Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 19. Kuil tua


__ADS_3

“Iya, aku sedikit tau tentang tanaman obat,” kata Abella, Audrey bersandar dan menatap keempatnya bergantian.


“Jadi sudah diputuskan ya, kita akan ke kuil tua di tengah hutan pada bulan biru. ingat, jangan sampai ada yang tertidur. Seharusnya dua hari lagi bulan biru, jadi semuanya. Persiapan barang-barang yang akan kalian bawa.”


“Nona Audrey, bagaimana kalau kita menggunakan gaun yang dibelikan Yang Mulia?” saran Abella, Audrey mengetuk-ngetuk dagunya berpikir.


“Ide bagus!”


“Bagaimana kalau kalian menggunakan topeng juga?” Eryk melirik Xavier yang hanya meliriknya sekilas sebelum kembali pada aktivitasnya.


“Em, bukankah itu terlalu merepotkan,” kata Audrey, dia tampak risih mendengar usulan Eryk.


“Bagus, kalian gunakan topeng saja.”


Audrey menatap kesal Xavier, entah kenapa pria itu malah mau mencari gara-gara dengannya.


“Benar, Nona Audrey. Pasti akan terlihat bagus.”


Audrey menghela napas. “Baiklah, aku akan memakai topeng. Kalian puas?”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Dua hari berlalu seperti biasa, namun kali ini. Chelsea tidak lagi muncul seperti hari-hari sebelumnya. Gadis itu seolah menghilang ditelan bumi.


“Semuanya sudah siap?” tanya Audrey sambil menatap satu persatu empat timnya.


“Iya, Nona Audrey,” kata Abella dengan topeng yang menutupi setengah wajahnya, Audrey mengangguk.


“Ayo, aku sudah menanyai beberapa penduduk desa. Ini peta yang diberikan untuk ke kuil tua, ayo semuanya!” kata Audrey semangat, dia memberikan peta itu pada Xavier dan Zachary kemudian membiarkan ketiganya berjalan lebih dulu.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Ah, gadis dengan rambut dikuncir itu? Dia memang misterius dan cantik, wajah cueknya juga terlihat indah kalau dia tidak memakai kacamata,” kata Eryk.


“Benar kan, sudah kuduga. Aku pernah melihat gadis itu saat di pesta dansa, dia benar-benar sangat cantik dan menawan. Melihatnya, aku jadi ingin men-- agh.” Zachary langsung meringis kesakitan karena sesuatu mengenai kepalanya, dia menoleh ke belakang dan melihat Audrey yang tengah melempar-lempar batu ke langit.


“Jangan mengatakan hal bodoh atau kau akan habis! Ingat, Yang Mulia. Meskipun kau pangeran, kau tetap tidak boleh mengatakan hal bodoh. Bahkan, justru karena kau seorang pangeran. Kau jadi harus menjaga ucapanmu, apalagi di depan para gadis!”


“Kau! Berani sekali--agh.” Zachary langsung meringis karena Audrey melempar batu tepat di keningnya, bahkan keningnya sampai mengeluarkan darah.


Audrey melangkah mendekat dan berhenti di samping Zachary. “Dengar, Yang Mulia. Kau hanya terluka sedikit kali ini, tapi lain kali. Akan kubuat kepalamu bocor!” bisik Audrey dan berjalan pergi, Zachary mengepalkan tangannya.


'Kau sungguh berani menyinggung seorang pangeran, lihat saja. Akan kubuat kau bertekuk lutut di hadapanku!'

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Ah, akhirnya kita sampai.” Abella merenggangkan kedua tangannya yang terasa letih, setelah hampir sejam berjalan. Akhirnya mereka sampai di depan kuil yang telah runtuh dan berlumut.


“Eh, di mana Nona Audrey?” Abella menoleh ke kanan-kiri namun tak menemukan Audrey di manapun.


Yang lain juga melihat kanan-kiri namun tak menemukan Audrey di manapun, kecuali Xavier yang menatap peta dan kuil tua di depan matanya.


Tiba-tiba, dia melihat seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Orang yang familier, gadis itu tersenyum tipis dan berjalan pergi.


Xavier yang melihat itu langsung mengejar sang gadis yang menghilang di balik pepohonan.


“Chelsea!” panggil Xavier.


Ketiga temannya yang lain menatap Xavier dengan bingung, ketiganya saling menatap.


“Yang Mulia memanggil siapa?” tanya Eryk, Zachary menggeleng tak tau dan berjalan masuk ke dalam kuil.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Chelsea!”


Chelsea tersenyum tipis dan terus berlari sambil berbelok ke beberapa pepohonan, Xavier masih saja terus mengejarnya.


“Kejar aku jika kau bisa,” kata Chelsea diakhiri tertawa senang, Xavier berhenti dan mengatur napasnya yang terengah-engah.


Chelsea menatapnya dengan senyuman manis, Xavier yang melihat gadis itu berhenti segera berlari dan mengejarnya.


Xavier semakin mendekat ke arah Chelsea yang masih tersenyum, pria itu tiba-tiba berhenti dan menatap takjub pemandangan di belakang Chelsea.


“Bagaimana? Sangat indah bukan?”


Xavier melangkah ke arah sungai di belakang Chelsea, gadis itu memperhatikan Xavier yang melewatinya.


Chelsea berdiri di samping Xavier dan menatap sungai di depannya, bukan hanya itu. Ada banyak tanaman herbal di samping sungai, bebatuan besar dan juga air terjun yang sangat tinggi.


“Di sini, kau bisa mendapatkan tanaman herbal sebanyak yang kau mau. Di sini juga ada berbagai macam tanaman herbal,” kata Chelsea yang mendekat ke arah sungai dan merentangkan kedua tangannya.


Chelsea berbalik, dia berkedip polos sambil menatap Xavier yang berdiri di depannya. Tangan pria itu terangkat dan melepaskan topeng yang sedari dulu menutupi wajah gadis itu.


Chelsea terdiam, waktu seolah terhenti. Matanya membulat sempurna.


“Sudah kuduga, itu kau..” Xavier tersenyum tipis.

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Sebenarnya di mana pria payah itu?? Kenapa dia tiba-tiba berlari pergi, Audrey juga entah kemana,” gerutu Zachary, keduanya telah setuju untuk mencari Xavier terlebih dahulu dan kemudian Audrey.


Sementara Abella, dia menunggu di dalam kuil sambil memeluk lututnya dan duduk di sudut kuil.


'Kenapa mereka sangat lama? Aku takut sendirian di sini.' Abella melihat sekitaran, tidak ada suara siapapun kecuali hewan-hewan yang ada di dalam hutan.


Dia seolah terengah-engah seperti baru saja berlari dengan cepat, Abella memegang dadanya. Jantungnya berdetak cepat.


Abella menutup telinganya dengan kedua tangan, dia benar-benar ketakutan berada di dalam kuil sendirian.


Disisi lain, Zachary dan Eryk masih terus memanggil nama Xavier dan Audrey sambil melihat ke kanan-kiri dan terus melangkah. Mereka juga membuat penanda di pohon agar lebih mudah saat mencari jalan pulang.


“Bagaimana ini? Mereka belum juga ketemu, apa kita kembali saja? Abella juga sendirian di kuil itu.” Eryk mengusap wajahnya kasar.


“Sepertinya kita harus ke--”


“Kalian kenapa kemari?”


Keduanya menoleh ke asal suara, Xavier berjalan ke arah keduanya. Namun, ada yang membuat keduanya terkejut.


“Lepaskan aku, sialan!” kesal Chelsea, entah kenapa. Dia malah ditarik oleh pria sinting bin gila itu, untungnya. Xavier mengembalikan topengnya, jika tidak. Pasti jati dirinya akan ketahuan sekarang.


“Diam, Audrey!” kesal Xavier.


“Sudah aku katakan! Aku bukan Audrey!!”


“Kau--”


“Nanti saja berdebatnya! Abella menunggu kita di kuil, aku takut dia kenapa-napa jika gadis itu sendirian,” kata Eryk yang langsung memisahkan pertengkaran antara Chelsea dan Xavier.


Gadis itu mendengus, dia menghentakkan tangannya dan berjalan lebih dulu.


“Ikuti gadis itu!”


Chelsea melirik ke belakang, dia melihat pelipisnya pusing. 'Hah, bagaimana caranya aku bisa pergi dari ketiga pria ini. Aku juga harus meyakinkan kalau aku bukan Audrey! Tapi bagaimana caranya??'


Dia tiba-tiba berhenti dan membuat para pria yang berdiri di belakangnya ikut berhenti.


“Ada apa?” tanya Eryk, Chelsea menghela napas berat.


“Apa kalian masuk melewati jalan ini?”

__ADS_1


__ADS_2