
“Nak Audrey?”
Audrey yang sedang melamun langsung tersadar, dia tersenyum lebar.
“Terima kasih atas hadiahnya, Nak Audrey. Tapi kami tidak bisa menerima barang yang dibawa Nak Audrey.” Pria paruh baya mendorong paper bag itu pelan ke arah Audrey.
“Tapi kenapa paman? Kenapa paman tidak mau menerima hadiah dari Audrey lagi?”
“Nak Audrey, kamu sudah membantu banyak di panti ini. Kami sangat bersyukur, karena kamu. Panti ini masih bisa berjalan sampai saat ini, tapi jika kamu terus memberikan barang-barang mahal. Kami takut kami tidak bisa membayarnya nanti.”
Audrey tersenyum. “Paman, Bibi. Aku memberikan ini dengan sepenuh hati, aku tidak ingin kalian membayar apapun. Cukup ambil hadiah yang aku berikan itu saja sudah cukup untukku.”
“Nak Audrey, kami sudah banyak berhutang budi denganmu. Kami tidak bisa menambah hutang lagi, Nak Audrey berkunjung ke sini saja sudah membuat anak-anak panti senang.”
Audrey berpikir keras, percuma saja dia terus mendesak kedua paruh baya di depannya. Mereka tidak akan menerima hadiah darinya.
“Baiklah, aku tidak akan mengirim hadiah lagi. Tapi hadiah ini, anggap saja sebagai hadiah terakhir dan paman dan bibi harus menerimanya!”
Kedua paruh baya saling bertatapan beberapa detik sebelum wanita itu menerimanya dengan senyuman tulus. “Terima kasih, Nak. Kami kembali berhutang budi denganmu.”
Audrey tersenyum. “Tidak perlu, paman bibi. Aku senang bisa membantu panti ini.” Audrey kemudian menunduk, dia berbalik badan dan berjalan pergi sambil mengusap setetes air mata yang mengalir.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Ayolah kak!” rengek Audrey sambil menggoyang-goyangkan lengan Caesar.
“Tidak bisa, Audrey! Jika ayahanda tau, dia pasti akan melarangmu dan marah besar!”
“Kakak, kumohon. Bantu adikmu ini,” kata Audrey dengan puppy eye andalannya.
Caesar menghela napas. “Baiklah, aku akan membantumu. Kau ingin berapa banyak koin?”
Mata Audrey seketika berbinar, dia menghitung jarinya sambil mengumamkan sesuatu. Setelah cukup lama berpikir, Audrey akhirnya menentukan jumlah koin yang akan dia pinjam dari Caesar. “Dua ribu koin emas!!”
“Aku janji, jika koinnya masih tersisa. Akan kukembalikan pada kak Caesar,” lanjut Audrey sambil mengangkat dua jarinya, Caesar memijat pelipisnya. Dia mengeluarkan sekantong koin emas dari dalam laci dan menyerahkannya pada Audrey.
“Terima kasih, Kak Caesar.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
“Nona, kita sedang apa?”
Audrey yang tengah menutupi wajahnya dengan menu menurunkan sedikit menu dan menatap Gina yang ikut menyamar. “Kita sedang menyamar, aku ada keperluan khusus di sini!”
'Seharusnya, lelangnya akan dilaksanakan di sini kan?'
“Tuan, aku mohon beri tambahan waktu.”
Audrey dan Gina mengalihkan pandangan mereka ke asal suara, seorang kakek tua kini tengah berlutut di depan seorang pria berkumis.
“Jangan menyentuhku! Kau sudah telat membayar biaya pajak panti asuhan itu!”
“Tuan, tolong Tuan pikirkan lagi. A-ada banyak anak-anak yang tidak memiliki rumah tinggal di sana, jika Anda menghancurkan panti itu. Bagaimana nasib anak-anak itu?”
“Aku tidak perduli!”
Audrey menopang dagunya malas. 'Huh, jika hal ini terjadi di duniaku dulu. Orang-orang ini pasti sudah mengambil ponsel dan merekam keduanya.'
“Nona, sebaiknya kita pergi dari sini,” kata Gina yang mulai khawatir, Audrey mengangguk. Dia berdiri, namun bukannya berjalan ke arah pintu. Audrey justru berjalan ke arah dua pria beda umur itu.
“Permisi, Tuan-tuan. Apa yang terjadi di sini?” tanya Audrey dengan tampang polosnya yang tertutupi cadar.
“Ah, ternyata Tuan tidak mengenal saya. Perkenalkan.” Audrey menunduk sopan. “Saya Adriana dari kediaman baron, saya di sini karena merasa kasian dengan kakek tua itu. Jadi jika Tuan berkenan, apa Tuan mau menjual tanah itu pada saya?”
Pria berkumis itu memegangi dagunya sambil menatap Audrey dari bawah ke atas seolah tengah menilai. “Heh, memang berapa yang Lady bisa bayar?”
“Eumm, saya hanyalah bangsawan rendahan. Tentu saya tidak bisa membayar dengan harga tinggi, kira-kira. Berapa harga tanah yang Tuan anjurkan?”
“Hem, ba--”
“Nona, bagaimana kalau kita berbicara di ruangan lain? Di sini terlalu terbuka,” bisik Gina, Audrey mengangguk. Dia menatap pria berkumis itu.
“Apa ada ruang pribadi di sini?”
“Tentu saja, Nona. Silahkan ikuti aku.” Pria berkumis, kakek tua, Audrey dan Gina berjalan ke lantai atas.
“Nona, sebenarnya apa yang tengah Anda lakukan?” tanya Gina berbisik, Audrey meliriknya sekilas.
“Aku kenal pemilik panti itu, karena tidak bisa membiayai semuanya. Mereka terpaksa akan melelang panti itu dan di sini, aku ingin membelinya. Tidak perduli berapapun harganya, asal tanah panti itu tidak dibeli orang lain. Aku akan membayarnya!!”
__ADS_1
“Silahkan duduk.”
Audrey duduk di salah satu kursi dan Gina duduk di sampingnya, di depannya ada di pria berkumis dan kakek tua yang tengah menunduk.
“Langsung saja, saya membeli harga itu sebelumnya dengan harga 900 koin emas.”
Audrey memegang dagunya berpikir. 'Heh, tanah yang tidak luas itu seharga 900 koin? Apa pria ini ingin memeras seseorang, tapi ya sudahlah. Aku juga tidak pintar dalam hal tawar-menawar.'
“Khem, baiklah. Aku akan membayar 900 koin.”
“Tunggu, Lady. Sebenarnya, sebelum panti itu dibangun. Terdapat tanah subur dan berlian berharga di dalam tanah, namun karena sebuah kendala. Kami terpaksa menyewakannya pada pemilik panti itu namun sekarang, mereka justru tidak mau membayar pajaknya.”
Audrey menopang dagunya malas. “Terus terang saja, apa maksud Anda?”
Pria berkumis itu tersenyum seringai. “Oleh karena itu, kami ingin menjualnya dengan harga 1.100 koin emas.”
“A-apa?? 1.100 koin emas?” tanya Gina dengan mata membulat.
“Heh, menarik. Tapi sayang sekali, aku hanya membawa uang sebanyak sembilan ratus lima puluh koin emas. Kurang seratus lima puluh koin emas lagi, tidak tau di mana aku bisa mendapatkan sisanya.” Audrey dengan wajah sedih menoleh ke arah Gina. “Apa kita tidak perlu membeli tanah ini saja ya?”
“Hah? Eh..”
Pria berkumis itu tiba-tiba berkeringat dingin, dia tersenyum paksa. “Ka-karena Lady sangat baik, kami akan memberi diskon jadi Lady hanya perlu membayar 950 koin emas saja.”
Audrey menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum bahagia. “Ah, benarkah? Tuan sangat baik, kalau begitu. Saya akan membeli tanahnya.”
Pria berkumis itu seketika bernapas lega. “S-surat-suratnya--”
“Siapa yang berani melelang panti asuhan??”
Suara dingin terdengar dari balik pintu, Audrey yang mengenal jelas suara itu memutar bola matanya malas. 'Menganggu saja.'
“Y-yang Mulia!?” Pria berkumis itu langsung berdiri dan membungkuk hormat, Audrey dan Gina ikut berdiri dan menunduk sopan.
“Yang Mulia, Anda ternyata ke sini juga,” kata Audrey dengan wajah cerah meski hatinya suram.
“Kenapa kau di sini?”
“Saya kebetulan makan di sini bersama Gina,” ucap Audrey diakhiri senyuman yang terhalangi cadar. 'Tentu saja makan, kau pikir aku kemari untuk mencari gara-gara!?'
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ