
“Yang Mulia, Anda juga dipanggil ke sini?” tanya Mike yang tengah duduk santai di sofa, Xavier menghela napas dan duduk di sebelah Caesar.
“Benar, kenapa Audrey memanggil kita?” Xavier menoleh ke arah Grand Duke, Damien, dan Caesar bergantian. “Apa ada yang tau?”
“Tidak, Yang Mulia. Kami kemari hanya karena panggilan Audrey, tidak ada yang tau kenapa dia meminta kita semua untuk berkumpul di satu tempat.”
Suara langkah kaki dari tangga membuat keempat pria itu menoleh, Xavier berdiri dan seolah terhipnotis. Padahal Audrey hanya mengenakan gaun sederhana dengan rambut yang diikat tinggi, namun gadis itu seolah tidak bisa lepas dari pandangannya. Namun, kening Xavier seketika berkerut saat melihat ekspresi aneh dari gadisnya itu.
“Audrey, duduklah di sini.” Mike menepuk-nepuk sofa di sampingnya, Audrey hanya meliriknya sekilas sebelum melihat semua orang yang dipanggilnya. Para pelayan telah pergi ke taman atas permintaannya juga sehingga hanya ada keluarga Audrey, Xavier dan dia sendiri.
“Ada apa, Audrey? Apa ada masalah?” tanya Caesar khawatir.
Audrey menahan napas. 'Kenapa rasanya sangat sakit? Aku tidak boleh! Perasaan ini memang tidak boleh ada, kau seharusnya tidak merebut kasih sayang Audrey sejak awal. Kau sangat jahat, Alina. Sangat jahat!' Audrey menghela napas, dia menatap mereka semua bergantian. Matanya memanas, buliran air bening memaksa untuk keluar. “Aku akan jujur dengan kalian.” Audrey kembali menahan napas.
“Jujur tentang apa? Ayolah, Audrey. Jangan bercanda, kau membuat kami semua khawatir,” kata Mike yang hanya menganggap ucapan Audrey sebagai bualan, namun berbeda dengan keluarganya yang lain. Mereka dapat melihat dengan jelas eskpresi tak terbaca dari wajah gadis yang tengah berdiri di atas tangga itu.
“Aku..” Napas Audrey seolah tercekat, dia seperti tengah dicekik sehingga tidak bisa bernapas. Dadanya sangat sakit, mengucapkan tiga kata saja membuatnya kesulitan. Audrey kembali menghela napas, dia menunduk dalam diam. “Aku bukanlah, Audrey,” kata Audrey setelah lama terdiam.
__ADS_1
Ucapan Audrey langsung disambut tawa lucu dari Mike. “Ayolah, Audrey. Kau sangat hebat membuat lelucon.”
Audrey menggeleng pelan, dia seolah kehabisan tenaga untuk berbicara apapun. Apalagi tatapan tak terduga datang dari orang yang harus dijauhinya. “Aku bukan.. Aku bukan Audrey, aku orang lain. Dia, dia telah mati.”
“Audrey!” Grand Duke menggeram, dia tidak suka jika putrinya mengatakan tentang dia yang telah mati.
Audrey tersenyum miris. “Aku mengatakan yang sebenarnya, Tuan Grand Duke. Aku bukanlah Audrey.” Audrey mendongak, dia menatap wajah Grand Duke. Tersirat ekspresi khawatir, sedih, dan juga kecewa yang bercampur aduk.
“Aku bukanlah Audrey, dia telah mati beberapa bulan yang lalu.” Audrey berbalik dan membelakangi mereka semua, dia menghapus air matanya yang tidak sengaja mengalir keluar. “Aku adalah orang lain, aku bukan Audrey. Aku bukan putri, adik, ataupun tunangan. Maaf.” Audrey menunduk, air matanya tidak dapat lagi ditahan. “Maaf karena aku membohongi kalian semua, aku tau aku salah dan kalian pasti kecewa. Tapi aku sendiri tidak bisa menentukan takdirku, aku tidak ingin semua ini terjadi. Tapi apalah dayaku, aku juga hanya orang biasa.”
Damien berdiri, dia berjalan ke arah Audrey dan memaksa gadis itu untuk menoleh ke arahnya. Namun Audrey tidak berani melihat wajah Damien, bahkan. Damien sempat terkejut karena mengetahui Audrey menangis.
“Diam Audrey!! Aku sudah muak dengan ucapan omong kosongmu itu!” kata Damien yang membentak Audrey.
“Ini bukan omong kosong, semua yang kukatakan benar. Audrey telah mati.”
Damien langsung menampar Audrey dan membuat Caesar yang sedari tadi duduk di sofa langsung berdiri, dia berjalan ke arah keduanya dengan langkah besar. “Apa yang kau lakukan??”
__ADS_1
“Kak, aku--”
“Ini bukan salahmu, Kak. Ini memang salahku, aku tidak seharusnya memanfaatkan raga Audrey untuk mendapatkan kasih sayang kalian," kata Audrey, sebelah pipinya sampai memerah karena tamparan Damien. Gadis itu tersenyum semanis mungkin. “Jangan khawatir, aku pasti akan pergi dari sini.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey memeluk kedua lututnya, setelah mengucapkan semua yang selama ini menjadi beban di hatinya. Ada rasa lega di hatinya, namun rasa sedih dan kecewa tidak kalah besar.
Kini, dia dikurung di dalam kamar karena ucapan terakhirnya yang membuat Grand Duke marah dan memerintah Mike untuk mengurungnya. 'Apa aku salah? Aku tidak ingin semua ini terjadi, jika aku bisa menentukan takdirku. Aku juga tidak ingin ini semua terjadi! Aku ingin bersama kalian, menjadi Audrey kalian.' Audrey tersenyum miris. “Sayangnya, aku tidak bisa. Sejak awal jiwaku memang bukan dari dunia ini, bukan dari raga ini. Jika dibandingkan, aku hanyalah rumput liar yang menetap di satu tempat. Dan setelah dicabut, aku tidak akan memiliki tempat lagi dan mati.”
“Audrey.”
Audrey menoleh ke asal suara, Er. Sahabat sekaligus orang yang selalu membuat Audrey tersenyum itu kini menatapnya penuh kecewa, dia tidak lagi mengenakan jubah seperti biasa. Melainkan hanya sebuah topeng yang menutupi wajahnya. “Kenapa kau berbohong Audrey? Kenapa kau memberitahu mereka kalau kau bukan Audrey.”
Audrey menghela napas. “Karena aku memang bukan Audrey, aku adalah jiwa tersesat yang tidak sengaja masuk ke raga Audrey. Dia sejak awal telah mati, semua alur di dunia ini. Aku mengetahui semuanya, mulai dari Audrey yang diam-diam menyukai Xavier. Hingga Audrey dan keluarganya yang dihukum mati hanya karena satu kesalahpahaman.” Audrey terkekeh sinis. “Kau juga tidak percaya kan, kalau aku adalah jiwa dari dunia lain.”
Audrey berdiri, dia berjalan ke arah lemari pakaian dan membukanya. Audrey mengeluarkan kotak kayu berukuran kecil dan meletakkannya di atas meja, dia membuka kotak kayu itu dan mengeluarkan beberapa kertas yang terlipat rapi. “Semua surat ini, adalah surat cinta Audrey untuk Xavier. Meskipun selalu di benci dan di siksa, rasa cintanya tidak pernah pudar. Tapi siapa yang menyangka, dia akan berakhir tragis.”
__ADS_1
Audrey duduk di tepi kasur, pandangannya terpokus pada surat-surat di meja. “Aku tau semua hal yang tidak dunia ini ketahui, dan penyebab dari semua ini adalah.. Abella. Ya, dia yang mendorong Audrey dan membuatnya tiada karena kehabisan napas. Mungkin memang sebuah takdir, aku di duniaku mengalami kecelakaan dengan waktu yang sama namun kecelakaan yang berbeda.” Audrey menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan dan mendongak ke langit-langit kamarnya.
“Semua yang terjadi di dunia ini bohong.” Audrey menatap wajah Er yang sibuk membaca isi surat, gadis itu tersenyum tipis. “Aku tau, kau selalu mengikutiku dan menjagaku. Kan?”