Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 46. Abella (2)


__ADS_3

Saat Audrey tersadar, dia mengepalkan tangannya. Audrey menatap dingin Abella. “Atas dasar apa kau berani mrnamparku?”


“Itu karena kau tidak mengaku! Apa susahnya kau mengaku kalau kau adalah Audrey!”


Audrey mencengkram rahang Abella dengan tatapan sengit yang terus dilayangkan untuk gadis manis di depannya. “Dengar, Abella. Jangan pikir hanya karena kau seorang bangsawan, kau bisa memperlakukanku semena-mena. Aku tidak suka diganggu dan jangan coba menggangguku!” desis Audrey di akhir kalimatnya, dia melepaskan cengkeramannya dan berjalan pergi.


“Audrey, kau pengecut! Kau tidak bisa melawanku itu sebabnya kau pergi!” teriak Abella, Audrey menghentikan langkahnya.


Dia menutup matanya dan berusaha mengatur emosi yang tak karuan. “Jangan memaksaku, Abella. Aku tidak akan melukaimu jika kau tidak mengangguk!”


Abella tersenyum sinis. “Kau memang pengecut, Audrey. Kau yang tidak memiliki sihir mana berani menandingiku! Aku sebentar lagi akan menjadi penyihir, tentu saja kau takut denganku.”


Audrey mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap di permukaan kulit, Audrey berjalan pergi namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Abella.


“Kau sangat pengecut, Audrey! Kau sangat bodoh! Kau bahkan tidak bisa menjaga dirimu sendiri, jangan mencoba-coba untuk mendekati Xavierku!!”


“Xavier.. mu?” kata Audrey dengan nada sinis, dia mengangkat sebelah tangannya. Seperti sebuah bunglon, harimau putih besar muncul di hadapan Audrey dan membuat Abella terkejut sekaligus ketakutan. “White.. kill.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Apa kalian tau, Abella si gadis polos itu ditemukan hampir mati di taman belakang!" kata Kiara heboh, Sato dan Erika hanya menatapnya sambil memakan cemilan. “Aku dengar juga, di sekujur tubuhnya ada bekas cakaran.”


“Kasihan sekali, bagaimana keadaannya sekarang?”


“Dia ada di ruang kesehatan, aku yakin. Dia pasti tidak akan berani pergi sendiri lagi.”


Neon menghela napas, dia berdiri dan berjalan ke arah Audrey yang tengah berada di balkon asrama. “Kau kan yang melakukannya,” kata Neon terus terang, Audrey meliriknya sekilas.


“Atas dasar apa?”


“Audrey, ini tidak main-main. Kau hampir menghabisi nyawa orang.”


Audrey hanya berdehem, dia berbalik badan dan berjalan pergi.


“Audrey, kau mau kemana?” tanya Sato yang berdiri.


“Aku ingin menemui Mia, apa ada yang ingin ikut?”


“Yah, aku pikir kau ingin ke kantin.” Sato kembali duduk dengan wajah cemberut.

__ADS_1


“Jika ingin, pergi saja sendiri.” Audrey membuka pintu asrama dan berjalan keluar.


“Apa yang terjadi pada Audrey?” tanya Erika, Sato dan Kiara menggeleng tak tau.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Audrey berdiri di depan pintu, dia hanya menatap datar pintu di depannya tanpa berniat untuk mengetuk.


“Ah, Chelsea. Apa kau kemari untuk menjenguk Abella?” tanya Mia sambil menenteng kantong plastik di tangannya, di sampingnya ada Xavier dan Clare.


“Tidak, aku hanya tidak sengaja lewat.”


“Karena kau sudah disini, aku kita menjenguk Abella bersama-sama.” Mia menggandeng tangan Audrey dan membuka pintu ruang kesehatan. “Abella, bagaimana keadaanmu?”


“Ah, Mia. Kau ke--” Ucapan Abella terhenti saat melihat orang di belakang Mia, matanya bergetar ketakutan. “K-kau..”


Mia menoleh ke arah Audrey. “Ah, perkenalkan. Dia Chelsea, murid baru di kelas kami.”


Abella menggeleng cepat. “Tidak, dia itu--”


“Sepertinya dia tidak menyukai kehadiranku, aku akan pergi.” Audrey berbalik badan dan berjalan pergi namun tangannya dicekal oleh Clare.


Audrey melepaskan genggaman tangan Clare. “Terima kasih, tapi aku ada urusan lain.” Audrey berjalan pergi, dia menyempatkan diri untuk melirik Abella yang menunduk ketakutan sebelum menutup pintu. Audrey berjalan pergi dengan seringai. 'Ini hanya peringatan, Abella. Jangan pikir kau akan selamat dari mautmu.'


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Ada apa, Chelsea? Kenapa kau ingin menemuiku?” tanya Profesor dengan pandangan yang mengarah pada dokumen di tangannya.


“Em, sebelumnya. Aku ingin meminta maaf atas sikapku kemarin, aku mencari Anda karena ingin menanyakan sesuatu.”


Profesor mendongak dan menatap Audrey dengan kening berkerut, dia menutup dokumennya dan meletakkannya di meja. “Menanyakan apa?”


Audrey menunjukkan kartu yang dibawanya. “Seharusnya hanya seratus poin untuk murid baru, tapi kenapa aku mendapatkan sepuluh ribu poin?”


“Soal itu.” Profesor mengambil dokumen lain dan membukanya, dia menunjukkan dokumen itu pada Audrey. “Nama kalian tidak tercantum di daftar murid, itu karena kalian hanya kemari untuk membantu akademi. Dan soal poin yang mencapai sepuluh ribu, itu adalah keinginan dari pemilik akademi.”


Audrey mendengarkan sambil membaca dokumen di tangannya. “Tapi, ada satu hal yang membuatku bingung.”


“Apa itu?”

__ADS_1


Audrey memberikan dokumen di tangannya dan menunjuk ke satu nama yang di coreng. “Kenapa nama ini disembunyikan?”


“Untuk nama itu, itu adalah nama dari siswa kelas S dan tidak boleh diperlihatkan meski di data murid-murid yang lain.”


“Tapi, nama ini terletak di kelas A. Bukan S.”


Profesor menghela napas. “Itu adalah keinginannya.”


Audrey menatap Profesor dengan tatapan datar. “Apa itu nama Xavier?” tanya Audrey, Profesor menatapnya dengan wajah yang sedikit terkejut.


“Khem, kenapa kau berpikir kalau itu nama Xavier?”


“Dari semua nama yang kulihat, hanya namanya yang tidak tertulis di kelas A. Jadi pasti nama yang tercoreng ini adalah namanya.”


“Apa kau yakin tidak salah lihat? Di sini tertulis banyak nama murid, tidak mungkin kau bisa mengetahuinya hanya dalam beberapa menit.”


Audrey berdecak. “Itu hal mudah, setelah kuperhatikan lebih detail. Akademi menulis nama mereka sesuai abjad, jadi sangat mudah untuk mencari nama Xavier yang dimulai dari huruf X.”


Profesor menyinggung senyum misterius. “Sepertinya kau tau banyak soal akademi ini, apa kau murid lama dari akademi?”


Audrey memasukkan kedua tangannya di saku Almamaternya. “Tidak, aku murid baru. Hanya sangat mudah untuk menebaknya, hanya itu yang ingin aku tanyakan. Aku permisi.” Audrey menunduk sopan dan berjalan pergi, dia menutup pintu ruangan Profesor dan memijat pelipisnya pusing. 'Merepotkan, aku ingin kembali dan bermalas-malasan di kamar. Tapi itu tidak mungkin, sekarang ada mereka yang menjadi teman asramaku. Akan susah jika aku menginginkan ketenangan.' Audrey menghela napas, dia berjalan pergi.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


'Huh, kalung bunga itu telah hancur karena ulah Laura. Kenangan satu-satunya telah hancur, sekarang..' Audrey menggeleng, dia menepuk-nepuk kedua wajahnya. “Sadarlah, Audrey! Kau tidak boleh memikirkan itu lagi.”


“Audrey.”


Audrey menoleh ke asal suara, keningnya berkerut saat melihat Abella yang berjalan ke arahnya. “Ada masalah apa kau kemari?”


Abella berdiri di depan Audrey, dia hanya menunduk dan tidak berani menatap wajah gadis yang tengah duduk di bangku taman.


“Aku.. ingin bicara.”


“Bicara saja.”


“Bisa kita.. bicara di tempat lain?”


Audrey mendongak ke arah langit, dia berdiri dan menatap datar Abella. “Ikuti aku.” Audrey berjalan pergi sambil melirik Abella yang mengikutinya sambil terus menunduk.

__ADS_1


__ADS_2