Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 34. Tersesat


__ADS_3

'Bagaimana ini? Aku juga sepertinya tidak memiliki sihir lagi, aku juga tidak membawa senjata apapun. Jika membawa White dan Black pergi, pasti tidak akan sempat!'


“Aku tau!” gumam Audrey saat mendapatkan sebuah ide. “White, pergi ke sebelah sana!” Dia menunjuk ke arah selatan, White segera berbelok ke arah selatan dan mempercepat langkahnya.


Tidak lama kemudian, White berhenti di tepi jurang. Audrey turun sambil menggendong


Black. “White, mengecil dan biarkan aku yang membawamu.” White meraung, tubuhnya perlahan mengecil hingga seperti bayi kucing. Audrey hendak berlari pergi, namun para prajurit itu telah mengelilinginya.


“Serahkan monster itu dan dirimu sekarang!” Salah satu prajurit menodongkan tombaknya ke arah Audrey, gadis itu melangkah mundur sedikit demi sedikit hingga dia hampir terjatuh ke jurang.


Audrey melirik ke belakang dan tersenyum tipis pada para prajurit itu. “Kalian menginginkannya kan?”


“Benar, serahkan kedua mo--” Belum selesai ucapan prajurit itu, Audrey sudah lebih dulu berbalik dan melompat ke arah jurang yang puluhan meter jauhnya.


Para prajurit itu mendekat ke arah jurang dan menunduk ke bawah, mereka langsung bergidik saat tidak melihat apapun. “Pasti gadis itu sudah mati sekarang.”


“Benar, dia sangat nekat hingga lompat di tebing yang tingginya berpuluh meter.”


“Ada apa?”


Para prajurit itu menoleh ke asal suara, mereka langsung menunduk saat melihat seorang pria dengan pakaian kasual yang menaiki kuda. “Yang Mulia putra mahkota, kami menemukan seorang gadis yang membawa dua hewan. Dan salah satunya adalah harimau putih.”


Dia itu memegang dagunya dengan wajah datar. “Harimau putih? Apa harimau itu yang diromurkan orang tentang peliharaan raja iblis? Apa kalian yakin?”


“Benar, Yang Mulia. Bahkan harimau itu menuruti perintah si gadis.”


“Heh, lalu di mana mereka?” tanya pria itu.


“Yang Mulia, mereka melompat dari tebing.”

__ADS_1


“Apa??” tanya pria itu terkejut. “Melompat dari tebing ini? Bukankah tebing ini memiliki tinggi berpuluh-puluh meter? Mustahil ada yang bisa hidup setelah terjatuh ke sini, apa gadis itu bodoh?” gumam pria itu, dia menghela napas.


“Benar, Yang Mulia. Di tangannya juga ada seekor anjing kecil.”


Pria itu kembali menghela napas. “Ayo kita kembali.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Suara raungan harimau dan suara gonggongan anjing saling bersahutan, White meletakkan sebelah kakinya di tangan Audrey yang tak sadarkan diri.


Sementara Black berlari entah kemana, White terus saja meraung bermaksud untuk membangun Audrey namun tetap tidak bisa.


Tiba-tiba, semak-semak di sekitar bergerak. White segera membelakangi Audrey sambil meraung keras.


Keluar lima ekor serigala bertubuh besar yang mengelilinginya keduanya, White melihat para serigala itu bergantian sambil meraung.


Para serigala itu melolong dan melangkah ke arah keduanya, namun. Langkah para serigala itu berhenti saat tubuh White mulai membesar dengan bola mata merah yang menatap tajam para serigala.


Para serigala itu langsung melangkah mundur dan berlari pergi, White menatap Audrey yang memuntahkan semua air yang ditelannya tadi. Gadis itu bangun sambil mengusap mulutnya. “White, apa yang terjadi?”


White meraung, Audrey berusaha berdiri dan mengangkat White yang telah menjadi kecil. Dia melihat sekeliling. “Di mana Black? Bukankah seharusnya dia ada di sini?”


Suara gonggongan anjing membuat Audrey tersenyum, Black berlari ke arah Audrey dengan senang. Gadis itu mengangkat anak anjing itu dan berjalan pergi sambil melihat sekitaran.


'Kita ada di mana sekarang? Aku harus ke mana?' Audrey menatap linglung pohon-pohon besar di depannya, dia hanya berjalan ke sembarang arah namun pada akhirnya. Audrey tetap kembali ke tempat awal. “Sial!” gumam Audrey, dia duduk di tanah karena kelelahan.


Audrey meringis sambil memegangi perutnya yang terasa perih. 'Sudah berjam-jam aku berjalan, tapi kenapa aku tidak bisa keluar dari hutan lebat ini? Bahkan, aku merasa kalau aku hanya berputar-putar di tempat yang sama.' Audrey mendongak ke arah langit yang mulai berwarna oranye.


“Huh, bagaimana sekarang?” gumam Audrey, dia berdiri dan kembali berjalan. Kali ini, Audrey mengambil batu dan membentuk tanda silang di salah satu pohon. Dia terus memberi bentuk silang pada beberapa pohon hingga malam tiba.

__ADS_1


Audrey menemukan gua di sana, dia menoleh ke belakang beberapa detik sebelum berjalan masuk ke dalam gua. 'Tidak tau apa gua ini akan aman, tapi jika aku terus berkeliaran di luar. Ada kemungkinan aku akan dihabisi oleh hewan buas, apalagi aku tidak lagi memiliki sihir.' Audrey menghela napas, suasana gelap hutan membuatnya kesulitan melangkah. Dia hanya bisa mengandalkan dinding gua untuk terus maju.


Namun, karena tidak hati-hati. Audrey tanpa sengaja tergelincir dan jatuh ke tanah. “Aww,” ringis Audrey, dia hendak bangun namun rasa sakit di kakinya memaksanya untuk kembali duduk. 'Apa kakiku terkilir? Rasanya sangat sakit.'


“Cepat! Mungkin dia bersembunyi di dalam!”


Suara beberapa orang membuat Audrey menoleh ke belakangnya, dia memegangi kakinya sambil terus melihat ke belakang. Suara langkah kaki banyak orang dan cahaya obor semakin mendekat ke arahnya.


Audrey menghela napas, dia meletakkan White di pundak kirinya dan Black di pundak kanannya. “Kalian jangan berbicara dan pegangan yang erat,” gumam Audrey, dia menjadikan tembok sebagai tumpuan dan berdiri. Audrey dengan terhuyung-huyung masuk ke gua yang lebih dalam.


“Cepat! Jangan sampai di lari!”


“Apa kau yakin dia masuk ke sini?”


“Aku sangat yakin, ayo cepat masuk!”


Audrey semakin mempercepat langkahnya, namun kakinya justru terasa semakin sakit. 'Sakit, aku harus ke mana sekarang?' batin Audrey, dia berhenti. Di depannya tanya ada jalan buntu dan di belakangnya ada orang-orang yang mulai mendekat.


“Aku harus apa sekarang?” gumam Audrey, dia tidak bisa maju ataupun mundur.


Di saat genting, seseorang tiba-tiba menariknya bersembunyi di cela bebatuan. Mata Audrey membulat saat melihat siapa orang yang menolongnya. “Sstth, diamlah. Atau kita akan ketahuan,” gumam orang itu sambil membekap mulut Audrey, dia sesekali melihat ke luar dan memperhatikan beberapa prajurit yang berjalan ke arah mereka.


“Di sini jalan buntu, tidak ada jalan lagi. Apa dia sudah keluar?”


“Itu mustahil! Tidak ada jalan lain selain jalan yang kita lewati, tidak mungkin dia bisa pergi tanpa terlihat oleh kita.”


“Mungkin kau salah lihat, ayo kita keluar. Gua ini terlihat berbahaya.”


Suara langkah kaki yang menjauh mulai terdengar dan menghilang, barulah orang itu menurunkan tangannya sambil menatap Audrey.

__ADS_1


“Kau, siapa kau?? Kenapa kau bisa di sini??”


Pria itu menggaruk kepalanya dengan senyum canggung. “Aku.. aku ingin pergi ke suatu tempat. Tapi karena suara hewan buas, aku terpaksa bersembunyi di gua ini dan menemukan tempat ini! Oh iya, kenapa kau bisa masuk ke sini? Ini adalah hutan terlarang orang-orang dilarang masuk.”


__ADS_2