Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 32. Harimau putih


__ADS_3

Audrey meraba-raba dinding kuno yang menjadi penghalang untuknya keluar, dia berdecak sambil duduk di lantai. 'Kau ini sungguh merepotkanku, kau yang dalam masalah. Aku yang kau repotkan.'


“Huh, apa yang harus kulakukan pada monster ini?” gumam Audrey sambil memperhatikan Harimau yang berusaha untuk meraihnya.


Tiba-tiba, monster yang sedari tadi meraung itu berhenti bersuara. Audrey mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah harimau itu. 'Apa yang..' Belum selesai ucapan Audrey, harimau itu tiba-tiba menunduk seolah memberi hormat.


'A-apa yang terjadi?' Audrey berdiri, dia menatap harimau putih itu dengan kening berkerut. Audrey melihat sekeliling namun tak melihat siapapun. “Apa kau hormat padaku?” tanya Audrey sambil menunjuk dirinya sendiri, harimau itu sedikit mendongak dan menatapnya.


Dia memiringkan sedikit kepalanya dan terlihat sangat imut meski ukurannya yang besar, harimau itu hanya mendongak beberapa detik sebelum kembali menunduk.


“Eh..” Audrey dengan ragu-ragu berjalan maju ke arah harimau itu, dia menelan salivanya sambil menjulurkan tangannya karena dia tidak bisa lagi melangkah maju.


Harimau itu mendongak, menatapnya dengan wajah yang imut bak anak kucing. Dia mengendus tangan Audrey sebelum menunduk, karena jarak yang dekat. Audrey ragu-ragu mengusap kepala harimau itu, dan ajaibnya. Harimau itu tidak menolak sama sekali, dia justru terlihat senang saat Audrey mengusap kepalanya.


“Apa yang--”


“Kandang harimau itu tiba-tiba terbuka, Audrey melangkah mundur saat harimau itu keluar dari kandangnya. Ruangan yang luas dan besar membuat harimau itu sedikit leluasa untuk bergerak.


“Apa yang terjadi padamu?” tanya Audrey pad harimau itu, harimau itu tampaknya mengerti dengan ucapannya. Dia meraung keras.


Tiba-tiba, terdengar suara melangkah dari luar. Audrey seketika panik, dia mengigit kukunya sambil mondar-mandir. “Aku harus apa? Ada orang yang kemari.”


Harimau itu kembali meraung dan membuat Audrey mengalihkan pandangannya. “Ada apa?”


Harimau itu berbaring di tanah, dia menatap Audrey dengan mata merahnya yang indah. “Apa kau ingin aku naik?” tanya Audrey ragu, harimau itu mengangguk. “Em, baiklah.” Audrey dengan susah payah naik ke atas punggung harimau itu, setelah memastikan Audrey duduk dengan nyaman.


Harimau itu berdiri dan melompat ke atas kandang dan menerobos tembok.

__ADS_1


Tepat saat harimau itu keluar, pintu dibuka. Seorang wanita dengan seragam pelayan bergerak ketakutan saat melihat kandang harimau dan juga tembok yang hancur.


Nampan yang dia bawa terjatuh ke lantai, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Monsternya.. monsternya hilang!!”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey bersandar di salah satu pepohonan, dia mengatur napasnya yang memburu. Audrey menatap harimau yang kini berada di pangkuannya. “Ternyata kau bisa mengecil juga, seharusnya kau mengecil dari tadi dan biar aku yang menyelamatkanmu,” gumam Audrey sambil mengusap punggung harimau putih yang tengah tertidur itu. “Kau pasti kelelahan ya, terima kasih sudah menyelamatkanku. White.” Audrey tersenyum sendiri saat mengingat nama yang dia berikan untuk Harimau itu, White. Sesuai dengan warnanya yang putih.


Audrey mengangkat White dan diletakkan di atas rerumputan, dia berdiri dan melihat sekitaran. “Huh, ternyata kerjaan mereka ada di tengah hutan. Di mana aku sekarang? Dan aku harus pergi kemana?” Audrey kembali menghela napas, dia menunduk dan menatap White. Namun matanya tanpa sengaja menangkap luka sayatan di kaki kiri White.


Dia duduk dan mengangkat White ke pangkuannya, dia memperhatikan luka di kaki White dengan seksama. Audrey mengangkat tangannya ke arah luka sayatan itu, dia menutup matanya dan mengucap mantra.


Beberapa detik menunggu, Audrey tidak merasakan apapun. Dia membuka matanya dan melihat luka di kaki White yang tidak sembuh. “A-apa yang terjadi??” Audrey menatap kedua tangannya dengan wajah terkejut.


Audrey kembali mengangkat tangannya dan mengucap mantra, namun tetap tidak ada yang terjadi. “Tidak mungkin.”


Audrey berlari kembali, namun sesampainya di sana. White tidak lagi ada di situ, dia meletakkan tanaman herbal dan dengan panik mencari White di sekitar sana namun tak menemukan harimau kecil itu.


Audrey terduduk di tanah. “Apa.. apa ada seseorang yang menemukan White dan menculiknya??”


Suara gonggongan anjing membuat Audrey menoleh, dia menatap anak anjing yang terlihat imut dan polos. “Apa kau tau di mana White? Aku mencarinya dari tadi, tapi aku tidak bisa menemukannya.”


Auman harimau membuat Audrey mendongak, dia berdiri dan melihat sekeliling untuk mencari asal suara. Auman harimau kembali terdengar, kini lebih jelas dari sebelumnya. Audrey mengendong anak anjing itu dan berlari ke asal suara, langkahnya terhenti di depan gua yang ditutupi tanaman merambat.


Audrey menurunkan anjing kecil itu dan berjalan masuk sambil menyingkirkan tanaman merambat yang menghalangi jalannya.


Namun, karena suasana gua yang gelap. Dia tanpa sengaja menginjak tanaman merambat dan terjatuh ke tanah. “Aww,” ringis Audrey, dia hendak berdiri namun tanaman merambat melilit kakinya. Audrey hendak membuka lilitan tanaman itu, namun tangannya justru ikut terikat. “Ish, menyebalkan sekali!”

__ADS_1


Tiba-tiba, sebuah api membakar tanaman merambat yang melilit Audrey. Gadis itu memegangi pergelangan tangannya, suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


“Siapa kamu?” tanya seorang wanita yang cantik, telinganya agak runcing dan mahkota bunga di kepalanya, Audrey terdiam sambil mengumamkan kata-kata pujian. Sungguh wanita di depannya itu sangat cantik.


Wanita itu mengerutkan keningnya. “Kamu siapa? Kenapa kamu bisa masuk kemari?”


Audrey tersadar dari kekaguman, dia berdiri dan tersenyum. “Hay, namaku Audrey. Apa kau dari ras elf?”


“Ya, ada perlu apa sampai kamu masuk ke gua ini?”


“Aku ingin mencari harimau kecil berwarna putih dan juga imut, apa kau melihatnya?”


Wanita itu mengerutkan keningnya. “Audrey? Nama yang aneh, dan juga. Kenapa kamu mencari harimau itu? Itu adalah harimau yang dipelihara raja iblis dan juga kuat, karena harimau itu.” Wanita itu menunduk. “Sahabatku jadi tiada.”


“Tunggu, apa kau kenal dengan Laura??” tanya Audrey antusias, wanita itu mendongak ke arahnya dan mengangguk.


“Kenapa kamu tau nama sahabatku? Apa kamu mengenal dia?”


Audrey menggaruk pipinya, dia tidak tau bagaimana cara memberitahu pada elf di depannya tentang hal sebenarnya. “Ah, A-aku pernah bertemu dengannya! Dan harimau itu adalah.. eumm, temanku!”


Wanita itu tiba-tiba menatap dingin Audrey, dia tersenyum. “Kalau begitu, masuklah. Harimau itu ada di dalam.” Wanita itu berjalan lebih dulu, Audrey mengikutinya dari belakang sambil melihat obor yang menyala di dinding gua.


“Oh iya, siapa namamu?”


“Namaku Carmelia, aku adalah satu-satunya sahabat Laura.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


__ADS_2