
“A-apa maksudmu?” tanya Er dengan gugup.
“Aku tau, kau selalu melidungiku dari belakang. Saat penyerangan bandit, saat penyerangan pada zombie, dan juga saat mencari tambahan herbal. Kau diam-diam mengikutiku, kan.”
“T-tidak, itu pasti hanya perasaanmu saja.”
Audrey menghela napas, dia benar-benar tidak habis pikir dengan pria di depannya. Sudah tertangkap basah, namun tetap ingin mengelak. Tapi jujur saja, Audrey merasa hatinya lebih ringan setelah berbicara dengan Er. Seolah semua beban di hatinya menghilang meski hanya sementara.
“Aku tau, dari awal. Kau sudah tau identitasku.”
“Indentitas.. mu?” kata Er bingung, Audrey juga menunjukkan wajah bingung.
“Kau tidak ingat? Beberapa hari yang lalu, kau menemuiku di tengah malam dan membongkar rahasiaku.”
Er terdiam, dia tampak mengingat-ingat sesuatu. “Ah, yang itu. Aku sedikit ingat, tapi sekarang lupa. Jadi beritahu aku lagi rahasia apa yang kita bicarakan waktu itu.”
Audrey menghela napas. “Waktu itu kau membongkar rahasiaku sebagai Chelsea, entah darimana kau mendapatkan info sehingga yakin kalau aku dia. Bahkan kau sampai mengikuti Chelsea demi mendapatkan bukti, tapi yah. Pada akhirnya kau menemukan liontin giokku.”
“Jadi, kau memang benar-benar Chelsea?” tanya Er dengan ekspresi wajah yang sedikit berubah, Audrey menatapnya dengan wajah acuh.
“Apa kau lupa lagi? Kau kan yang datang menemuiku dan berkata ‘Aku tau, kau adalah Chelsea kan. Kau yang menolong Abella beberapa bulan lalu’,” kata Audrey yang memperagakan ucapan Er beberapa hari yang lalu.
“Lalu, apa yang kau katakan?”
Audrey memutar bola matanya malas. “Apa kau itu sudah tua sampai tidak mengingat apapun lagi? Setelah itu, aku mengatakan kalau kau tidak punya bukti tapi kau malah menunjukkan batu giok itu dan bertanya kalau itu milikku kan. Tentu saja aku menjawab iya, dan dia berkata lagi ‘Aku menemukannya di samping mayat Chelsea’. Mayat apanya, orang aku masih hidup,” gerutu Audrey yang tak terima saat dia dikatakan mayat.
Audrey tersadar telah berkata banyak, dia menoleh ke arah Er yang telah menghilang bersama surat-suratnya. “Loh, dia kemana lagi? Apa dia pergi, tapi kenapa tidak memberitahuku? Lalu sedari tadi aku berbicara dengan siapa?” Audrey berdesah frustasi, baru saja dia mendapat teman bicara. Namun temannya itu langsung pergi tanpa pamit hingga dia berbicara dengan angin, menyesalkan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Selamat datang kembali, Yang Mulia.” Seorang pelayan menunduk hormat, Xavier tak menghiraukannya. Dia hanya berjalan masuk ke istana.
“Di mana Xavia? Panggikan dia ke sini!” titah Xavier, dia duduk di sofa sambil memijat pelipisnya pusing.
Tidak lama setelahnya, seorang gadis cantik yang wajahnya hampir mirip dengan Xavier melangkah ke arah pria itu dengan senyum anggun. “Ada apa, Kak? Kenapa kau mencariku.”
Xavier berdiri dan mencekik leher adiknya. “Pasti kau kan yang menyamar sebagai Er dan menemui Audrey! Apa saja yang kau katakan padanya?” tanya Xavier dengan raut wajah dingin.
Namun, seolah diacuhkan. Xavia tetap memasang senyum anggun meski cekalan di lehernya semakin mengerat. “Apa maksudmu, kak? Aku tidak mengerti dengan yang kau katakan.”
__ADS_1
“Jujur saja, Xavia! Pasti aku yang menyamar menjadi Er dan menemui Audrey kan? Kenapa kau melakukannya!?”
Xavia tiba-tiba merasa sesak napas, sialnya. Cekikan di lehernya membuatnya sangat sesak napas. “Aku, tidak.. melakukan apapun.”
“Jangan berbohong!” Xavier langsung melempar Xavia hingga menabrak dinding dan terjatuh sambil memuntahkan darah, dengan langkah arogan. Xavier berjalan ke arah Xavia dan mencengkram rahang gadis itu.
“Beritahu aku yang kau katakan padanya, atau kau akan dijemput oleh ajalmu hari ini!” desis Xavier di akhir kalimatnya.
“A-aku akan beritahu.” Xavia langsung meringis kesakitan, Xavier melepaskan tangannya dan menatap dingin sang Adik. “A-aku menemui Audrey untuk menanyakan sesuatu, tapi dia mengira aku adalah Er dan menceritakan semuanya.”
“Lalu, kenapa kau bisa tau identitas Audrey?”
“I-itu karena saat Kakak menusukkannya, aku melihat dia bangun. Lukanya saat itu tiba-tiba sembuh dengan sendirinya dan membuatku terkejut, setelah itu. Dia melepaskan pisau di perutnya dan membuka topengnya, itu sebabnya aku tau kalau dia Audrey. Dia juga tidak sengaja menjatuhkan liontin gioknya saat itu.”
“Hanya itu saja?”
“Iya, Kak. Sebelumnya, aku juga menemuinya untuk membicarakan sesuatu. Tapi dia marah dan menyuruhku pergi.”
Xavier duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. “Kembalilah ke kamarmu dan obati luka di lehermu itu.”
Xavia memegang lehernya yang sedikit memerah, dia berdiri dan berjalan pergi dibantu beberapa pelayan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Apa? Dia menghilang, tapi kenapa bisa??”
“Saya tidak tau, Tuan Muda. Saat saya mengantarkan makanan, Nona Muda sudah menghilang. Tapi pakaiannya masih berada di lemari, hanya jubah saja yang tidak ada.”
Caesar mengusap wajahnya kasar. “Pergilah, aku akan mencarinya sendiri!”
Pelayan itu menunduk dan segera pergi, Caesar berjalan keluar.
“Ada apa, kak?” tanya Mike sambil memperhatikan Caesar yang berjalan pergi dengan wajah datar.
“Siapkan para pengawal untuk mencari Audrey.”
“Hah? Dia tidak ada di kamarnya?”
Caesar berhenti melangkah, dia melirik Mike. “Audrey kabur dari kamarnya.”
__ADS_1
“Apa!?”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Audrey, apa kau yakin ingin kabur dari kediaman?” tanya Er yang ragu-ragu.
Audrey mengangguk. “Ya, aku yakin. Aku tidak boleh terus bersama mereka.” Audrey menatap Er. “Kuharap kau juga jangan pernah menemuiku lagi, aku bukan Audrey. Aku bukan sahabatmu.”
“Tapi kau menempati raga sahabatku, jadi kau tetaplah sahabatku!”
Audrey tersenyum tipis. “Terima kasih, Er. Terima kasih sudah mau terus menemaniku meski kau sekarang tau kalau aku bukanlah Audrey.”
“Jangan khawatir, kau akan tetap menjadi Audreyku. Sahabatku, jika terjadi apa-apa. Jangan ragu untuk mencariku, aku pasti akan membantumu.”
Audrey mengangguk, dia kembali berjalan dengan kedua hewan kecil yang terus mengikutinya. Audrey berhenti di depan pasar, dia berbalik dan menatap Er. “Cukup temani aku sampai di sini, terima kasih sekali lagi. Sekarang pergilah.”
“Tapi--”
“Pergilah, Er. Jangan pernah menemuiku lagi.”
Er menghela napas. “Baiklah, tapi jika kau membutuhkan sesuatu. Jangan sungkan untuk mencariku.” Er berbalik, dia berjalan pergi.
Audrey mengangkat kedua hewan kecil yang sedari tadi mengikutinya. “Kalian pasti kelelahan, ayo kita pergi jauh dari kota ini.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Nak Audrey, bagaimana kabarmu? Sudah lama kamu tidak kemari.”
Audrey tersenyum. “Maaf bibi, aku sudah jarang kemari. Aku sedang banyak urusan, oh iya. Di mana Rose? Aku tidak melihatnya, biasanya dia yang paling dulu menyambutku.”
Ekspresi wajah wanita pemilik panti itu berubah sedih. “Rose dan Tuan, mereka telah..” Dia tiba-tiba terisak, Audrey berdiri dari kursinya dan mengusap punggung wanita itu.
“Tidak usah diceritakan jika bibi tidak bisa, aku kemari hanya ingin memberikan hadiah perpisahan ini pada anak-anak.”
“Hadiah perpisahan? Kamu ingin kemana, nak?”
Audrey tersenyum miris. “Aku ingin kembali, bibi. Ini mungkin terakhir kalinya aku kemari, tapi aku pasti akan mengirim surat.”
“Hati-hatilah, nak. Diluar banyak bahaya.”
__ADS_1