
Audrey berdiri, dia menatap kedua pria di depannya dengan senyuman. “Aku kembali ke kamar, apa kalian masih mau duduk di sini?”
“Ya, istirahatlah. Audrey.”
Audrey mengangguk, dia berjalan pergi diikuti Gina dari belakang.
Setelah memastikan Audrey menutup pintu, Mike dan Damien saling berpandangan. “Kak, sepertinya dia memang bukan Audrey.”
Damien memegang dagunya berpikir. “Ya, tapi itu belum membuktikan apapun. Kita harus melakukan satu hal lagi.” Damien menoleh ke arah Mike. “Aku tau bagaimana cara membuktikan apa dia Audrey asli atau bukan.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Suara ketukan pintu membuat Audrey yang hendak tidur membuka matanya, dia menghela napas. “Siapa?”
“Nona, saya membawakan teh herbal untuk Anda.”
“Aku tidak ingin! Aku sangat mengantuk, jangan menggangguku lagi.” Audrey bersiap untuk tidur, namun ketukan di pintu membuatnya tidak bisa menutup matanya. “Ish, bawa kemari!” kata Audrey kesal.
Gina membuka pintu kamar, dia berjalan masuk dan meletakkan secangkir teh di meja.
“Teh apa ini?” tanya Audrey dengan mata memicing, Gina tersenyum.
“Ini teh herbal, kata Tuan muda. Ini bisa membuat Anda lebih cepat sembuh dari demam.”
Audrey mengangguk, dia mengibaskan tangannya dan membuat Gina berjalan keluar. Tidak lupa kembali menutup pintu kamar.
Audrey menatap cangkir teh di meja. “Aku sudah minum banyak teh di bawah, jika aku harus minum lagi. Mungkin perutku akan menjadi kembung, apa kubuang saja ya teh ini? Tapi ini diberikan oleh kakak dan mungkin bisa mempercepat pemulihanku,” gumam Audrey sambil memegang perutnya.
“Huh, lebih baik aku membiarkan teh ini saja. Aku bisa sakit perut jika meminum banyak teh.” Audrey berbaring, dia menarik selimut dan menutupi wajahnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Bagaimana?” tanya Mike, Gina menunduk sambil memegang erat nampan di tangannya.
“Saya sudah memberikannya, Tuan. Mungkin Nona sudah meminumnya sekarang, tapi teh apa itu?”
Mike berbalik, dia menghela napas. “Itu teh yang kuberi jahe.”
__ADS_1
“Apa??” Gina menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Bukankah Nona alergi terhadap jahe?”
“Ya, ada yang ingin kucari tau. Kau kembalilah ke kamarmu.”
Gina menunduk, dia berjalan pergi meski pikirannya sangat rumit. Dia sama sekali tidak mengerti dengan pemikiran majikannya itu.
Setelah memastikan Gina pergi, Mike kembali menghela napas. Dia menatap ke arah tembok. “Kak Damien, kau boleh keluar sekarang.”
Damien keluar dari balik tembok, wajahnya sangat datar dan tidak bisa ditebak. “Ayo.” Dia berjalan ke atas tangga diikuti Mike.
“Kak, bagaimana jika dia benar-benar Audrey dan alerginya muncul?” tanya Mike, Damien meliriknya sekilas.
“Kita lihat saja nanti.” Dia membuka pintu kamar Audrey dan melangkah masuk, Mike menoleh ke arah Audrey yang tertutupi selimut. Sementara Damien berjalan ke arah meja dan mengambil cangkir teh. “Tidak berkurang, Audrey tidak meminum teh ini sama sekali.”
“Apa dia tau rencana kita?” Mike menoleh ke arah Damien.
“Itu tidak mungkin, aku sudah memastikan bahkan jahe itu tidak mengeluarkan aroma. Kenapa Audrey tidak meminum teh ini?” Damien menoleh ke arah Audrey.
Suara lenguhan dari Audrey membuat Damien dan Mike saling menatap.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Dia menoleh ke arah meja, Audrey mengambil cangkir teh di meja dan meminumnya. Namun, baru saja seteguk. Dia langsung menutup mulutnya dan berdiri, Audrey berlari kecil ke arah jendela dan memuntahkan semua teh yang diminumnya.
Audrey menyeka mulutnya sambil bergumam. “Kenapa teh itu rasanya sangat aneh? Apa ada sesuatu yang dicampurkan di dalamnya?”
Audrey berjalan ke arah cangkir di meja, dia mengambil cangkir dan mendekatkannya ke hidungnya. “Ini.. apa ada jahe di dalam teh ini?” gumam Audrey, dia meletakkan cangkir teh kembali sambil menerka-nerka siapa yang berani melakukan hal itu. Audrey tiba-tiba terbatuk-batuk.
Dia menutup mulutnya, saat batuknya reda. Audrey menyeringai, dia mengambil cangkir teh dan dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Grand Duke, Mike, dan Damien berkumpul di ruang tamu. Mereka saling menatap satu sama lain. “Apa yang terjadi?”
“Aku tidak tau, Ayahanda. Aku mendengar suara barang pecah di kamar Audrey.”
“Apa Audrey baik-baik saja?” gumam Grand Duke, dia langsung berjalan cepat menuju ke kamar Audrey. Saat Grand Duke membuka pintu, dia melihat Audrey yang gemetar.
__ADS_1
“Audrey, apa yang terjadi?”
Audrey menatap pecahan kaca di lantai dengan mata dan tubuh yang bergetar. “Kenapa ada jahe di dalam teh?” Audrey menoleh ke arah Gina yang seketika gugup. “Gina, apa kau memasukkan jahe ke dalam tehku?? Kau tau kan aku alergi terhadap jahe!”
“M-maaf, Nona. Aku, aku tidak tau apa-apa.”
“Apa maksudmu? Kenapa kau melakukan kecelakaan yang ceroboh seperti ini? Bagaimana kalau alergiku kembali kambuh?” tanya Audrey dengan wajah sok dramatis, Grand Duke menatap dingin Gina yang semakin ketakutan.
Audrey tiba-tiba membungkuk sembari memegangi perutnya dan meringis.
“Audrey, ada apa?” tanya Grand Duke khawatir.
“Sstth, perutku terasa sangat sakit.”
“Panggilkan tabib!” titah Grand Duke, dia kemudian membantu Audrey untuk berbaring di atas kasur. Gadis itu terus meringkuk sambil memegangi perutnya.
“Ayahanda, perutku terasa sangat sakit,” cicit Audrey.
Tidak lama setelahnya, seorang tabib berjalan masuk dengan tergesa-gesa. Dia mengecek denyut nadi Audrey dengan tatapan yang fokus, setelah terdiam cukup lama. Tabib itu menoleh ke arah Grand Duke yang khawatir.
“Jangan khawatir, Nona hanya mengalami alergi. Saya akan membuatkan obat herbal untuk menyembuhkan sakit perut Nona Audrey.”
“Baik, mari saya antar.” Grand Duke dan Tabib berjalan keluar.
Mike dan Damien menatap Audrey beberapa detik sebelum keduanya saling menatap. “Audrey benar-benar alergi, apa dia benar-benar Audrey kita?” bisik Mike, Damien mengangkat bahunya acuh. Dia menatap datar Audrey yang kini tertidur.
'Ada yang aneh dengan sikapnya, apa dia berbohong? Tapi tidak mungkin tabib juga berbohong kan?' Damien menghela napas, dia berjalan pergi dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. Mike yang ditinggalkan sendiri mendengus kesal.
Dia berjalan pergi, sementara Gina masih gemetaran di tempatnya. Dia dengan cepat berlari keluar dan menutup pintu.
Audrey membuka matanya, dia bangun dan menatap datar ke arah pintu. “Rhys,” panggil Audrey pelan, sebuah bola cahaya masuk melalui jendela dan membentuk seorang pria tampan dengan wajah cemberut. “Kerja bagus.”
Rhys melipat tangannya di depan dada. “Ya, ya. Aku tau, tapi kenapa kau menyuruhku menyamar menjadi tabib??”
Audrey menatap datar Rhys. “Kalau tabib benar-benar datang, apa menurutmu aku tidak akan ketahuan kalau aku hanya berbohong.”
“Y-ya, memang benar sih.” Rhys menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Tapi kenapa kau berbohong?”
__ADS_1
Audrey menghela napas. “Semuanya demi mereka juga.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ