Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 35. Khawatir


__ADS_3

“Hutan terlarang? Aku tidak pernah dengar.”


Pria itu melangkah keluar, dia berjongkok dan menggali tanah. “Iya, katanya hutan ini milik iblis. Siapapun yang masuk ke mari, tidak akan bisa keluar lagi.” Pria itu mengeluarkan kantong kain dari dalam tanah, dia berdiri dan menoleh ke arah Audrey. “Perkenalkan, namaku Daniel. Siapa namamu?”


“Aku A-- perkenalkan, namaku Chelsea,” kata Audrey setelah terdiam cukup lama. 'Aku tidak tau siapa pria ini, jadi aku tidak boleh memberitahu identitas dan namaku. Bisa saja dia jahat dan ingin memanfaatkan waktu untuk memanfaatkanku.'


“Chelsea, nama yang indah. Kenapa kau bisa masuk ke hutan ini?” tanya Daniel sambil berjalan masuk, Audrey yang tidak tau mau kemana hanya bisa mengikutinya keluar dari gua.


“Aku tidak sengaja masuk ke sini dan tersesat, apa kau tau cara keluar dari hutan ini?”


Daniel berhenti, dia memegang dagunya berpikir. “Hem, aku tidak terlalu tau banyak soal hutan ini. Aku juga tidak tau harus bagaimana agar bisa mengeluarkanmu, bagaimana kalau ke desaku dulu? Setelah itu, kita bisa berdiskusi dengan warga desa. Mungkin mereka tau cara agar kau bisa keluar.”


Audrey dengan ragu mengangguk, Daniel tersenyum. “Ayo ikuti aku.”


Tidak lama setelahnya, keduanya tiba di sebuah desa kecil yang letaknya berada di pinggir jurang. Daniel melirik Audrey sekilas sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.


“Kak Daniel, kau sudah kembali.” Seorang gadis kecil meletakkan kayu yang dibawanya dan berlari ke arah Daniel, dia memeluk pria itu sambil tersenyum.


“Lily, kenapa kau di sini? Kenapa tidak istirahat saja?” tanya Daniel sambil mengusap rambut gadis kecil itu, si gadis kecil sedikit mendongak.


“Aku menunggu kakak, bibi bilang--” Lily menoleh ke arah Audrey yang berdiri tak jauh di belakang Daniel. “Siapa dia?”


“Ah, perkenalkan. Dia Chelsea, dia tersesat di hutan dan aku memintanya untuk tinggal di desa selama beberapa hari. Di mana pak kepala desa? Aku ingin bertemu dan memperkenalkan Chelsea.”


“Hay, Kak Chelsea. Aku Lily,” sapa Lily diakhiri senyuman manis, Audrey tersenyum kikuk.


“Ayo, aku akan mengantarmu ke rumah pak kepala desa.” Daniel langsung saja menggenggam tangan Audrey dan menariknya pergi, Lily tersenyum sambil memperhatikan keduanya. Namun senyumnya langsung meluntur saat keduanya telah menghilang dari pandangannya digantikan wajah jengkel.


Dia mengepalkan tangannya dan berdecak. 'Kak Daniel hanya boleh menjadi milikku! Dia tidak seharusnya memegang tangan gadis lain!'

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Terima kasih sudah mengizinkannya, Pak kepala desa.” Daniel tersenyum, pria paruh baya di depannya mengangguk.


“Nak Chelsea, bapak ingin memberitahu untuk tidak keluar saat malam hari.” Pak kepala desa menoleh ke arah Audrey.


“Memangnya ada apa, Pak?”


Pak kepala desa menoleh ke arah Daniel, pria itu mengangguk dan menoleh ke arah Audrey. “Ayo kita kembali, aku akan memberitahumu nanti.” Dia menggenggam tangan Audrey dan membawanya pergi.


Pak kepala desa menatap keduanya dengan tatapan aneh. “Berhati-hatilah.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Duduklah di sini, aku akan meminta Lily untuk mengantarkan makanan untukmu.”


“Ah, tidak perlu repot-repot. Biar aku sendiri yang memasak, di mana dapurnya?”


Audrey terdiam beberapa detik sebelum tersenyum. “Tidak apa-apa, kalian membiarkanku tinggal saja itu sudah cukup. Biar aku yang memasak hari ini, aku mohon.”


Daniel memijat pelipisnya. “Baiklah, beritahu Lily. Dia akan menunjukkan dapurnya.”


“Baik.”


“Kalau begitu, aku akan pergi. Lily seharusnya akan pulang sebentar lagi.”


Audrey mengangguk, Daniel tersenyum tipis dan berjalan keluar. Setelah pintu tertutup, Audrey duduk di tepi kasur sambil menghela napas.


Dia berdiri dan berjalan keluar. 'Semoga Black dan White baik-baik saja, lebih baik aku menjemput mereka dulu atau mereka akan terus mengaum dan menganggu orang-orang.” Audrey terkekeh geli, dia berjalan keluar secara diam-diam dan menuju ke pintu masuk desa. Tempatnya meninggalkan kedua hewan kecil itu.

__ADS_1


Namun, sesampainya di sana. Audrey tidak melihat siapapun. “Black, White. Kalian di mana?”


Hari semakin gelap sementara Black dan White tidak juga datang, Audrey berdecak sambil berkacang pinggang. 'Kalian ini kemana??' Dia menghela napas, Audrey berjalan keluar dari desa sambil melihat sekitaran. Namun dia tak menemukan dua hewan kecil itu.


Audrey berdesah frustasi, dia duduk di bebatuan besar yang ada di pinggir sungai. “Sebenarnya kalian kemana sih?” gumam Audrey, tidak lama kemudian. Terdengar suara gonggongan anjing, Audrey menoleh.


Dia langsung melompat turun dan menghormati Black yang langsung terjatuh ke tanah. “Black, apa yang terjadi?? Di mana White?”


Black melolong panjang ke arah hutan sebelum tak sadarkan diri. “Di mana White?”


Audrey menggendong Black dan berlari ke arah hutan, firasatnya tiba-tiba menjadi tidak enak. Dia berlari cepat mungkin, hampir lima menit berlalu. Langkah Audrey terhenti, matanya tak bisa lepas pada sebuah hewan yang tergeletak di tanah dan telah dikuliti.


“White!” Audrey segera menghampiri hewan yang dianggap White, dia tidak bisa berkata apa-apa. Matanya membulat.


Tiba-tiba, suara auman terdengar dari belakangnya. Audrey menoleh ke belakang, seekor harimau putih melangkah ke arahnya sambil mengaum. “White, syukurlah kau baik-baik saja. Kau benar-benar membuatku khawatir!” kata Audrey sambil menghampiri White yang menunduk, tatapan gadis itu kemudian beralih ke hewan yang tergeletak di tanah. “Lalu hewan apa itu? Apa kau dan Black yang memburunya?”


White kembali mengaum, Audrey tersenyum. Dia mengusap kepala White. “Kalian ini, seharusnya memberitahuku sesuatu sebelum pergi. Apa kalian tau, aku benar-benar sangat khawatir saat tidak melihat kalian di sana. Dan aku juga minta maaf, aku sampai lupa untuk memberi kalian makan.”


Audrey menunduk, menatap Black yang berada di gendongan. Dia dengan gemas mencubit pipi anak anjing itu dan membuatnya terbangun. “Kau ini, aku pikir kau mati.”


Black hanya menggonggong dengan wajahnya yang imut, Audrey terkekeh kecil. “Ayo kita kembali, Lily dan Daniel pasti sudah menunggu kita.”


White mulai mengecil, Audrey menggendongnya dan membawanya pergi. Setelah kepergian keduanya.


Bangkai hewan yang ditinggalkan itu tiba-tiba mengeluarkan aura hitam dan bau yang menyengat, api tiba-tiba muncul di bangkai itu. Hampir seperti kertas, bangkai itu terbakar menjadi abu yang lalu diterbangkan oleh angin. Namun bau Busuk dab aura hitam terus menguar dari dalam tanah.


Aura hitam itu melingkari salah satu pohon yang ada di sana, pohon itu tiba-tiba seperti terhisap oleh sesuatu ke dalam tanah dan menghilang. Tanah tempat pohon itu berubah menjadi sebuah lumpur hisap.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


“Silahkan dinikmati, maaf jika terlalu lama. Aku tadi sempat keluar untuk mencari dua hewan peliharaanku itu.” Audrey melirik Black dan White yang saling bermain, seolah keduanya tidak menghiraukan perbedaan mereka.


“Tidak apa-apa, ayo duduk dan makan bersama.”


__ADS_2