Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 25. Panti asuhan


__ADS_3

Audrey mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, sudah hampir setengah jam dia duduk manis di jendela. Namun Audrey tak mendapatkan satu pun ide untuk membatalkan pertunangan tersebut.


“Uh, sial!” Audrey mengacak rambutnya frustasi, dia memijat pangkal hidungnya.


“Nona, Saya membawakan aromaterapi untuk Anda,” kata Gina sambil mengetuk pintu kamar Audrey.


“Bawa kembali! Dan jangan menggangguku sekarang, aku benar-benar sangat pusing!”


“Tapi Nona--”


“Gina! Ini perintah.” Audrey langsung menyela ucapan Gina, setelahnya. Tidak terdengar lagi suara apapun kecuali langkah kaki yang semakin menjauh, dia menghela napas dan menatap ke luar.


'Suasana tenang ini.. aku jadi ingin menenggelamkan diriku di lautan.'


Suara ketukan pintu kembali terdengar, Audrey dengan kesal memukul tembok. “Gina, sudah kubilang jangan menggangguku!!”


“Ini aku.”


Suara berat nan bariton dari luar kamar langsung membuat Audrey berdecak kagum. “Wow, baru saja dibicarakan. Dia sudah muncul,” gumam Audrey. “Kenapa kau datang?”


“Audrey, buka dulu pintunya.”


“Tidak mau! Kau bicara saja di luar sana!” Audrey tersenyum senang, dia tiba-tiba memikirkan beberapa ide cemerlang.


“Audrey, buka pintunya!” Xavier terus menggedor-gedor pintu, namun Audrey dengan senang hati mengabaikan suara-suara dari luar kamarnya.


'Jika aku tidak membuka pintu dan dia menjadi kesal, aku yakin. Dia pasti akan membatalkan pertunangannya!' Audrey memegang dadanya sambil tersenyum masam. 'Aneh, aku merasa tidak rela. Heh, kau sungguh bodoh. Audrey, kau datang kemari hanya untuk membalas dendam demi Audrey asli. Tapi hasilnya, kau justru memiliki perasaan dengan orang yang tidak tepat.'


Audrey melihat ke taman. 'Andaikan saja kita bertemu di waktu yang berbeda, di keluarga yang berbeda, dan di tubuh yang berbeda. Aku pasti akan sangat senang meskipun kau menjadi rakyat biasa, tapi apa dayaku. Kau adalah seorang putra mahkota, sementara aku.. aku hanyalah jiwa nyasar yang tidak sengaja masuk ke raga Antagonis dan berjanji untuk membalas dendam, lalu bagaimana jika balas dendamku berujung perasaan? Maka aku harus memilih, antara membunuh atau dibunuh. Aku bukanlah seorang pecundang, aku pasti akan membunuh semua musuhku dan membalas dendam atas penderita Audrey asli!'


“Maaf, Xavier.”

__ADS_1


“Kenapa kau minta maaf?”


Audrey langsung membeku, suara yang tepat berada di belakangnya itu langsung membuat bulu kuduknya merinding. Audrey berbalik, dia langsung mengumpat saat melihat orang yang sedari tadi mengetuk pintu dan berusaha masuk kini dengan santai bersandar di dinding sambil melipat tangannya di depan dada.


“Kenapa kau kemari?” tanya Audrey dengan kening berkerut. 'Sial, bagaimana pria itu bisa masuk ke kamarku?? Aku tidak membuka pintu sama sekali! Tidak mungkin dia lewat balkon kan?'


“Hah? Apa maksudmu, ini kan kamar ‘Tunanganku’. Tentu saja aku ingin kemari dan mengunjunginya.” Xavier dengan sengaja menekan satu kalimatnya, Audrey memutar bola matanya. Dia melompat turun dan berjalan ke arah lemari.


'Jangan khawatir, Audrey! Masih ada dua rencana lagi.' Audrey mengeluarkan jubah berwarna kecoklatan, dia kemudian memakainya dan menatap ke arah Xavier yang masih dengan posisi sama dan di tempat yang sama.


“Aku ingin ke pasar, apa kau ingin ikut?”


“Hem, boleh.” Xavier berdiri tegak dan berlari kecil untuk menyusul Audrey yang sudah keluar dari kamar.


“Tunggu aku, Audrey!”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Oranye dan kuning, tolong bungkuskan semua warna gelang yang kami sebut.”


Audrey menoleh ke arah Xavier. “Aku yang beli, kenapa kau yang pilih?”


Xavier mengangkat bahunya acuh, dia menyerahkan beberapa koin perak dan menarik Audrey pergi. Sebelah tangannya memegang paper bag kecil yang berisi barang-barang yang dia beli. “Apa lagi yang ingin kau beli?”


'Yang benar saja! Aku kan kemari untuk menghabiskan uangnya agar dia marah, kesal dan benci lalu menghentikan pertunangannya. Tapi kenapa hasilnya malah tidak sesuai seperti yang aku harapkan??'


“Aku ingin membeli barang lain, kau tunggu di sini!” Audrey berjalan pergi sambil melihat-lihat, sementara Xavier mengikutinya dari belakang. Senyum licik mereka di wajah gadis itu, dia masuk ke salah satu butik.


Xavier yang melihat itu berdiri di luar sambil menunggu, namun setengah jam berlalu. Audrey belum juga keluar. Dia yang khawatir membuka pintu butik dan menganalisa sekeliling dengan seksama, namun tak menemukan keberadaan gadis yang dicarinya.


“Sial!” Xavier berbalik badan dan berjalan pergi. “Dia pasti pergi lewat balkon! Apa sebegitunya dia tidak ingin aku ikuti? Aku kan hanya khawatir-- ah, Xavier. Kenapa kau jadi seperti ini??” Xavier geleng-geleng kepala, dia berjalan pergi dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. Tidak lagi perduli dengan Audrey yang kabur.

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Terima kasih, Kakak cantik.”


“Wah, kakak cantik sangat baik.”


“Kakak cantik! Kakak cantik!”


Berbagai ucapan terima kasih terlontar dari mulut anak-anak kecil dengan pakaian lusuh itu, mereka mengambil barang-barang di dalam kardus besar dengan senyuman bahagia.


“Rose, di mana Bibi Ina?” tanya Audrey pada salah satu anak, tidak lupa dia mengusap rambut gadis kecil itu.


“Bibi sedang ada di dalam, dia berbicara dengan ayah.”


Audrey menatap lurus ke arah panti asuhan yang tidak jauh dari tempatnya berjongkok, dia tersenyum tipis dan berdiri. “Kalau begitu, bagi makanan ini dengan teman-teman yang lain. Kakak akan menemui bibi Ina dan juga paman.” Audrey meletakkan kantong kresek yang cukup besar di tanah, Rose mengangguk antusias. Dia mengambil roti dan membagikannya dengan anak-anak panti yang lain.


Audrey tersenyum tipis, dia berjalan ke masuk ke dalam panti asuhan.


“Bagaimana ini? Kita semakin tidak bisa menanggung semua biaya untuk anak-anak itu!”


Audrey bersembunyi di balik tembok sambil menguping pembicaraan seorang pria berkepala delapan dan seorang wanita paruh baya yang terlihat hampir seumuran.


“Tapi, kita tidak bisa meninggalkan anak-anak itu. Mereka kehilangan keluarga mereka, dan sekarang keluarga mereka adalah kita. Kalau kita meninggalkan mereka, bagaimana nasib mereka nantinya?” kata wanita paruh baya, tatapannya begitu satu dengan lingkaran mata hitam yang terlihat jelas. Begitu pula dengan pria berkepala delapan itu.


Audrey menunduk, dia tidak tau bagaimana membantu mereka semua. “Paman, Bibi.”


Kedua paruh baya itu menoleh ke asal suara, senyuman lembut terlihat dari wajah keriput mereka. “Nak Audrey, kamu kesini lagi?”


Audrey tersenyum. “Iya, sudah lama Audrey tidak kemari. Audrey membawakan beberapa barang-barang untuk anak-anak panti.” Audrey menyerahkan paper bag yang dia bawa, melihat paper bag di tangannya. Audrey tiba-tiba teringat dengan Xavier yang sudah pasti menunggunya di luar butik sambil menenteng paper bag yang berisi gelang yang dia beli.


Audrey tersenyum kecut. 'Sudah pasti dia akan membenciku kan? Semoga saja dia hanya memutuskan pertunangannya dan tidak dengan pertemanan kami.'

__ADS_1


__ADS_2