Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 36. White


__ADS_3

Sudah hampir sebulan sejak Audrey tinggal di desa terpencil itu, namun dia belum mendapatkan informasi apapun. Setiap kali dia bertanya pada warga desa, mereka pasti selalu menghindar atau mengalihkan topik pembicaraan.


'Apa mereka sengaja menahanku di sini?' batin Audrey, dia melempar bebatuan kecil ke sungai di depannya.


“Kau sedang melamunkan apa?”


Audrey terkejut, dia menoleh ke sampingnya. “Astaga, kau membuatku terkejut. Kenapa kau ada di sini?”


Daniel memungut batu di tanah dan juga melemparnya ke sungai. “Aku hanya penasaran, apa yang kau lakukan di sini. Kenapa tidak berkeliling di sekitar desa atau berburu saja?”


Audrey menghela napas. “Ya, aku akan melakukannya jika aku ingin. Tapi sekarang aku sedang tidak ingin melakukan apapun.”


“Oh, di mana White dan Black?”


“Mereka.” Audrey menoleh ke pinggir sungai, namun Black ataupun White tidak lagi ada di sana. Audrey berdiri. “Kemana kedua hewan kecil itu?? Bukankah tadi mereka sedang bermain air?”


“Mungkin saja mereka ke hutan untuk berburu,” jawab Daniel enteng, dia menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan.


Audrey buru-buru berjalan pergi. “Dasar dua hewan itu, aku pasti akan menghukum mereka nanti!”


Daniel memperhatikan punggung Audrey yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya, dia tersenyum tipis dan kembali melempar batu ke sungai.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey berdesah frustasi, dia melihat sekeliling hutan. 'Sebenarnya di mana kalian?' Audrey mengigit kukunya khawatir.


Saat Audrey hendak kembali, dia sayup-sayup mendengar suara beberapa orang. Audrey segera bersembunyi di semak-semak dan memperhatikan beberapa orang yang tengah berjalan ke desa sambil berbincang-bincang.


“Yang Mulia Putra Mahkota memang sangat tampan.”


“Iya, aku merasa sangat iri dengan Nona Veronika.”


“Em, Nona Veronika sangat beruntung bisa bertunangan dengan Yang Mulia Putra Mahkota.”


Audrey terus mendengarkan ucapan gadis-gadis muda yang membawa buah-buahan. 'Siapa yang bertunangan? Putra mahkota siapa?'

__ADS_1


“Oh iya, siapa nama putra mahkota tampan itu?”


“Astaga, apa kau lupa? Namanya Yang Mulia Pangeran Xavier.”


Audrey membulatkan matanya. 'Xavier??' Audrey mengepalkan tangannya, dia kini yakin dengan motif para warga desa yang menahannya di sini. 'Sialan!'


“Aduh.”


Audrey langsung mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang terjatuh karena tidak sengaja tergelincir batu.


“Yaampun, apa kamu baik-baik saja?”


“Iya, tapi kakiku sepertinya tergelincir. Aku tidak yakin bisa berjalan lagi.”


“Kita harus bagaimana sekarang? Hari sudah mulai sore dan desa masih jauh, tidak mungkin juga kita bisa membantumu untuk berjalan ke desa.”


“Lalu aku harus apa?”


Seorang gadis memegang dagunya berpikir. “Bagaimana jika membiarkan dua gadis lain menemanimu, dan sisanya kembali ke desa untuk meminta bantuan.”


“Ide bagus, tapi kita harus meminta bantuan siapa? Nona Audrey juga bisa saja mendengarkan ucapan kita, sekarang ada dia di desa. Kita tidak boleh bertindak ceroboh atau Nona Veronika tidak akan memaafkan kita.”


“Baiklah, Vika dan Amanda. Kalian tetap di sini untuk menjaga Lia dan kami bertiga akan kembali ke desa untuk meminta bantuan.”


“Baik, hati-hati dan jangan lama.”


Tiga gadis mulai berjalan pergi, sementara tiga lainnya duduk di dedaunan kering sambil menunggu bantuan.


Audrey yang sedari tadi mendengarkan ucapan mereka berdecih. 'Sudah kuduga, mereka memang sengaja mengurungku di sini agar Veronika bisa mendekati Xavier dan bertunangan dengannya! Tapi kenapa Xavier sangat mudah tergoda?' Audrey menunjukkan wajah jengkel. 'Dasar pria, mereka semua sama saja.' Audrey tiba-tiba tersadar, dia langsung menggeleng cepat. 'Kenapa aku jadi memikirkannya? Apa aku cemburu, hahaha. Tidak mungkin, aku tidak mungkin cemburu kan. Aku pasti hanya.. khawatir akan keluargaku!'


Suara auman harimau terdengar dari belakang, Audrey menoleh dan melihat White dan Black yang berlari ke arahnya. “White, Black,” gumam Audrey.


Black dan White melompat ke arah Audrey, dengan cepat. Gadis itu menangkap keduanya dan kembali melihat ketiga gadis yang tengah berbincang-bincang.


Audrey seketika mendapatkan ide yang menurutnya fantastis, dia menunduk dan menatap White yang juga menatapnya dengan kepala memiring. “White, aku akan memberimu makan daging hari ini. Kau lihat tiga gadis itu.” Audrey menatap ke tiga gadis itu. “Kau bisa memakan dua orang, tapi sisakan gadis berkuncir itu,” kata Audrey dengan santai, mata White langsung berbinar.

__ADS_1


Dia mengaum, suara aumannya tidak sengaja terdengar oleh ketiga gadis. Suasana yang mulai gelap membuat mereka sedikit ketakutan, apalagi tidak ada cahaya apapun.


“Apa kau dengar suara itu tadi?”


“Iya, itu seperti suara auman harimau.”


“Firasatku tiba-tiba menjadi tidak enak.” Gadis berkuncing dua itu berdiri, begitu pula dengan gadis dengan rambut yang diikat.


“Maaf, Lia. Tapi aku takut di sini, aku tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku belum mau mati!”


“Apa maksudmu, Amanda? Apa kau ingin meninggalkanku disini sendirian?”


“Maaf, Lia. Tapi nyawa kami berdua lebih berharga. Ayo kita pergi!” Vika menggenggam tangan Amanda dan berlari pergi, keduanya tidak menghiraukan teriakan Lia yang terus memohon.


Namun, baru saja keduanya pergi. Keduanya sudah lebih dulu diterkam oleh harimau putih dengan mata merah. “H-harimau, t-tolong!!” teriak Amanda, namun karena suasana hutan yang sepi. Teriakannya menjadi sia-sia, Vika yang juga ditangkap menjadi ketakutan. Apalagi melihat taring tajam sang harimau putih besar yang kini tengah menekan keduanya dengan kaki depannya.


“White, Kill.”


Seperti sebuah perintah, White dengan ganas mencakar kedua gadis itu dan memutuskan kedua tangan mereka hingga kehabisan darah dan mati.


“Kerja bagus, White.” Audrey keluar dari kegelapan, dia menatap datar dua mayat gadis yang wajahnya telah hancur dengan beberapa bagian tubuh yang terpisah. Di bahunya ada Black yang juga menatap kedua mayat itu. “Black, turun dan makanlah bersama White. Aku akan menemui gadis berkuncir itu.”


Black melolong, dia melompat turun dan mengigit daging dan makan bersama White.


Audrey menghela napas, dia berjalan ke Lia yang tengah menangis sesegukan di hutan gelap. “Lia.”


Lia yang tengah memeluk kedua lututnya mendongak, karena suasana yang gelap. Dia tidak bisa melihat wajah di depannya dengan jelas. “Siapa kau?”


Audrey berjongkok di depan Lia. “Kau ingin tetap hidup kan?”


Lia mengangguk, Audrey tersenyum. Dia mengusap rambut gadis di depannya itu. “Maka beritahu semua yang kau tau, dengan begitu. Aku akan memastikan agar kau bebas.”


“Beritahu tentang apa?”


Audrey mendekat ke arah Lia dan berbisik. “Tentang Pertunangan Veronika dan juga Putra Mahkota Xavier.”

__ADS_1


Lia langsung terkejut, dia menggeleng. “Aku tidak bisa! Aku tidak ingin disiksa oleh Nona Veronika!”


Audrey menjauh, wajahnya begitu datar. Dia menangkup wajah Lia. “Jika kau memberitahuku, aku akan membebaskanmu. Baik itu dari siksaan dari Veronika. Ataupun dari desa itu.”


__ADS_2