
Audrey tersenyum. “Jangan khawatir, aku akan selalu baik-baik saja.”
“Tapi--”
“Dengarkan ucapanku, aku akan mencabut pedangnya dan kau tetap sembuhkan lukaku. Apa bisa?”
Mia dengan ragu mengangguk, Audrey menutup matanya. Kedua tangannya memegang pedang dengan erat. 'Jangan khawatir, kau akan melindungi jiwaku kan. Laura, kali ini. Aku akan mempercayakan hidupku padamu.' Dia dengan pelan-pelan menarik pedang itu, namun tangannya langsung dihentikan oleh seseorang.
Audrey membuka matanya. “Kenapa kau menghalangiku?”
“Jangan bercanda! Apa kau mau mati!?”
Audrey terdiam. “Jadi kau ingin menarik pedang itu?” tanya Audrey dengan wajah datar, Xavier terdiam.
“Jangan bodoh! Kau bisa mati,” kata Xavier dengan nada lirih.
“Maka pergilah, bantu teman-temanmu yang lain. Aku bisa mengurus diriku sendiri!”
“Baiklah.” Xavier menyentuh wajah Audrey dan membuat wajah gadis itu memerah. “Jangan sampai kau terluka lagi, aku tidak ingin kau sampai kenapa-napa.”
Audrey mengigit bibirnya menahan senyum. 'Sial, sial, sial!! Kau tidak seharusnya begini!!' Audrey menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. “Baiklah.”
Xavier mengacak rambut Audrey sekilas sebelum membantu siswa-siswi yang lain.
“Khem, jadi. Chelsea, apa kau masih ingin menariknya sendiri atau aku yang menariknya?” tanya Mia tiba-tiba, Audrey menghela napas.
“Cukup sembuhkan saja, aku akan mengurus sisanya.” Audrey menutup matanya. 'Kumohon, Laura. Buka segelnya dan biarkan aku menggunakan sihirmu meski hanya sebentar.'
Pedang yang terkena darah Audrey seolah terbakar, seperti sebuah dedaunan kering. Pedang itu hancur lebur dibakar api.
Tepat saat pedang itu menghilang, Mia juga telah selesai menyembuhkannya tanpa bekas. “Huh, aku pikir aku akan gagal,” kata Mia sambil mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.
Audrey memegang perutnya sambil berdiri, tatapannya terpokus ke arah pertarungan yang tengah berlangsung. Matanya tidak sengaja menangkap hal ganjil, Raymond. Meskipun pria itu tertusuk pedang ataupun terkena sihir, dia tetap biasa-biasa saja seolah tidak terkena apapun. Apalagi luka di tubuhnya dengan cepat menghilang.
“Mustahil! Tidak mungkin kan, kalau dia itu.. abadi,” gumam Audrey terkejut, Raymond menyeringai. Dia mengangkat tangannya ke arah White yang membantu menghabisi para monster.
Tiba-tiba, White meraung dan membuat Audrey mengalihkan pandangannya ke arah White. Mata merah harimau putih itu mengeluarkan cahaya dengan aura ungu yang keluar dari tubuhnya dan mengelilinginya
“Tidak mungkin, dia..” Audrey dengan sempoyongan berjalan ke arah White dengan sebelah tangan yang memegang perutnya dan sebelah lagi terangkat ke arah White yang mulai menggila dan menyerang siswa-siswi yang tengah bertarung. 'Tidak mungkin, White! Raymond.. dia mengambil alih pikiran White.'
__ADS_1
Luka di lengannya yang baru saja sembuh kembali terbuka, Audrey meringis sambil terus melangkahkan kakinya ke arah White.
White menatap Audrey seolah melihat mangsanya, dia berlari ke arah Audrey sambil membuka mulutnya dan memperlihatkan taringnya.
“White.. tolong kendalikan dirimu,” cicit Audrey, dia terjatuh ke tanah.
“Chelsea!”
“Audrey!!”
Audrey membuka matanya, dia menghela napas dengan sebelah tangan yang terarah ke White. “Sungguh merepotkan, kau benar-benar selalu merepotkanku. Audrey.” Audrey alias Laura berdiri dengan tangan yang masih terus terarah ke White yang berhenti dengan mulut terbuka lebar ke arahnya.
Laura memainkan rambutnya, dia melihat ke arah beberapa orang yang menatapnya dengan wajah tercengang. “Sungguh berisik, aku sangat mengantuk tapi tetap keluar. Kau memang merepotkanku.”
Laura mengalihkan pandangannya ke White, dia mengepalkan tangannya dan membuat tubuh White seolah diremas dan mengeluarkan darah. Harimau putih itu meraung kesakitan. “Kau merepotkanku, White. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan melukaimu hingga mati. Atau aku akan diomeli habis-habisan oleh Audrey.”
“Akhirnya kau muncul, Lauraku.”
Laura menoleh ke asal suara, dia menurunkan tangannya saat White yang kini terbaring sekarat. “Sudah lama tidak bertemu, Yang Mulia.” Dia berjalan dengan tenang ke arah Raymond.
“Kemarilah, jika kau ingin teman-temanmu yang lain selamat.”
“Pintar, jadi kau tidak boleh lagi kabur atau kau akan mati.”
“Oleh sebab itu, aku tidak akan ikut denganmu lagi.”
“Apa?”
Laura melirik ke belakang, banyak lebah terbang ke arah mereka sambil berdengung. Medang perang yang diisi suara dentingan pedang kini berubah menjadi suara teriakan memilukan dari para monster yang tersengat lebah, namun ajaibnya. Hanya para monster yang disengat oleh lebah, murid-murid berdiri tercengang di tempat mereka.
“Aku sudah katakan, bukan? Aku tidak akan ikut denganmu lagi.”
“Heh, sepertinya kau lebih kuat dari sebelumnya.”
Laura menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. “Terserah kau ingin mengatakan apa, pergilah dari sini sebelum kematian menjemputmu sekarang.”
Raymond terkekeh geli. “Jadi kau pikir kau bisa mengalahkanku, begitu?”
“Tidak, aku tidak bilang aku akan mengalahkanmu. Kan?”
__ADS_1
“Lalu?”
Laura memegang dagunya berpikir. “Bagaimana ya cara menjelaskannya, yang pasti. Aku tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari sini,” bisik Laura tepat di samping telinga Raymond.
“Jadi kau sedang mengancamku sekarang?”
Laura berbalik. “Lupakan saja, itu tidak penting lagi.” Dia berjalan pergi dengan wajah datar.
“Berhenti di situ, atau dia akan mati.”
Laura menghela napas. “Kenapa kau selalu ikut campur, Abella. Kau membuat masalah semakin banyak.” Dia berbalik ke arah Raymond yang menyandera Abella entah sejak kapan. “Lepaskan dia, Raymond. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita.”
“Maka ikutlah denganku, dan aku akan melepaskannya.”
Laura menghela napas. “Kalau begitu, bunuh saja dia. Aku tidak perduli.” Dia berbalik dan berjalan pergi, Laura hanya mengacuhkan teriakan minta tolong Abella. “Aku benar-benar sangat lelah.” Laura duduk di tanah.
“Jangan bercanda, Audrey! Kau malah duduk di saat berperang??”
“Berisik mati saja sana!” kata Laura dengan mata yang ditutup.
“Kau.”
“Hah, berisik sekali di sini.” Laura menutup telinganya dengan kedua tangan. “Aku ingin tempat yang sunyi dan sepi.”
Seseorang tiba-tiba menyentuh pundaknya dan membuat Laura membuka matanya sambil mengerutkan keningnya. “Apa kau bisa jangan bertindak gegabah di sini?”
“Aku sangat kelelahan, tau. Menggunakan sihir dalam keadaan tersegel itu menyakitkan.” Laura memegang dadanya. “Huh, waktuku sudah selesai. Selamat tinggal.”
“Kau sungguh bodoh.”
“Hm, terserah kau!” Audrey melipat tangannya dengan wajah kesal. “Aku memang bodoh, lamban berpikir dan menyebalkan,” gerutu Audrey kesal, baru saja dia mengambil alih raganya. Dia sudah dikatai bodoh.
“Kau salah paham, yang kukatai bodoh bukan kau.”
“Hm, jadi. Bagaimana sekarang?”
“Kita hanya perlu menghabisi Raja iblis, dengan begitu. Para monster lain pasti akan hancur.” Xavier merangkul pundak Audrey namun tangannya langsung ditepis oleh gadis itu.
“Cih, jangan merangkulku! Aku benci itu.” Audrey menoleh ke Raymond yang berdiri di tempatnya dengan seringai.
__ADS_1