
“Tunggu, kata-katamu barusan.. kenapa kau tau kalau Raja iblis sekarang sangat lemah dan tidak memiliki kekuatan?” tanya Damien.
Audrey menoleh ke arah Mike dengan senyuman manis yang sentiasa menghiasi wajahnya.
Mike menghela napas. “Audrey ke akademi dengan menyamar sebagai Chelsea, awalnya aku tidak yakin dengan tebakanku. Tapi setelah mendengar kata-kata yang tidak sengaja diucapkannya waktu itu, aku jadi yakin kalau dia Audrey.”
“Kenapa kau tidak memberitahu kami sebelumnya??”
“Aku tidak ada waktu, dan lagi. Aku baru kembali ke sini tiga hari yang lalu dan aku lupa.”
“Tapi--”
Audrey bertepuk tangan dua kali. “Kalian berdua, jangan bertengkar di sini. Aku--”
“Katakan semuanya hanya bohong!” sela Damien cepat, dia menunduk dengan mata bergetar. “Apa kau..”
Audrey tersenyum manis. “Akhirnya Kakak mengerti ucapanku.”
“Apa? Apa maksudnya??” Mike menoleh ke arah Damien yang terlihat shock.
“Kau tidak menggunakan sihirmu untuk menyegel kekuatan raja iblis sementara, kan?” kata Grand Duke.
Audrey menggeleng. “Salah, waktu kalian habis. Aku akan kembali ke kamar dan bersiap-siap, aku harap.” Audrey tersenyum lebar hingga matanya menyipit. “Kalian tidak akan mengingatku lagi.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Apa maksud dari kata-kata Audrey barusan, Kak? Kenapa dia mengatakan hal itu?” tanya Mike pada Damien yang sedari tadi hanya diam dengan wajah tertunduk.
“Tidak mungkin, itu pasti bohong! Yang kupikirkan tidak mungkin nyata!” gumam Damien terus menerus dan membuat Mike yang terus mendengarnya menjadi pusing.
“Kak, apa maksudnya?? Kenapa aku tidak mengerti sama sekali, dan kenapa Ayah membiarkan soal segel-menyegel??” Mike memegang pundak Damien namun tangannya langsung ditepis oleh pria di depannya.
“Jangan menyentuhku, dia berkorban karena kita. Dia ingin kita semua selamat dengan mengorbankan dirinya sendiri! Semuanya adalah kesalahan kita!”
“Apa--”
Damien berdiri dan berjalan keluar dengan langkah cepat, Mike duduk di kursi dan memijat pelipisnya pusing. “Sebenarnya apa yang terjadi? Tunggu!” Dia tiba-tiba tersadar sesuatu. “Apa maksud Kak Damien mengatakan ‘Mengorbankan dirinya sendiri’? Apa Audrey mengorbankan dirinya? Be-berarti.. berarti dia akan mati.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
“Di mana Audrey??” tanya Damien pada Gina yang tengah menyapu.
“Nona sudah keluar sejak siang tadi, dia kemarin memasukkan barang-barangnya ke dalam tas hingga tidak tidur sejak malam.”
Damien berdecih, dia berjalan pergi dengan langkah besar dan membuat Gina mematung di tempat dengan wajah bingung.
'Sebenarnya, apa yang membuat Tuan Muda tergesa-gesa dan tidak sabar? Apa dia tau kalau Nona akan kabur dari kediaman hari ini??' batin Gina terkejut, dia langsung mengejar Damien sambil berteriak. “Tuan Muda, tolong berhenti dulu!!”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Kau datang lebih awal, padahal aku ingin menyiapkan tempat ini agar kau terpesona nantinya,” kata Xavier yang baru saja sampai.
Audrey yang duduk di atas karpet menghela napas. “Duduklah di sini, aku mengajakmu kemari untuk melihat matahari terbenam.”
Xavier mengangguk membenarkan. “Ide bagus, melihat matahari terbenam bersama. Bukankah itu sangat romantis??” Dia memegang dagunya berpikir. “Seharusnya aku datang lebih awal dan menyiapkan tempat indah di sini,” gumam Xavier.
“Apa kau tidak ingin duduk? Aku menyiapkan makanan untukmu.” Audrey menjeda ucapannya. 'Makanan terakhir yang kubuat,' lanjutnya dalam hati. “Meski hanya makanan sederhana, tapi semoga kau suka.”
Xavier duduk di tepi karpet, dia menatap takjub semua makanan di depannya. “Aku tidak tau kau pintar memasak, aku pikir kau ha--”
“Hanyalah gadis manja yang jahat dan bodoh?” kata Audrey sambil terkekeh, dia memakan mi yang dia siapkan untuk dirinya.
“Tidak apa-apa, aku mengerti. Ayo makan.”
“Itu, di surat yang kau tulis. Kau ingin mengatakan sesuatu, bisa katakan sekarang?” tanya Xavier yang mengambil mangkuk berisi mi di depannya.
“Aku tidak menulis begitu.”
“Eh, lalu kenapa di surat tertulis kalau kau mengajakku kemari saat matahari terbenam karena ingin membicarakan sesuatu?”
Audrey melirik ke arah lain. 'Apa aku salah ingat? Ah, tidak mungkin! Aku yakin aku tidak menulis itu di suratku, lalu siapa? Dan lagi, aku mengantarnya menggunakan merpati. Tidak mungkin dia akan berhenti di suatu tempat.'
Audrey menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Begitu ya? Mungkin aku hanya salah tulis.”
“Oh, apa kau mengajakku kemari hanya untuk mencoba makanan buatanmu dan melihat matahari terbenam?”
Audrey menatap serius Xavier. “Aku.. juga ingin mengatakan sesuatu.”
“Apa? Kau ingin mengatakan apa? Beritahu aku.”
__ADS_1
Audrey menoleh ke arah tebing. “Aku akan memberitahumu saat waktunya tiba.”
Xavier berdecak, dia dengan kesal memakan mi di depannya. “Ya sudah, lupakan saja.”
Kesunyian tiba-tiba melanda keduanya, Xavier yang sibuk memakan mi sementara Audrey terus menoleh ke arah tebing.
Tidak lama setelahnya, Xavier meletakkan mangkuk di atas karpet dan meminum air.
“Sudah selesai?” tanya Audrey, Xavier mengangguk. Dia berdiri dan berjalan ke tepi tebing.
“Bukankah sangat menakutkan jika kita terjatuh dari sini, bahkan aku merasa ngeri saat menunduk ke bawah.”
“Hem, dan hari ini tebing itu akan menjadi saksi,” gumam Audrey tanpa sadar.
“Saksi apa?”
Audrey seketika gelagapan. “I-itu, soal makanan. Kau sudah menghabiskan makanan yang kubuat tapi kau bahkan tidak berkomentar sama sekali!” Gadis itu melipat tangannya di depan dada sambil membuang muka.
Xavier hanya ber-ohh tanpa banyak komentar, Audrey menatapnya dengan wajah tercengang. “Dasar tidak tau diri! Aku menyesal memberimu makan tadi,” ocehnya kesal.
“Audrey, kau ingin altar pernikahan yang seperti apa?”
Audrey memegang dagunya berpikir. “Eum, soal itu. Aku sudah memimpikan altar pernikahan yang indah! Di mana banyak bunga-bunga, taman dan sebuah istana yang mewah. Setelah itu aku ingin agar bola sihir kecil ada di sekitar jalan masuk. Untuk musim kesukaanku, aku mungkin memilih musim gugur. Sangat cocok saat bunga sakura berjatuhan.”
Xavier tersenyum tipis. “Aku juga menyukai musim gugur.”
Audrey tersenyum, namun. Senyumnya langsung meluntur saat melihat beberapa orang yang tengah bersembunyi di seberang jurang. Dia berdiri dan berjalan ke arah Xavier. “Ayo kita bertarung!”
“Hah? Kenapa kau tiba-tiba mengajakku bertarung? Keadaanmu masih belum pulih!”
“Aku akan bertaruh, jika aku menang. Maka jauhi aku dan jangan menemuiku atau berhubungan denganku, dan jika kau menang..”
“Maka kau tidak akan bisa pergi lagi dariku! Kenapa kau mengatakan hal bodoh seperti itu? Aku tidak ingin melawanmu!”
Audrey menahan napas. “Kalau begitu, aku akan membatalkan pertunangan kita sekarang!”
“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?? Sebelumnya semuanya baik-baik saja! Tapi sekarang, kau tiba-tiba mau membatalkan pertunangan kita. Apa ada masalah??”
“Masa lalu adalah masa lalu, Xavier. Sekarang aku tidak mencintaimu lagi, jadi bertarunglah denganku agar aku bisa terbebas darimu!”
__ADS_1
Xavier tertawa sinis. “Jadi, semua ucapanmu beberapa hari yang lalu hanyalah bohong? Kau tidak benar-benar mencintaiku?”