
“Memang ada apa?”
“Kalian benar-benar bodoh,” gumam Chelsea, dia mengangkat tangannya ke depan. Tiba-tiba, sesuatu muncul seperti air dan transparan.
“Kalian berdua, kemari!”
Eryk dan Zachary melangkah ke arah Chelsea, gadis itu mengangkat tangannya dan mengambil sesuatu di keras baju keduanya.
Chelsea tersenyum melihat hal yang dia ambil. “Dasar hama bodoh, kalian pikir bisa mengelabuiku?” Chelsea berbalik, dia diam-diam memasukkan sesuatu ke dalam botol kacanya. Hal yang dia masukan itu tidak terlihat namun dapat disentuh.
'Sekarang kau di tanganku, dengan begini. Aku akan bisa menyempurnakan semuanya.'
“Ayo.” Chelsea berjalan dan melewati penghalang yang mirip dengan air itu, seketika penghalang itu hancur seperti air yang langsung jatuh ke tanah.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Abella menatap sesuatu di depannya dengan mata bergetar ketakutan, dia perlahan mundur namun punggungnya langsung menabrak dinding kuil.
Suara auman membuat Abella semakin ketakutan, badannya seperti patung. Tidak bisa digerakkan sama sekali.
Sebuah harimau yang sangat besar berdiri di depan Abella yang ketakutan, suara aumannya sampai membuat kuil itu bergetar.
Harimau itu mengangkat satu kaki kanannya dengan kuku besar yang tajam, dia mengarahkan kuku tajamnya ke Abella yang ketakutan setengah mati.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Zac, siapa ya gadis ini?” bisik Eryk, Chelsea menghela napas.
“Tidak tau, tapi dia cukup cantik. Pasti akan lebih cantik kalau dia tidak mengenakan topeng.”
“Tidak udah didengarkan, Audrey.”
Chelsea mengacak rambut frustasi. “Aku bukan Audrey! Kenapa kalian ini tidak paham-paham!?”
Dia terhenti di depan kuil tua, ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Chelsea segera berlari masuk, matanya membulat melihat hal di depannya. Namun senyuman manis langsung mereka di bibirnya.
Chelsea mengerutkan keningnya ketika melihat seorang gadis yang kini tengah ketakutan, bahkan hampir pingsan. Dia menggaruk pipinya.
Matanya membulat sempurna ketika melihat harimau besar itu mengarahkan cakarnya ke Abella, Chelsea secara refleks berlari ke arah gadis itu dan..
Chelsea menutup matanya sambil mengatur napasnya yang terengah-engah, dia memegang cakar besar yang kini menembus perutnya dan mengenai ujung hidung Abella.
__ADS_1
Chelsea berdecih. 'Kenapa aku harus membantu seorang Protagonis?? Padahal kan, aku sendiri sedang dalam bahaya karena author bodoh yang membuat Audrey mati!'
“Audrey!”
“Nona Cantik!!”
Teriak ketiganya saat melihat Chelsea yang ditusuk oleh cakar besar harimau yang besarnya sangat tak masuk akal, Chelsea berusaha mengeluarkan cakar itu dari perutnya. Namun semakin dia berusaha, semakin terasa nyeri yang amat menyakitkan di perutnya.
Chelsea menghela napas, dia memegang cakar besar itu dan menutup matanya. Chelsea bergumam seperti tengah membaca mantra, cakar besar itu tiba-tiba patah dan membuat sang harimau merintih kesakitan karena cakarnya melukai kakinya.
Chelsea kembali menghela napas, dia dengan susah payah berusaha mengambil botol di lantai. Namun tidak bisa, Chelsea menoleh ke arah Abella yang tampaknya bertambah trauma.
“Bisa membantuku mengambil botol itu?” tanya Chelsea, Abella segera berdiri dan mengambil botol itu kemudian memberikannya pada Chelsea.
Gadis itu mendengus dan mengambil botol itu, dia membuka tutup botol dan kemudian diarahkan ke harimau. Tiba-tiba, harimau itu seolah tersedot ke dalam botol dan menghilang.
Cakar yang menembus perut Chelsea juga terbakar, dia berusaha menahan rasa sakit sambil membakar cakar dan menyembuhkan lukanya secara bersamaan.
Hampir sepuluh menit, Chelsea terduduk di tanah. Dia menelan salivanya, jika salah sedikit saja. Dia bisa mati saat itu juga, namun. Chelsea tersenyum sambil menatap botol di tangannya.
'Heh, sepertinya aku memiliki eksperimen tambahan. Teman-temanku yang manis, jangan khawatir. Kalian hanya akan merasa ‘sedikit’ sakit.'
“Tutupi wajahmu, kalian berdua. Berbalik!” titah Xavier dingin, Chelsea menyentuh jaket di kepalanya. Dia sangat bingung, sejak kapan pria itu membawa jaket?
Chelsea berdiri, dia melepaskan jaket itu dan memberikannya pada Xavier dengan wajah kesal.
“Untuk apa disembunyikan lagi kalau kau sudah melihatnya, dasar bodoh!” kesal Chelsea, mengeluarkan cadar yang dia bawa sebagai cadangan. Dia memakainya dan menatap datar sekaligus kesal pada Xavier.
“Ayolah Audrey, untuk apa kau menyembunyikan wajahmu?”
Chelsea menunjuk wajah Xavier sambil berkata. “Aku bukan Audrey! Kenapa kau sangat tidak percaya!?”
“Karena wajahmu mirip,” jawab Xavier santai, Chelsea mengepalkan tangannya. Dia rasanya tidak bisa menahan diri lagi untuk meninju pria di depannya.
“Apa kalian semua baik-baik saja??”
Semuanya menoleh ke asal suara, Chelsea berkacang pinggang sambil menatap gadis yang tengah mengenakan gaun hitam selutut dan topeng yang terikat di rambutnya.
“A-audrey?? Lalu siapa--” Xavier menoleh ke arah Chelsea yang menatapnya dengan kesal.
“Sudah puas? Kau sekarang percaya kalau aku bukan Audrey!!”
__ADS_1
“Tap--”
“Sudahlah, kau membuatku kesal dan sekarang membuat misiku gagal! Dasar pria menyebalkan!!” Chelsea berdecih, dia berjalan pergi dengan kesal. Audrey berjalan ke arah Abella yang masih diam mematung, tampaknya gadis itu masih trauma akan hal yang dia lihat barusan.
“Bella, apa kau baik-baik saja?”
Chelsea menyisir rambutnya ke belakang telinga, dia kemudian menghilang dalam kegelapan hutan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Hah, aku pikir aku hilang dibawa makhluk halus,” kata Eryk, Audrey mendengus kesal.
“Bisa-bisanya! Aku kan tadi melihat taman indah, jadi aku ke sana. Dan saat aku kembali, kalian sudah tidak ada.”
“Seharusnya kau memberitahu kami jika ingin kemana-mana, kami tidak akan susah payah mencarimu jika begitu!”
Audrey menggaruk tengkuknya. “Maaf, aku benar-benar sangat tertarik dengan taman itu. Aku jadi lupa memberitahu kalian, ngomong-omong. Bella kenapa? Aku tadi melihatnya seperti orang ketakutan.”
“Ah, dia hampir dihabisi Harimau,” kata Eryk, Audrey menutup mulutnya.
“Harimau??”
Eryk mengangguk. “Dan setelah itu, tiba-tiba. Gadis yang dibawa Xavier menolong Abella.”
“Apa dia gadis yang berjalan pergi tadi?” tanya Audrey, Eryk kembali mengangguk. Dia mulai menceritakan kronologi yang terjadi tadi. Keduanya kini sibuk dengan dunia mereka sendiri.
“Apa mereka sebegitu akrabnya?” bisik Zachary, Xavier mengangkat bahunya acuh. Dia masih yakin kalau Chelsea itu adalah Audrey yang menyamar, tapi apa bisa satu orang berada di satu tempat yang sama namun dalam keadaan yang berbeda.
'Aku tidak mungkin salah tebak, dia memang Audrey. Tapi kalau benar, bagaimana bisa ada Audrey lain yang muncul dari pintu masuk kuil?'
“Kak!” Zachary mengguncang badan Xavier hingga pria itu tersadar dari lamunannya.
“Kau melamunkan apa? Kita harus bertemu kepala desa sekarang dan menyerahkan tanaman herbal yang kita ambil dari samping kuil!” kata Zachary, Xavier menghela napas.
“Kalian saja, aku ingin kembali ke rumah.” Xavier berdiri dan berjalan pergi, Audrey dan yang lainnya menatap bingung.
“Ayo, kita harus mengantar tanaman herbalnya sebelum layu,” ajak Audrey, dia berjalan lebih dulu dan melirik ke arah Xavier.
'Tidak akan kubiarkan kau tau rahasiaku, Xavier. Karena keluargaku tidak tau, orang luar sepertimu juga harus tidak tau!'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1