
“Lihat, aku membuatkan Pai apel khusus untukmu. Yang Mulia.” Audrey tersenyum manis sambil meletakkan sepiring Pai apel yang dibuatnya sendiri di dapur istana.
“Terima kasih, duduklah di sini dan makan bersamaku.” Davide menepuk kursi di sampingnya.
“Tidak perlu, Yang Mulia.” Audrey melirik Raymond yang mengepalkan tangannya. “Aku akan membuatkan makanan ringan untuk Anda.” Dia menoleh ke Raymond. “Apa Anda juga ingin diberikan kue, Yang Mulia?”
Raymond berdecih. “Tidak! Kembalilah ke dapur.”
“Baik, Saya permisi. Yang Mulia Pangeran, Yang Mulia Raja.” Audrey kembali ke dapur dengan senyum puas.
“Kamu sangat pintar memasak, Laura. Semua makanan yang kamu buat sangat enak.”
“Terima kasih, kalian juga menyiapkan makanan dengan baik.” Audrey tersenyum tipis, dia mencuci tangannya dan berjalan keluar dengan wajah datar. 'Semuanya masih berjalan sesuai rencana, aku tinggal mengatur rencana cadangan untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang menganggu nantinya!'
“Laura.”
Audrey menoleh ke asal suara, dia tersenyum tipis. “Iya, apa kau membutuhkan sesuatu?”
“Apa aku boleh meminta tolong? Tolong bawakan teh ini untuk Yang Mulia Raja yang menunggu di taman.” Pelayan itu menyerahkan nampan berisi secangkir teh.
Audrey terdiam, dia mengangguk dan mengambil teh itu. “Aku akan mengantarnya, oh iya. Aku juga minta tolong, bantu Sia dan yang lainnya di dapur. Aku akan kembali setelah selesai mengantar teh ini.”
Pelayan itu mengangguk, dia berjalan ke dapur dan meninggalkan Audrey sendirian. Setelah memastikan tidak ada siapapun, Audrey menghela napas. Dia menatap teh di tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan. 'Ini kesempatan yang bagus, tapi..'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Silahkan, tehnya. Yang Mulia.” Audrey meletakkan cangkir teh di meja dengan senyum anggun, Raymond menatapnya datar.
Pria itu berdiri dan mencekik Audrey dengan tatapan dinginnya yang menusuk. “Jangan berpura-pura polos di depanku! Aku tau bagaimana sikapmu yang sebenarnya!”
“Heh, begitu kan? Aku pikir kau tidak terlalu mengenalku, Yang mulia,” kata Audrey diakhiri seringai misterius, dia tiba-tiba memegangi tangan Raymond. “S-saya mohon, Yang Mulia. Tolong maafkan saya,” kata Audrey sambil terisak.
“Apa--”
__ADS_1
“Kakak! Apa yang kau lakukan!?”
Raymond menoleh ke asal suara, dia langsung menjatuhkan tangannya dari leher Audrey dan mundur selangkah.
Audrey terduduk di tanah sambil memegangi dadanya dan terbatuk-batuk.
“Laura, apa kau baik-baik saja?” tanya Davide khawatir, Audrey mengangguk pelan.
“Saya baik-baik saja, Yang Mulia,” kata Audrey, terlihat jelas bekas memerah di lehernya.
Davide menatap Raymond dengan wajah kesal. “Apa yang Kakak lakukan?? Apa Kakak ingin membunuh dia!? Dia hanya mengantarkan teh dan apa salahnya??”
“Kau salah paham! Dia tidak--”
“Tolong maafkan saya, Yang Mulia.” Audrey mulai menangis tersedu-sedu. “Seharusnya saya mendengar kata-kata Anda dan tidak memberikan teh itu.”
“Kau! Kau jangan berbohong di depan Davide!”
“Kakak, sudah! Kakak selalu saja membenci Laura, sebenarnya dia ada salah apa dengan Kakak sehingga kakak sangat membencinya!?” Davide menoleh ke arah Audrey yang berdiri sambil mengusap air matanya. “Kau kan yang membuatnya? dan Kakak. Kakak harus meminum teh yang dibuatkannya!”
Davide menggenggam tangan Audrey dan menariknya menjauh.
Gadis itu diam-diam melirik ke arah Raymond yang menatapnya penuh amarah, senyuman tipis terbit di wajahnya. Sangat tipis hingga tidak dapat dilihat jika tidak teliti. 'Berhasil, dengan begini. Aku bisa melakukannya sekarang, meskipun akan berbahaya.'Dia tersenyum masam. 'Aku akan tetap melakukannya demi keluarga Audrey yang sudah menjagaku dan demi.. Xavier?' Audrey menggeleng. 'Tidak, setelah semua ini selesai. Aku juga akan menyelesaikan misi yang menyebabkan aku datang ke dunia fantasi ini.'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Masuklah ke kamarmu dan istirahat, aku akan kembali.”
Audrey mengangguk patuh, dia menunduk sopan dan menutup pintu kamar. Setelah mendengar suara langkah kaki menjauh, Audrey menghela napas. Dia membuka laci meja dan mengeluarkan pisau lipat, dia dengan sengaja mengiris jarinya sendiri dan mulai menggambar lingkaran di tengah-tengah ruangan. Setelahnya, dia menggambarkan lingkaran di tengah lingkaran dengan ukuran yang lebih kecil.
Setelah selesai, Audrey duduk di tengah-tengah lingkaran. Dia menutup matanya dan mengumamkan kata-kata aneh, cahaya mulai menguar dari lingkaran darah yang dibuatnya.
“Tsuki to taiyō to chikyū. Sekai no aku no seiryoku o fūin suru tame ni watashi no tamashī no hanbun o tsukurimasu(Bulan, matahari, dan bumi. Jadikan separuh jiwaku untuk menyegel kekuatan jahat di dunia),” gumam Audrey pelan, cahaya merah darah terus menguar dari dalam lingkaran dan keluar lewat jendela.
__ADS_1
Cahaya itu seperti dikontrol dan mencari targetnya, cahaya itu masuk ke tubuh Raymond yang menendang batu di taman.
Luka di tangannya terus menerus mengeluarkan darah dan menetes di dalam lingkaran. Sementara itu, cahaya terus masuk ke tubuh Raymond tanpa pria itu sadari.
Hingga, setelah ritualnya selesai. Audrey membuka matanya, dia tersenyum tipis dan berdiri. “Semuanya selesai, maaf. Davide, tapi aku memang--” Audrey menggeleng kecil. “Tidak, bukan aku yang harus membunuhnya.” Dia menoleh ke luar jendela. “Tapi orang lain.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Seorang wanita paruh baya menangis sesenggukan di depan seorang gadis yang tak kunjung membuka matanya, Cornelia. Bibi dari Audrey itu tidak henti-hentinya menangis saat melihat keadaan keponakannya.
“Audrey, kenapa hal ini harus terjadi padamu?”
“Kakak, ayo makanlah dulu,” kata Grand Duke yang khawatir dengan kesehatan sang kakak.
“Tidak, sebelum Audrey sadar. Aku tidak akan makan ataupun minum!”
Grand Duke menghela napas, dia melirik ketiga anaknya yang lain. Mereka sepertinya belum memberikan Cornelia tentang identitas Audrey yang sebenarnya.
“Bibi, Bibi lebih baik makan. Jika Audrey melihat Bibi seperti ini, dia akan merasa sedih,” kata Mike.
“Tidak, Mike. Bibi tetap akan menunggu dan menjaga Audrey hingga dia terbangun, bibi tidak akan meninggalkan tempat ini kecuali Audrey bangun.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Ruangan gelap dan dingin itu terlihat familier di mata seorang gadis cantik yang berdiri sendirian, dia menghela napas pelan. 'Semuanya telah selesai, aku seharusnya bisa kembali ke duniaku yang sebenarnya. Bukan?'
“Tidak, kau salah.”
Audrey alias Alina menoleh ke asal suara. “Laura?”
Gadis bermata hijau itu tersenyum dengan wajah sedih. “Terima kasih, meskipun mereka belum mati. Setidaknya, kau berhasil melakukan hal yang tidak pernah bisa kulakukan.” Laura menunduk.
Audrey menatapnya dengan kening yang sedikit berkerut. “Kau salah!”
__ADS_1
Ucapan Audrey membuat Laura mendongak dan menatapnya.
“Jika bukan karena bantuanmu, aku juga tidak mungkin bisa menyelesaikannya. Tanpa sihirmu, aku tidak mungkin bisa melaksanakan ritual yang menguras tenaga itu. Tanpa kau, aku pasti tidak akan bertemu dengan kedua hewan kecil itu.”