Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 61. Musuh Baru


__ADS_3

Ya,” jawab Audrey tanpa ragu, Xavier menatapnya jijik.


Dia berdecih. “Seharusnya aku tidak percaya pada gadis bodoh sepertimu! Kau adalah kau, selalu melakukan hal seenaknya tanpa memikirkan perasaan orang lain dan egois!”


“Ya, aku memang bodoh dan egois.” Audrey mengangkat sebelah tangan dan menjentikkan jarinya, Rhys yang bersembunyi di balik pohon berjalan keluar dengan dua pedang di tangannya. “Pilihlah pedang yang ingin kau gunakan.”


Xavier langsung mengambil salah satu pedang di tangan Rhys, Rhys melempar sebelah pedang lagi ke Audrey dan menghilang.


“Apa karena dia kau ingin meninggalkanku?”


“Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan Rhys. Semuanya murni karena keinginanku.”


“Rhys?” Xavier tertawa sinis. “Jadi dia pria yang kau sembunyikan waktu itu. “Sungguh wanita tercela, kau memang tidak pantas untukku!”


“Aku sedang dalam suasana hati senang, jadi ayo kita bertarung!” Audrey mengarahkan pedang di tangannya ke Xavier, namun pria itu masih berdiri diam dengan tatapan dinginnya yang menusuk.


Tiba-tiba saja, Xavier menghilang dalam sekejap mata dan membuat Audrey terkejut. Apalagi saat pria itu tiba-tiba berdiri di belakangnya dengan pedang yang hampir mengenai leher Audrey. “Kau terlalu bodoh hingga ingin bertarung denganku.”


“Begitu, kah?” tanya Audrey, dia tanpa ragu menyiku Xavier hingga pria itu meringis dan pedang di tangannya terjatuh.


Audrey berlari menjauh dengan tatapan fokus dan pedang yang kembali mengarah ke Xavier. 'Jangan kalah! Semuanya bergantung pada hari ini! Kau harus menyelamatkan semuanya dan menebus segala dosamu!'


“Heh, berlaku curang?”


“Bukankah kau juga berlaku curang!” kesal Audrey, dia langsung menangkis pedang yang tiba-tiba hampir mengenainya. “Cih, curang lagi.”


“Tidak ada larangan aku tidak boleh memakai sihir.” Xavier melompat ke belakang dan memperlebar jarak, dia langsung menyerang Audrey tanpa membiarkan gadis itu bernapas.


'Sial! Aku memang salah menantang orang yang sudah memenangkan perang berturut-turut!' Audrey melirik ke seberang jurang. 'Bertahanlah sebentar lagi! Kau pasti bisa melakukannya!”


“Aku ada peraturan tambahan!” kata Audrey sambil menangkis pedang Xavier. “Waktu bertarung kita hanya sepuluh menit. Lebih dari itu dan aku masih belum kala, maka aku akan menang!”

__ADS_1


“Bukankah itu curang!”


“Heh, tidak ada yang tidak boleh dalam cinta dan perang.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


'Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?' batin Davide sambil menatap kesal dua remaja beda gender yang tengah bertarung.


“Yang Mulia, apa kami perlu menyerangnya sekarang?” tanya seorang pria dengan topeng yang menutupinya mirip ninja.


“Tidak perlu, tunggu aba-aba dariku. Aku pasti akan membuat Chelsea menyesal! Dia telah membuat Kak Raymond terluka sangat parah dan kini hanya bisa berada di kamarnya terus, aku memang bodoh karena pernah menaruh kepercayaan padanya!” desis Davide penuh amarah dan dendam.


“Baik, tapi setelah ini. Apa kita harus membunuh gadis itu juga? Kita hanya membawa satu anak panah, meskipun berlumuran dengan racun mematikan. Tapi tetap saja jika kami semua menyerang secara bersamaan, kemungkinan besar dia tidak akan mati.”


Davide memperhatikan dari seberang jurang, tatapannya begitu penuh benci dan rasa dendam yang memenuhi hatinya. “Memang itu yang kuinginkan, aku ingin agar dia tau bagaimana penderitaanku saat melihat Kak Raymond yang dalam keadaan yang tidak baik!”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Ayolah, Yang Mulia. Apa keahlian pedangmu hanya seperti ini?” ejek Audrey yang berhasil menyeimbangi kekuatan Xavier, namun dia tetap kewalahan melawan pria di depannya. Mau bagaimanapun, perbedaan pengalaman juga menjadi penghambat.


“Heh, benarkah? Kalau begitu, mari bertarung dengan serius!” Audrey mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya yang tersisa. 'Aku tidak memerlukan kekuatan apapun lagi! Yang kuperlukan hanyalah sisa kekuatan Angela dan Rhys!' Karena tidak fokus, Xavier memanfaatkan hal itu dan langsung mengunci pergerakan Audrey.


“Lima menitmu habis, sekarang kau hanya akan menjadi milikku seutuhnya sesuai taruhan kita,” bisik Xavier tepat di samping telinga Audrey, gadis itu langsung bergidik.


Namun dia tersenyum. “Aku mengerti, aku sudah mengatakannya. Sekarang apa kau bisa membantuku merapikan semua barang-barang itu? Aku sangat kelelahan melawanmu, kekuatanmu benar-benar sangat hebat.”


Xavier melepaskan tangannya yang mengunci Audrey. “Apa kau berjanji kau tidak akan laci atau kabur dariku?”


“Aku berjanji atas namaku sendiri.”


Xavier mengangguk sekilas, dia berjalan ke arah karpet dan membereskan barang-barang.

__ADS_1


Audrey tersenyum, dia sedikit demi sedikit melangkah ke belakang hingga mencapai ujung jurang. 'Xavier, aku harap kau tidak akan membenciku setelah ini.'


Tepat saat itu, sebuah panah melesat ke arah Audrey. Panah itu dengan cepat terbang namun bukannya mengenai Audrey, panah itu justru mengarah ke Xavier. Namun, sebelum panah itu mengenai Xavier.


Sebuah tangan menghalau panah itu terlebih dahulu hingga telapak tangannya tembus, Audrey meringis saat merasakan rasa perih sekaligus sakit yang menjalar dari tangannya.


Audrey menurunkan tangannya dengan air mata yang berusaha dia tahan, dia melirik ke arah Angela dan Rhys yang sudah siap dan bersembunyi di pepohonan.


Dia mengangguk pelan, Rhys dan Angela yang melihat sinyal tersebut saling menatap sebelum mengarahkan sebelah tangan mereka ke Xavier.


Kaki keduanya tiba-tiba menjadi transparan dan mulai merambat ke atas. “Sihir penyembuh, perisai transparan, perisai bertingkah, peredam suara.”


“Tidak akan ada yang tau berapa dalam panah itu akan menembus, jadi kita harus membuat perisai sebanyak mungkin. Dan untuk Audrey.” Rhys menoleh ke arah Audrey yang tatapannya tak pernah lepas dari Xavier.


“Kita hanyalah hewan spirit yang sudah di kontrak, jadi sudah seharusnya kita mendengarkan ucapan majikan kita. Apapun yang terjadi, meskipun kita akan menghilang. Tapi tak masalah, selama kita bisa melakukan perintahnya. Maka itu sudah cukup.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Sial!” umpat Davide sambil memukul pohon, panah yang dia luncurkan dan memiliki racun paling mematikan tidak berhasil mengenai sasaran.


Dia menoleh ke beberapa pria berpakaian hitam seperti ninja, Davide mengalihkan pandangannya ke Xavier dan Audrey. Dia mengangkat tangannya dan memberi tanda.


Para pria ninja itu langsung meluncurkan panah yang sudah mereka lumuri dengan racun, saat panah itu melaju dengan cepat.


Panah-panah itu seperti melakukan kloning, jumlah mereka semakin banyak dan banyak. Bahkan banyak panah yang mengenai Audrey.


Namun anehnya, tidak ada yang mengenai Xavier sama sekali. Panah-panah itu seperti terhalang sesuatu dan berhenti di udara.


'Cih, apa yah terjadi??'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


Rasa sakit tidak bisa lagi di tahannya, bahkan punggungnya hampir dipenuhi oleh anak panah yang memiliki banyak racun dan dengan cepat menyebar.


“Xavier, aku tidak pernah membencimu. Semua yang kukatakan tadi hanyalah bohong, jangan memasukkan semuanya kedalam hati. Ya, tapi aku tetap akan mengatakan satu hal.. selamat tinggal.”


__ADS_2