Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 33. Teman baru


__ADS_3

“Ah, kenapa hanya kau saja yang menjadi sahabat Laura?” tanya Audrey sambil menyesuaikan langkahnya dengan Carmelia, wanita cantik itu meliriknya sekilas.


“Apa kamu pernah mendengar legenda tentang seorang iblis yang menikah dengan elf? Laura adalah campuran iblis dan elf, jadi tentu saja darahnya sangat berharga. Apalagi untuk para monster, setetes darahnya saja bisa membuat seorang monster mendapatkan ketahanan fisik.”


“Aku tidak tau soal legenda itu, tapi kalau soal Laura. Aku memang tau kalau dia itu adalah campuran iblis dan elf.” Ucapan Audrey membuat Carmelia berhenti dan menoleh ke arahnya.


“Apa kau dari awal sudah tau identitas Laura?”


Audrey mengangguk. “Iya, aku tahu.”


Carmelia menatapnya dengan tatapan aneh, hanya beberapa detik sebelum dia kembali melanjutkan perjalanannya. Tidak membutuhkan waktu lama, Carmelia berhenti di depan jalan buntu.


“Disini jalan buntu? Bagaimana sekarang?” tanya Audrey sambil menatap Carmelia yang mengangkat tangannya, dia menekan batu besar itu. Dan batu itu langsung hancur berkeping-keping, Carmelia menggenggam tangan Audrey dan membawanya masuk.


“Ah, Melia. Kamu sudah kembali?” tanya seorang pria dengan topi, dia meletakkan kardus yang dibawanya dan berjalan ke arah Carmelia. “Siapa yang kamu bawa? Dia sepertinya bukan dari ras elf.”


“H-halo, perkenalkan. Aku Audrey, aku kemari untuk membawa White pulang.” Audrey menunduk sopan, pria itu mengerutkan keningnya dengan senyuman yang manis.


“W,hite? Siapa dia?”


“Ah, dia--”


“Audrey ingin membawa harimau putih itu pergi.“ Carmelia langsung saja memotong ucapan Audrey, terlihat jelas tatapan wajah pria di depannya itu berubah.


“Kenapa? Dia itu adalah peliharaan raja iblis dan musuh manusia, apa kau adalah.. iblis?” tanya pria itu, dia diam-diam memegang pedangnya.


Audrey memiringkan kepalanya sambil berkedip polos. “Iblis? Ahahaha, aku bukan iblis.” Audrey tertawa terbahak-bahak, saat tawanya mereda. Dia menatap pria di depannya. “Aku manusia seutuhnya, bukan seorang iblis. Jika tidak percaya, silahkan cek saja.”

__ADS_1


Pria itu melirik Carmelia yang mengangguk kecil, dia menghela napas. “Baiklah, aku percaya. Ikuti aku ke kandang harimau itu.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“White, apa kau baik-baik saja?” tanya Audrey khawatir, White yang berbaring di tanah itu menatap Audrey dengan tatapan lemah. Terdapat beberapa luka sayatan di sekujur badannya. “White,” cicit Audrey.


White meraung kecil, Audrey menoleh ke arah pria di belakangnya. “Buka kandangnya! Aku ingin membawa White pergi!!”


“Tidak bisa! Dia sangat berbahaya dan tidak bisa dijinakkan, kau dan manusia lain akan mati jika dia dilepaskan.”


Audrey berdecih, dia menatap White yang semakin lemah. Buliran air bening mengaliri pipi Audrey, dia memegang jeruji besi di hadapannya. “White, jangan khawatir! Aku pasti akan membebaskanmu!”


White meraung sekali sebelum menutup matanya. “White! White!!” panggil Audrey namun White tidak juga membuka matanya.


Audrey membenturkan kepalanya di jeruji besi, dia merasa sangat sakit dan sesak melihat White yang kini dalam keadaan sekarat. Padahal mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu, namun Audrey merasa sudah sangat akrab dan saling kenal dengan White. Audrey menangis sesenggukan.


Tanpa keduanya sadari, barang-barang di belakang mereka beterbangan. Audrey tidak mendengarkan ucapan pria di belakangnya, dia hanya terus terisak sambil mengumamkan nama White.


“Nona Audrey.” Pria itu menyentuh pundak Audrey.


“Menjauh!!” teriak Audrey sambil menatap tajam pria itu dan menepis tangannya dengan kasar, tepat saat itu. Barang-barang yang beterbangan di belakang mereka seolah kehilangan gravitasi dan jatuh pecah ke tanah. Pria itu menoleh ke belakang, gua yang awalnya rapi itu mendadak berantakan dan ada banyak serpihan kaca yang berserakan.


“A-apa yang kamu lakukan?” Tatapan pria itu beralih ke Audrey yang menunduk sambil mencengkram jeruji besi dengan erat, aura kehijauan menguar dari tubuhnya.


Jeruji besi yang dipegangnya tiba-tiba hancur, pria itu terkejut. Dia berjalan mundur ke belakang.


Audrey menatap ke arah pria itu, mata hijau bercahaya terang seperti siang hari. Audrey berdiri dan melangkah ke arah pria itu.

__ADS_1


“Si-siapa kamu sebenarnya??”


Sebuah panah dengan ukiran bunga berwarna hijau itu muncul di tangan Audrey, hal itu sontak membuat pria itu terkejut setengah mati. “L-laura??”


“Kenapa? Kenapa kamu ingin menyakitiku? Apa kamu lupa denganku?” tanya Audrey sambil terus melangkah maju, sementara pria itu terus berjalan mundur hingga punggungnya menabrak dinding gua.


“Laura, tunggu. Kau salah paham!”


Audrey mengangkat panahnya, dia menarik tali panah. Sebuah anak panah muncul bagai sihir. “Kenapa kamu ingin menyakiti sahabatku? Dia adalah kehidupanku sekarang, jika kamu membunuhnya. Aku juga akan mati kembali, apa kamu benar-benar ingin membunuhku?” Audrey melepaskan tangannya, panah dengan cepat melesat ke arah pria itu.


Dia yang tidak yakin untuk menghindar hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan, namun menunggu beberapa menit. Pria itu tidak merasakan apapun, dia menurunkan tangannya dan melihat sekeliling namun tak menemukan siapapun lagi. Pria itu seolah tersadar, dia berlari ke arah jeruji besi namun harimau putih itu tidak lagi ada di sana. Hanya ada bekas besi yang melebur. “Laura.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey terduduk di luar gua sambil terbatuk-batuk, dia memegangi dadanya yang terasa nyeri.


Anjing kecil dan White berdiri di depan Audrey, gadis itu tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, lebih baik kita pergi sekarang sebelum para elf itu mengejar kita.” Audrey memegang dadanya sambil berdiri, dia hendak berjalan namun langkahnya dihentikan oleh Anjing kecil yang menghalanginya. “Ada apa? Kita harus pergi sekarang.”


Anjing itu menggonggong ke belakang, Audrey menoleh dan melihat White yang kini berukuran besar sambil meraung. “Jangan lagi, kau sedang terluk--” Ucapan Audrey terhenti saat dia melihat kaki White yang telah sembuh, white kembali meraung. Audrey menghela napas. “Baik, baik. Aku akan naik.” Dia menggendong anak anjing itu dan naik ke punggung White, dengan cepat. Harimau putih itu berlari pergi.


“Em, bagaimana kalau kita memelihara anak anjing ini juga?” tanya Audrey pada White yang sibuk berlari, harimau itu meraung tanda setuju. Audrey tersenyum manis. “Karena kau sudah menjadi teman kami, aku akan memanggilmu.. Black, bagaimana?”


Black menggonggong, Audrey menggaruk pipinya. “Namanya sedikit aneh ya, tapi tidak apa kan. Black, sekarang kau adalah teman White. Jadi jangan sampai meninggalkan salah satu dari kalian di keadaan berbahaya.”


Black menggonggong dan White meraung secara bersamaan, Audrey tersenyum. Dia tiba-tiba memegang dadanya.


Sebuah panah tiba-tiba melintas dan hampir saja mengenai Audrey, saking tajamnya ujung panah itu. Sedikit rambut Audrey sampai terpotong dan ada goresan di pipinya. Audrey menoleh ke belakang, sialnya. Para prajurit entah dari kerajaan mana mengejar mereka.

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2