
Ada setitik rasa bersalah di hati Eryk, awalnya. Dia hanya ingin mengusili gadis di depannya, namun berakhir rasa kasihan yang terselip di hatinya.
“M-maaf, aku tidak bermaksud..”
Audrey tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, kau ingin pergi kemana?”
“A-aku..”
“Aku akan ke taman, apa kau ingin ikut?” tawar Audrey, moodnya benar-benar sedang tidak bagus hingga dia sedang tidak ingin mencari gara-gara dengan siapapun.
“Em, jika boleh,” jawab Eryk ragu-ragu, Audrey mengangguk. Dia berbalik dan berjalan pergi, Eryk mengikutinya dengan langkah pelan. Pikirannya kini sangat rumit.
Keduanya berjalan dengan kesunyian, Eryk tidak lagi mempertanyakan pertanyaan acak. Dia hanya diam sambil memperhatikan Audrey dari belakang.
'Kenapa dia terlihat seperti bunga yang layu? Aneh, seperti bukan Audrey saja.' Eryk mengetuk-ngetuk dagunya berpikir.
“Eryk,” panggil Audrey berkali-kali, Eryk tersadar dari lamunannya. Dia spontan mengatakan ‘Iya’.
“Ada apa? Kenapa kau melamun?” tanya Audrey sambil berkedip dengan wajah polos, Eryk tersenyum tipis dan berlari kecil ke arahnya.
“Tidak ada apa-apa, ayo kita duduk di bangku itu.” Eryk menunjuk bangku taman yang ada di taman itu, Audrey mengangguk dan duduk di bangku. Sementara Eryk duduk di sampingnya dengan wajah canggung.
Kesunyian kembali melanda keduanya, Eryk terdiam dengan pikiran yang rumit. Sementara Audrey hanya memperhatikan bunga-bunga di depannya sambil mengumamkan kata-kata pujian.
Waktu berlalu dengan cepat, tanpa disadari. Matahari telah terbenam dengan langit yang berwarna orange.
“Nona Audrey!!”
Audrey menoleh ke asal suara, sementara Eryk tersadar dari lamunannya.
“Nona Mia, ada apa?” Audrey berdiri dan berjalan ke arah seorang gadis yang napasnya terengah-engah.
“Nona Audrey, Tuan Muda Mike sedari tadi mencarimu kemana-mana.”
“Kakakku? Kenapa dia mencariku?” tanya Audrey, Mia menggeleng tak tau. “Baiklah, aku akan ke sana.” Audrey menoleh ke arah Eryk yang masih duduk di bangku sambil memperhatikan keduanya.
“Apa kau ingin ikut?”
Eryk menggeleng. “Aku ingin melihat matahari terbenam, kau kembalilah ke asrama.”
Audrey mengangguk, dia mengikuti Mia yang menunjukkan tempat Mike berada.
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Kak Mike.”
Mike yang sedang mondar-mandir di depan pintu asrama putri menoleh ke asal suara, dia berlari kecil dan langsung memeluk Audrey.
“Astaga, kau dari mana saja?? Kakak mencarimu dari tadi!”
Audrey menggaruk tengkuknya. “Maaf, aku terlalu menikmati pemandangan bunga sehingga tidak sadar kalau hari sudah sore.”
Mike melepas pelukannya. “Tidak apa-apa, kau pasti belum makan siang kan? Ayo ke kafetaria.” Mike menggenggam tangan Audrey dan berjalan menuju kafetaria, langkahnya seketika terhenti saat menyadari sang adik masih berdiri di tempatnya.
“Apa kafetaria masih buka di jam ini? Ini Sudah sore.”
“Tidak apa-apa, aku sudah memberitahu bibi Ai untuk menunggumu sebentar. Jadi kafetaria pasti belum tutup.”
“Kasihan bibi Ai, dia pasti menunggumu terlalu lama.”
Mike memamerkan senyum tengilnya yang manis. “Jangan khawatir, bibi Ai sangat baik. Dia tidak mungkin memarahimu, ayo.” Mike kembali berjalan, namun langkahnya lagi-lagi terhenti karena Audrey yang masih tak bergerak.
“Apa Lady Mia ingin ikut?” tawar Audrey dengan senyum manis, Mia membalasnya dengan senyum yang sama manisnya. Hal itu membuat wajah Mike tiba-tiba memerah tanpa sebab.
“Kak Mike, Ayo!”
Mike yang tengah mengangumi kecantikan gadis di depannya tersadar, dia langsung pergi dengan wajah memerah hingga daun telinga. Bayang-bayang wajah cantik Mia berputar di pikirannya seperti sebuah Vidio.
Audrey yang sadar tersenyum sambil menutupi mulutnya. 'Sepertinya Kak Mike menyukai Lady Mia, memang sih. Siapa yang tidak jatuh hati melihat kecantikan dan keramahannya, di dalam novel juga dia sebagai toko pendukung memiliki pribadi yang baik dan tidak sombong. Memang sangat cocok dengan wajahnya yang secantik bidadari.'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Terima kasih, Bibi Ai. Maaf sudah merepotkan bibi.”
Wanita berkepala empat itu tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Nona Audrey. Bibi justru seneng karena Nona Audrey mau ke kafetaria.”
Audrey hanya tersenyum, dia kemudian melirik Mike yang tengah makan dengan tenang. Helaan napas terdengar jelas dan membuat Mike menoleh.
“Ada apa?” tanya Mike, Audrey menggeleng dengan wajah kesal. Dia menusuk-nusuk bakso di depannya dengan garpu, hal itu lantas membuat Mike bergidik.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Nona Audrey, Anda dari mana saja?” tanya Abella, Audrey menguap dan menutup pintu asrama.
__ADS_1
“Aku tadi sedang di taman.” Audrey berjalan ke arah kasurnya dan langsung menjatuhkan diri di atas kasur yang empuk, Abella geleng-geleng kepala melihat sikap Audrey yang sama sekali tidak mencerminkan seorang bangsawan terhormat.
“Nona Audrey, apa Anda berteman dengan Tuan Eryk?”
Audrey yang hendak tertidur dengan posisi menelungkup mendongak ke arah Abella.
“Ah itu, aku tidak terlalu kenal dengannya.” Audrey telentang, dia menatap datar langit-langit asrama. “Dia sepertinya teman sekelas kak Mike, dan kebetulan kami bertemu di kediaman dan bisa dibilang. Cukup kenal.”
“Oh, begitu ya? Aku tadi mendengar rumor yang kurang mengenakan.”
“Rumor apa?” tanya Audrey sambil menoleh ke arah Abella yang menunduk dengan wajah bersalah.
“Kata orang-orang, Nona Audrey memiliki hubungan yang spesial dengan Tuan Eryk.”
Audrey manggut-manggut, dia terlihat acuh tak acuh dengan rumor yang disebarkan oleh seseorang.
“Apa Nona tidak merasa rumor itu salah?”
“Rumor itu memang salah, tapi jika aku menemui si penyebar rumor dan marah-marah dengannya. Bisa-bisa orang salah sangka dan mengira kalau rumor itu benar dan aku memang ada hubungan spesial dengan Eryk, padahal aslinya kami tidak ada hubungan apa-apa.” Audrey menjadikan kedua tangan sebagai bantalnya.
“Nona bener juga, tapi aku merasa tidak nyaman dengan rumor itu,” gumam Abella.
“Merasa tidak nyaman bagaimana? Bukankah yang dirumorkan aku dan Eryk, kenapa jadi kau yang tidak merasa nyaman??” tanya Audrey penuh selidik.
“S-soal itu, a-aku..”
Abella menoleh ke arah Audrey, gadis itu telah tertidur lelap dengan kedua tangannya yang masih menjadi bantalan. Dia menghela napas lega dan berbaring di kasurnya.
'Nona Audrey, kenapa kau lagi-lagi mendominasi keadaan??'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Angin berhembus dengan lembut, sekelebat bayangan dengan cepat melewati balkon asrama dua gadis yang tengah tertidur lelap.
Bayangan itu adalah seorang dengan jubah yang menutupi seluruh badannya dan berdiri di atas genteng sambil memperhatikan sekitaran dengan teliti.
Dia mengarahkan tangannya ke atas tembok, bola api muncul dari depan tangannya dan mulai membentuk tombak. Tombak itu kemudian terbang ke arah tembok dan menusuk sesuatu yang berusaha naik lewat tembok.
'Mereka telah sampai di sini rupanya.'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1