Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 17. Anak kecil


__ADS_3

Gadis itu tersenyum tipis dan menjauh, Xavier masih terdiam dan tampak tengah mencerna ucapannya.


Tiba-tiba, gadis itu menusuk leher Xavier dengan sebuah suntikan, Xavier terkejut. Dia menatap wajah datar gadis itu yang tertutupi topeng.


“Maaf, Xavier. Tapi kau hanya akan menjadi pengganggu di misiku kali ini.” Gadis itu tersenyum, senyum yang sangat dikenali Xavier. “Jadi, lupakanlah semuanya dan anggap tidak terjadi apa-apa hari ini.”


Xavier terjatuh ke tanah, gadis itu menatap Xavier sekilas. Dia membuka topengnya dan menghela napas.


'Maaf Xavier, tapi kau akan benar-benar menggagalkan misi yang sedang kujalani sekarang. Kuharap kau tidak membenciku.'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Xavier membuka matanya, dia bangun dan memegang kepalanya yang terasa sakit.


“Yang Mulia, kau sudah bangun?” tanya Eryk yang tengah merapikan gaya rambutnya di depan cermin.


“Apa aku keluar tadi malam?”


Eryk meliriknya dari pantulan cermin. “Apa makaudmu? Kemarin kau dan kami tidur di sini, ayo cepat bersiap. Kita harus memulai kasus ini siang nanti.” Eryk berjalan keluar.


Xavier masih terdiam di atas kasurnya, dia merasa ada yang dia lupakan kemarin. Sesuatu yang terlihat buram di pikirannya dan seperti sangat sulit untuk digapai.


Xavier menghela napas, dia bangun dan berjalan ke kamar mandi.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Kalian dari mana saja?? Aku dan Bella menunggu kalian bertiga sejak tadi!” kesal Audrey, sudah hampir 15 menit dua gadis itu menunggu para pria yang bahkan lebih lama dari para gadis.


Eryk menggaruk tengkuknya. “Maafkan kami, kami kemarin sangat kelelahan sehingga terlambat bangun.”


Audrey mengusap wajahnya kasar, bisa-bisanya dia satu tim dengan para pria yang dibencinya.


“Sudah, sudah. Mari kita ke rumah pak kepala desa, aku dengar. Kemarin terjadi serangan zombie di desa ini,” lerai Abella dengan suaranya yang amat lembut dan merdu.


Audrey berdecak, dia berjalan pergi terlebih dahulu. Abella yang melihat hal itu menghela napas pelan.


“Maafkan sikap Nona Audrey, dia sedari kemarin memang agak aneh.”

__ADS_1


“Ah, tidak apa-apa. Kami sudah biasa,” jawab Eryk santai, Abella tersenyum dan mengajak ketiganya ke rumah pak kepala desa.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Kemarin, Bapak dengar. Ada seorang anak yang di gigit oleh zombie, namun untungnya. Seorang wanita cantik datang dan mengeluarkan racunnya.”


Audrey, Abella, Eryk, Zachary, dan Xavier mendengarkan dengan teliti. Audrey melirik ke arah anak kecil yang tengah bersembunyi di belakang pak kepala desa dan tengah dipeluk oleh pria tua yang mungkin adalah ayahnya.


“Nak, apa salah satu dari keduanya adalah gadis yang menolongmu?” tanya pak kepala desa pada anak kecil itu, anak kecil itu berjalan mendekat ke arah Audrey dan Abella.


“Dia.”


Semua tim terkejut, tatapan mereka semua beralih ke gadis yang ditunjuk anak kecil itu.


“Aku?” Audrey menunjuk dirinya sendiri, anak kecil itu mengangguk. Dia berbalik dan menatap kepala desa.


“Kakak cantik ini menghabisi zombienya dan menolongku, bukan hanya kakak cantik saja. Kakak tampan itu juga ada,” anak kecil itu menunjuk Xavier yang sedari tadi hanya diam dengan pikiran yang bercampur.


“Adik kecil, sepertinya kau salah lihat. Kakak sejak malam ada di kamar.” Audrey berjongkok dan menyamakan tingginya dengan anak kecil itu, anak itu menggeleng.


“Tidak, aku tidak salah lihat. Memang kakak cantik ini yang menyelamatkanku, dia menggunakan topeng rubah yang cantik. Tapi aku tau dari matanya yang berwarna biru!”


“Tidak!! Itu memang Kakak cantik!” Gadis itu berteriak keras, Audrey menutup telinganya dengan kedua tangan. Dia tak mengerti dengan ucapan anak kecil di depannya.


“Kakak tampan juga melihatnya kan!” Anak kecil itu menoleh ke arah Xavier.


“Aku.. tidak ingin apapun,” jawab Xavier pelan, anak kecil itu tiba-tiba terisak.


“Eh?? Ada apa? Apa yang terjadi??”


“Kakiku.. sangat sakit,” cicit anak itu, Audrey menunduk dan menatap bekas gigitan di kaki anak kecil itu. Dia menatap serius luka itu, takut jika anak kecil d depannya akan mengalami infeksi dan membunuh semua orang.


Namun sudah lama menunggu, tapi tidak ada warna keunguan di kulit anak itu. Audrey tersenyum tipis dan mengusap rambut anak itu lembut.


“Jangan khawatir, racunnya sudah dikeluarkan. Kau duduklah di sini dan aku akan menyembuhkan lukanya.”


Anak kecil itu mengangguk, dia duduk di atas kursi. Audrey mengangkat tangannya dan diarahkan ke luka anak kecil itu, dia menutup matanya dan mengatur napasnya. Badannya seolah dialiri cairan yang sangat hangat.

__ADS_1


“Healing.. magic.”


Xavier memegang kepalanya yang terasa sangat sakit, dia seolah pernah mendengar kata itu.


Cahaya biru keunguan keluar dari telapak tangan Audrey dan memasuki luka anak kecil itu.


“Apa sangat sakit?” tanya Audrey sambil menatap anak kecil itu, dia menggeleng kecil padahal air mata terus mengaliri.


“Sudah selesai.” Audrey menepuk-nepuk kedua tangannya seolah membersihkan debu, dia berdiri dan menatap mereka semua yang juga menatapnya.


“Ada apa?” tanya Audrey.


“Ah, tidak apa-apa. Kami hanya kagum karena sepertinya kau sangat mahir sihir penyembuhan.”


“Ah, soal sihir. Aku tidak terlalu tahu banyak. Hanya sihir penyembuhan saja karena itu masuk dalam kategori kesukaanku.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Gadis itu memasukkan bubuk hitam ke dalam botol kaca kecil, dia kemudian meletakkannya di atas meja dan bersandar di kursi.


“Huh.. aku hanya mengumpulkan enam botol bubuknya, aku sepertinya harus berusaha lebih keras untuk mendapat 25 botol racun zombie itu.” Gadis itu memijat pelipisnya, dia berdiri sambil mengambil botol yang berisi bubuk hitam itu.


Gadis itu berjalan ke arah lemari dan meletakkan botol itu di antara botol-botol lain, bukan hanya racun berwarna hitam. Ada bubuk dengan warna-warna lain yang juga diletakkan di sana.


'Waktuku hanya tiga hari, jika aku tidak bisa mendapatkan semua racun itu tepat waktu. Warga desa yang berubah menjadi zombie tidak akan bisa diobati lagi.. termasuk ibu dari anak kecil itu.'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Terima kasih sudah membantu kami, Nak.”


“Tidak masalah, bibi. Kami senang bisa membantu kalian, lain kali. Jika kalian membutuhkan bantuan, beritahu kami saja.” Audrey melirik Abella yang tengah terduduk dengan napas terengah-engah.


“Bella, ayo kita kembali,” Audrey berjalan lebih dulu, dia melirik Abella yang masih duduk di tanah.


'Apa dia begitu kelelahan? Padahal kan, kami hanya membantu mengambil kentang.' Audrey mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, dia kini merasa kalau Abella mungkin tidak pernah melakukan pekerjaan seperti itu.


Audrey mengangkat bahunya acuh. 'Yah, pasti dia tidak pernah melakukannya. Dia kan termasuk bangsawan manja, meskipun tidak ada yang tau. Lagipula, kenapa aku perduli? Bahkan seharusnya aku memberi pelajaran padanya karena membuat tuduhan palsu sehingga Audrey dihukum!'

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2