tanya Grand Duke, tabib itu menggeleng.


“Maafkan saya, Tuan. Tapi racun di tubuh Tuan Muda Damian masih ada karena bunga Jiwa tidak bisa menghilangkan semua racunnya.”


Audrey masih diam dan mendengarkan setiap perkataan ketiganya. 'Apa maksudnya? Jadi Kak Damian belum sembuh sepenuhnya? Tapi bunga mawar biru itu seharusnya bisa menyembuhkan racun apapun kan? Tapi kenapa--'


“Saya hanya bisa mengatakan satu hal, Bunga Jiwa itu hanya memperlambat penyebaran sisa racunnya. Dan tidak tau sampai kapan hingga racunnya kembali menyebar dan--” Sang tabib langsung diberi bogem mentah oleh Mike.


“Jangan coba-coba mengucapkan hal itu, atau kau akan mati sekarang juga!” Tatapan Menusuk dari Mike membuat sang tabib yang terjatuh langsung bergetar ketakutan, Grand Duke memegang bahu anaknya.


“Tenanglah, Mike. Kita akan mencari cara lain untuk menyembuhkan Damian, untuk sementara. Jangan biarkan Audrey mengetahui apapun soal ini.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey tersenyum tipis sambil menatap wajah Damian yang tengah tertidur nyenyak, tangannya terangkat dan mengusap rambut pria itu lembut.


'Kak Damian, Aku akan kembali berusaha untuk menyelamatkanmu lagi. Jika di kehidupan pertama aku tidak bisa menyelamatkannya, maka di kehidupan kedua. Aku harus menebus semuanya. Banyak yang ingin kuberi tahu padamu, tapi aku tidak tau bagaimana menjelaskannya. Semuanya masih terasa tidak nyata, seolah transmigrasi yang kualami hanyalah mimpi saat aku koma. Jika benar, mungkin aku akan berdoa agar ini bukanlah mimpi dan semuanya benar-benar nyata. Setidaknya, selama aku bisa menjadi Audrey kalian.'


“Maaf sudah banyak merepotkanmu, Kak Damian. Audreymu ini akan melakukan apapun demi kau kembali sehat.”


Pintu terbuka dan membuat Cahaya dari luar masuk. “Nona Audrey, Tuan Muda Mike menyuruh saya untuk mengantar Anda istirahat.


“Tolong beri aku waktu sepuluh menit lagi.”


Pria yang membuka pintu terdiam sejenak. 'Apa?? aku pasti salah dengar?? Nona Audrey meminta tolong??'


“Bisa tutup kembali pintunya, aku akan keluar sebentar lagi.” Dengan wajah bingung, pria itu kembali menutup pintu.


Audrey tersenyum, dia menggenggam kedua tangan Damian. “Selamat malam kak, semoga tidur nyenyak.”


Audrey hendak berdiri, namun kalung dengan liontin bunga yang dia kenakan malah tersangkut di cincin Damian. Dengan sangat pelan dan hati-hati, Audrey berusaha melepaskan kalungnya namun tidak bisa.

__ADS_1


Dia menatap Damian yang tidurnya mulai terusik. 'Maaf kak, Cincinmu akan kukembalikan lagi nan-- tunggu, apa tidak kucoba sihir penyembuhan itu saja ya? hahaha, bodoh sekali kau Alina. Bunga mawar biru saja tidak bisa menghilangkan semua racunnya, apalagi sihir penyembuhan biasa. Tapi kalau tidak dicoba, siapa yang tau kan?' Audrey menghela napas, dia melepaskan cincin di tangan Damian dan berdiri.


Audrey menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, dia mengarahkan kedua tangannya ke Damian dan mengucap mantra.


“Healing.. magic.”


Sebuah bola sihir berwarna biru muncul di tengah-tengah keduanya, bola sihir itu semakin dengan cepat membesar dan meledak. Audrey yang terkejut langsung menutup matanya karena silau.


“Nona Audrey!!” Pria tadi membuka pintu, keningnya tampak berkerut ketika melihat semuanya baik-baik saja. Hanya Audrey yang masih menutup matanya.


“Nona Audrey! Tuan Muda Damian!” Pria itu langsung berlari ke arah Audrey. “Apa Anda baik-baik saja, Nona Audrey?”


Audrey membuka matanya. “Ya, aku baik-baik saja. Tapi apa yang baru saja terjadi?”


“Saya tidak tau, tapi saat diluar. Terdengar suara ledakan dari sini, apa ada serangan musuh?”


Audrey menyentuh kepalanya. “Sepertinya tidak, aku tadi melihat sebuah bola sihir yang membesar dan meledak.”


“Baguslah jika Anda tidak terluka, Tuan Muda--” Pria itu menoleh ke arah Damian, dia tampak terkejut dan membuat Audrey menoleh ke arah Damian.


Pintu kembali terbuka, Grand Duke, Caesar, dan Mike berjalan masuk. “Ada apa? aku mendengar suara ledakan tadi!”


Caesar dan Mike langsung menghampiri Audrey yang terdiam bak patung. “Audrey, apa kau baik-baik saja?” tanya Caesar khawatir, Audrey mengangguk kecil. Caesar dan Mike merasa aneh dengan tatapan mata Audrey yang hanya mengarah ke satu tempat.


Keduanya mengikuti arah pandang Audrey dan melihat Damian yang terbangun, yang membuat keduanya terkejut adalah racun di dalam tubuh Damian berangsur-angsur menghilang. Terlihat jelas dari warna biru di tangannya yang mulai menghilang.


“Cepat panggilan tabib!” titah Grand Duke pada pria tadi.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Audrey, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Grand Duke, Audrey menggeleng tak tau.


“Entahlah, Ayahanda. Aku tadi menjenguk kak Damian, dan kalungku tidak sengaja tersangkut di cincinnya.” Audrey terdiam, dia tampak ragu-ragu mengucapkan kata selanjutnya.

__ADS_1


“Lalu?”


“Dan setelah melepaskan cincinnya, aku berinisiatif menggunakan healing untuk menyembuhkan Kak Damian.”


Suara gebrakan meja membuat Audrey terkejut bukan main, dia menunduk dan tak berani menatap wajah Grand Duke ataupun Caesar.


“Audrey, Bukankah kau tidak bisa menggunakan sihir penyembuhan?? Apa kau berbohong pada kami semua.”


“Aku tidak tau, Kak. Bukankah kalian juga tau, sejak dulu. Aku tidak memiliki kekuatan sihir sama sekali, tapi sejak aku pergi ke taman surga. Aku merasa ada yang aneh dengan diriku.” Audrey berucap sambil menunduk, tatapannya hanya terarah ke lantai marmer yang dingin.


Caesar menghela napas, dia duduk di sofa tunggal dan memijat pelipisnya. “Baiklah, kau keluarlah terlebih dahulu. Aku ingin berbicara dengan Ayahanda.”


Audrey mengangguk, dia berdiri dan berjalan pergi. Setelah pintu tertutup, Caesar menatap Grand Duke yang kini tengah melamun.


“Ayahanda,” panggil Caesar dan membuat Grand Duke tersadar dari lamunannya, dia berdehem.


“Sepertinya, benda itu tidak bisa lagi menahan kekuatannya.”


“Apa ramalan yang dikatakan kakek tua itu akan benar-benar terjadi?”


“Entahlah, tapi melihat hal yang terjadi hari ini. Mungkin saja ramalan yang dikatakan oleh kakek itu benar.” Grand Duke memijat pelipisnya, masalah demi masalah selalu saja menganggu ketenangan keluarganya.


“Ayahanda, apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Untuk sementara waktu, tetap awasi dan lindungin Audrey. Jangan biarkan orang itu menemukannya!”


Caesar mengangguk, dia berdiri dan menunduk sopan. “Aku akan kembali ke kekaisaran.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


'Sebenarnya apa yang terjadi? Ap-- ah tidak, alur ini memang ada di dalam novel. Tapi tidak ada yang menceritakan apa yang kedua pria itu bicarakan sekarang.' Audrey mengetuk-ngetuk dagunya berpikir.


Suara pintu terbuka membuat Audrey menoleh, dia berdiri dan berlari kecil ke arah Caesar. “Apa yang Kakak dan Ayahanda bicarakan?”

__ADS_1


Caesar melirik Audrey sekilas, dia berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Gadis yang ditinggal pergi itu menatap punggung Caesar yang semakin menjauh.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2