
Laura tersenyum tipis. “Terima kasih, aku tidak bisa menetap di sini bersamamu lagi. Jadi kedepannya, ketika kau kembali ke ruangan ini. Kau tidak akan melihat kami lagi.”
“Kami?”
Laura mengangguk, dia menyentuh dadanya dengan senyuman yang terus mereka. “Iya, aku dan Audrey akan selalu melihatmu dari atas. Aku juga kemari untuk pamit dan menyampaikan pesan terakhir Audrey sebelum menghilang.”
“Maaf, aku tidak bermaksud untuk menghapus jiwa Audrey. Aku hanya tidak ingin.. dia dikuasai kekuatan jahat.”
“Maksudmu aku?" tanya Laura sambil terkekeh geli. “Ya, aku juga minta maaf. Seharusnya aku tidak senaif itu sehingga jatuh cinta dengan raja iblis.”
Audrey menggaruk tengkuknya. “Aku juga sepertimu, menyukai orang yang salah,” cicit Audrey.
Laura terkekeh geli. “Maksudmu Xavier?”
Mata Audrey membulat, dia menggeleng cepat. “Tidak, bukan dia! Kau salah paham!” kata Audrey panik.
Laura menatapnya dengan senyum usil, dia berbalik dan membelakangi Audrey. “Audrey, ikuti kata hatimu. Jika kau benar-benar menyukainya, maka jangan membohongi dirimu sendiri. Aku tau kau kemari karena ketidaksengajaan, tapi.” Laura melirik Audrey dengan senyuman tipis. “Tidak masalah jika kau ingin bersamanya meski dunia kalian sebenarnya berbeda.”
“Apa? Laura tunggu!” Audrey hendak menghampiri Laura, namun cahaya yang menyilaukan membuatnya tidak bisa melihat apapun.
Saat cahaya mereda, Laura telah menghilang dari sana dan tinggal Audrey sendirian di ruangan gelap nan sunyi itu. Dia menghela napas. 'Apa maksudnya aku tidak akan bisa kembali ke duniaku sebenarnya? Apa ragaku memang telah mati?'
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Bawa kembali! Aku tidak ingin makan apapun sebelum Audrey bangun!”
“Tapi Nyonya..”
Sayup-sayup, terdengar suara ribut yang menyapu pendengarannya. Audrey membuka matanya dan melihat banyak orang yang ada di kamarnya, dia bangun dan membuat Cornelia yang mengomeli para pelayan langsung menatapnya dengan mata sembab.
“Sayang, kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?”
“Bibi, apa Bibi menangis?” tanya Audrey dengan suara yang agak serak, Cornelia tersenyum.
“Bibi baik-baik sa--”
__ADS_1
“Bohong! Bibi belum makan kan? Apa ayah dan kakak tidak mengajak bibi? Apa mereka mengabaikan bibi??”
Cornelia terkekeh kecil. “Ini bukan salah mereka, bibi yang ingin menjagamu di sini sampai lupa makan.”
Audrey berdecak, dia menoleh ke arah beberapa pelayan yang membawa nampan berisi semangkuk bubur. “Berikan.”
Pelayan memberikan mangkuk bubur itu, Audrey menyendok bubur dan meniupnya pelan. Dia kemudian mengarahkan ke Cornelia. “Bibi harus makan, jika bibi sakit. Aku yang akan sedih.”
Cornelia mengangguk, dia membuka mulutnya dan membiarkan Audrey menyuapinya seperti anak kecil.
Sela waktu lima belas menit, Bubur di mangkuk telah habis. Audrey tersenyum tipis dan menggenggam tangan Cornelia. “Bibi kembalilah ke kamar dan istirahat, jangan sampai bibi juga sakit karena aku.”
“Baiklah, bibi akan kembali. Tapi kau harus istirahat yang banyak agar cepat sembuh,” kata Cornelia, dia berdiri dan mengecup kening Audrey. Setelahnya, Cornelia dan para pelayan keluar dari kamar dan tidak lupa menutup pintu.
'Begitu ya, aku kembali lagi kemari. Hem, mungkin secara naluri karena kekuatanku yang melemah.' Audrey menoleh ke arah jendela, dia tiba-tiba tersadar sesuatu. Audrey melihat rambutnya dengan kening berkerut. 'Kenapa rambutku berubah menjadi coklat? Bukankah warnanya sudah ku ubah menjadi orange?'
Audrey menghela napas, dia berdiri dan berjalan ke balkon kamarnya. “Tidak ada waktu, aku sudah berada di tempat ini cukup lama. Sekarang aku harus menyelesaikan semuanya sekarang, Veronika. Abella, dan ... Xavier.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Audrey, kau kembali? Kau darimana saja?? Kau membuatku sangat khawatir! Apa kau tau, ada--”
Mia yang tengah sibuk berceloteh langsung terdiam. “Profesor ada di ruangannya, tapi ada perlu apa?”
Audrey tersenyum tipis. “Ada urusan yang harus kuselesaikan.” Dia berjalan ke ruangan Profesor dan meninggalkan Mia yang berdiri di lorong sekolah.
Audrey sampai di depan pintu kayu, dia mengetuk pintu itu tiga kali. Tidak lama, seorang profesor membuka pintu dengan jubahnya. “Ada masalah apa? Ini masih sangat pagi!” kata Profesor sambil menguap.
“Profesor, di mana janjimu?”
“Janji apa?”
“Janji dimana kau akan menyerahkan Veronika padaku.”
Profesor menghela napas. “Jadi itu benar, kau. Aku pikir gadis berambut orange itu hanya mirip denganmu, tapi ternyata--”
__ADS_1
“Jangan bertele-tele, Profesor!”
“Maaf, Audrey. Tapi kami tidak bisa menyerahkan Veronika, dia termasuk siswi di akademi ini dan kami para profesor bertanggungjawab atas keselamatannya.”
Audrey hanya ber-ohh, dia berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Audrey melirik Profesor yang tampak kebingungan. “Aku sudah menduganya, karena itu aku membuat persiapan sebelum kemari.”
“Apa??”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey dengan wajah datarnya mengguyur seorang elf dengan air dingin, dia melempar ember ke lantai dan menepuk-nepuk kedua tangannya seolah membersihkan debu.
“Apa yang kau inginkan dariku?? Kenapa kau melakukan ini!?”
Audrey berjongkok di depan elf cantik dengan mata merahnya yang indah. “Veronika, kau tau aku siapa?”
“M-memangnya, siapa dirimu?”
“Aku..” Audrey mendekat dan berbisik di telinga Veronika. “Laura.”
“Apa?” Mata Veronika membulat, dia menatap Audrey dengan mata gemetar ketakutan. “Tidak mungkin! Kau, kau pasti berbohong!”
“Heh, aku tau semua tentang kau dan Raymond.” Audrey menjauh dan berdiri, dia menatap datar Veronika. “Aku ingin bermain-main denganmu, tapi. Aku tidak memiliki banyak waktu, jadi..” Audrey mengeluarkan belati yang disembunyikan dan membuat Veronika semakin ketakutan.
“Tolong, tolong maafkan aku! Aku.. aku benar-benar tidak tau apapun!”
Audrey terkekeh geli. “Inikah yang dikatakan kuat dan hebat? Sepertinya Raymond buta hingga menganggapmu seperti itu, tapi jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah.” Dia menusukkan belatinya di kaki Veronika dan membuat gadis elf itu berteriak kesakitan.
Bukan hanya itu, Audrey tanpa perasaan menarik belati itu dan membuat darah terciprat di wajahnya. Dia menusuk perut Veronika berkali-kali hingga wajahnya penuh dengan darah, dia bahkan mirip psikopat sekarang.
Audrey berdiri, dia mengangkat belatinya yang telah penuh darah. Matanya sangat dingin dengan tatapan yang terarah ke Veronika yang setengah sadar dan tubuhnya bersimbah darah.
“Hem, aku sudah puas. Tapi tidak tau dengan Laura.” Audrey mendongak dan menatap langit-langit gudang itu. “Bagaimana kalau kuberikan hadiah yang lebih indah dari ini?”
Audrey menunduk dan menatap Veronika, dia mengangkat belatinya dan langsung menancapkannya tepat di kepala Veronika dan membuat gadis elf itu langsung mati seketika.
__ADS_1
Audrey menghela napas pelan, dia mengambil sapu tangan dan membersihkan darah di wajahnya. Seolah tidak terjadi apa-apa, dia berjalan keluar dengan santai dari gudang akademi yang sangat jauh dari kelas dan asrama. Bahkan tidak pernah dikunjungi. 'Aku telah membalas dendam atas kematianmu, Laura. Aku yakin, jiwanya akan masuk ke neraka dan disiksa.'
Audrey tersenyum manis dan mendongak ke langit. “Di sana, kau boleh melihatnya tersiksa hingga puas.”