
Tiba-tiba, seseorang membekap Audrey. Gadis itu berusaha memberontak, namun badannya semakin lemas dan tak sadarkan diri.
“Huh, merepotkan saja.” Pria yang membekap Audrey menyandarkan gadis itu ke tembok, dia berjalan ke gadis yang berdiri di depan pintu asrama wanita. “Kau sangat ceroboh, Chiara. Jika aku tidak tepat waktu, kau pasti akan tertangkap.”
Gadis yang dipanggil Chiara itu menunduk. “Maaf, Pangeran. Aku benar-benar tidak tau kalau Nona Chelsea sedari tadi mengawasiku, aku tidak merasakan kehadirannya sama sekali.”
Pria yang dipanggil Pangeran memegang dagunya berpikir. “Memang benar yang kau katakan, aku bahkan tidak akan tau jika dia tidak sengaja menginjak ranting kering. Tapi kenapa dia bisa ada di sini?”
“K-kemungkinan, Nona Chelsea memiliki sihir khusus yang dapat menghilangkan keberadaanya dan tidak bisa dideteksi.”
“Hem, yang kau katakan benar. Sekarang, aku akan memberimu misi tambahan. Selidiki siapa Chelsea itu, dan jangan sampai kau ketahuan. Sepertinya dia lebih sensitif dari gadis lain, jadi dekati dia dengan pelan-pelan.”
“B-baik, Pangeran. A-apa saya masih perlu mencuri dokumen siswi dari Adriana?”
“Untuk sekarang tidak perlu, kau kembalilah ke kamarmu. Aku akan mengurus Chelsea.”
Chiara menunduk hormat, dia kemudian berjalan pergi dari sana. Pria itu berjalan ke arah tembok, namun dia tidak lagi melihat Audrey yang tak sadarkan diri.
Tiba-tiba, sebuah pisau lipat hampir saja mengenai pria itu jika dia tidak cepat menghindar, pisau itu tertancap di dinding.
“Heh, hebat juga bisa menghindari seranganku.”
Pria itu melirik Audrey yang berdiri di belakangnya. “Tidak sulit, aku hanya perlu memperhatikan angin.”
Audrey menggertakkan giginya, dia berdecih. “Kau begitu sombong, apa tidak takut dikalahkan oleh gadis kecil?”
Pria itu berbalik dan menatap Audrey. “Aku tidak pernah takut akan kematian, Nona.”
“Heh, menarik. Baiklah, akan diperlihatkan kematian yang sebenarnya!” Audrey melempar satu pisau lagi dan kembali dihindari, namun. Baru saja dia hendak berbalik, Audrey sudah lebih dulu berdiri di depannya dengan sebilah pisau yang mengarah ke lehernya. “Jangan bergerak, atau pisau ini akan menggores dan membunuhmu.”
“Aku tidak semudah itu untuk mati.”
“Ya, jika hanya goresan sedikit. Itu tidak akan mematikan, tapi jika diberi racun. Meski hanya sedikit, itu akan sangat mematikan,” bisik Audrey tepat di samping telinga pria itu, jam di menara tinggi berbunyi nyaring. Audrey menoleh ke asal suara. “Apa yang terjadi?”
“Jangan lengah, Nona.” Pria itu mengambil pisau di tangan Audrey dan mengunci gadis itu kemudian mengarahkan pisau ke lehernya. “Jika kau lengah, senjatamu bisa menjadi penyebab kematianmu.”
Audrey berdecih, Pria itu menurunkan pisau di tangannya dan menjauh dari Audrey. “Kau beruntung, Nona.” Pria itu meletakkan pisau di tanah dan berjalan pergi, Audrey menatapnya datar.
__ADS_1
'Sial!' Dia itu berlari pergi tanpa mengambil pisau di tanah.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Elemen sihir terbagi menjadi sebelas, salah satunya..”
Karena kejadian kemarin, Audrey menjadi tidak fokus dengan penjelasan Profesor yang berdiri di depan podium.
“Chelsea?”
“Chelsea!” panggil Profesor lagi, Audrey tersadar dari lamunannya.
“Iya?”
“Apa kau melamun? Ke ruanganku saat jam istirahat!”
Audrey berdecak, dia menelengkupkan wajahnya ke meja. 'Menyebalkan, karena kemarin. Aku jadi kurang tidur.' Tanpa sadar, Audrey tertidur.
Lima belas menit berlalu, Profesor yang terus melirik Audrey menghela napas. Dia merapikan kertas di meja. “Pelajaran hari ini telah selesai, kalian bisa keluar.”
“Apa yang terjadi pada Chelsea? Dia sepertinya tidak fokus dalam pelajaran profesor tadi, apa Chelsea sedang banyak pikiran?”
Neon menoleh ke arah Audrey, dia menghela napas. “Entahlah, mungkin dia kurang tidur.”
“Kurang, tidur?”
Neon mengangguk. “Ya, semalaman dia tidak tertidur. Mungkin ada hal yang mengusik pikirannya, oh iya. Apa kau tau di mana Lorenzo? Aku ingin bicara sesuatu dengannya.”
Mia memegang dagunya berpikir. “Kalau Renzo, seharusnya dia ada di kafetaria sekarang. Kau ingin membicarakan apa?”
Neon tersenyum. “Bukan hal penting, aku duluan ya. Tolong jangan menganggu Aud-- Chelsea yang tengah tidur.”
“Heum, aku tidak akan membangunkannya. Aku juga ingin bertemu Mike.”
“Mike?” gumam Neon, dia menyeringai. “Baiklah, aku pergi duluan.”
“Iya, berhati-hatilah. Jangan sampai tersesat!”
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Ne, Audrey. Kau ingin mendapatkan kekuatanku kan?” kata Audrey pada dirinya sendiri, matanya yang berwarna hijau menandakan Laura yang mengambil alih raga Audrey. “Em, aku tau. Aku bisa memberikannya padamu, tapi apa kamu akan bisa menahan kekuatanku?”
“Seperti yang kau tau, kekuatanku itu bisa menarik para iblis. Dan jika kau mengambil kekuatanku, maka kau akan diincar oleh mereka. Dan kau tidak ingin itu terjadi.” Audrey menunduk. “Aku tidak ingin membuatmu dalam masalah.”
“Kau sedang berbicara dengan siapa, Chelsea?”
Audrey terkejut karena sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya, dia menoleh dengan mata gemetar. “Y-yang mulia, s-sedang apa Anda di sini?” tanya Audrey terbata-bata, dia menunduk sambil memainkan jemarinya.
“Kenapa kau gugup?”
“T-tidak ada apa-apa! A-aku hanya terkejut melihat Anda yang tiba-tiba muncul di belakangku.”
Xavier ber-ooh, dia duduk di samping Audrey namun gadis itu dengan cepat berdiri dan melangkah mundur. “Ada apa denganmu? Kenapa kau sepertinya sangat menghindariku?”
“T-tidak! A-aku tidak menghindar.” Audrey terus melangkah mundur. 'Jika Audrey tau aku bertemu dengannya, dia pasti akan marah besar padaku!' Karena terus melangkah mundur, Audrey tanpa sengaja tergelincir batu.
Dia langsung terjatuh, Audrey mengiris sambil memegangi pinggangnya. “Ssth, sakit sekali,” gerutu Audrey. 'Laura sialan! Kenapa dia tiba-tiba bertukar saat dia ingin terjatuh??'
“Apa kau baik-baik saja?”
Audrey mendongak, matanya memicing melihat Xavier yang mengarahkan tangannya ke Audrey. Gadis itu berdiri dan menepuk-nepuk seragamnya. “Aku baik-baik saja, kenapa kau bisa di sini?”
“Apa kau lupa?”
“Hah? Memang aku memanggilmu?” tanya Audrey sambil menunjuk dirinya sendiri, Xavier menggeleng.
“Tidak, kita hanya tidak sengaja bertemu dan aku tidak sengaja mendengar kau berbicara sendiri.”
Audrey berdecak. 'Ucapan Laura sebelumnya membuatku geli.'
“Apa kau yakin baik-baik saja?” Xavier mengangkat tangannya dan hendak menyentuh dahi Audrey namun tangannya sudah lebih dulu ditepis oleh gadis itu.
“Jangan coba-coba! Aku baik-baik saja!” Audrey berbalik dan berjalan cepat, dia menutupi kedua pipinya yang memerah. 'Audrey, aku yakin kau sudah gila! Jantungmu juga pasti sudah koslet, itu sebabnya selalu berdebar-debar saat berada dekat dengannya!' Audrey menepuk-nepuk kedua wajahnya. “Sadarlah, jangan sampai terlena dengan cinta! Kau masih memiliki banyak misi yang harus diselesaikan!!”
Dari jauh, Xavier memperhatikan gelagat Aneh Audrey. 'Kenapa dia.. sangat mirip dengan Audrey? Tatapan matanya saat pertama kali bertemu, suaranya..'
__ADS_1