
Tujuh tahun yang lalu..
Audrey alias Alina menatap sekelilingnya dengan tatapan bingung. 'Di mana aku? Bukankah aku seharusnya sudah mati? Lalu kenapa aku malah ada di sini? Tempat apa ini? Bukankah seharusnya jiwaku sudah hancur?'
“Alina.”
“Audrey.”
Audrey menoleh ke asal suara, Laura dan Audrey asli berjalan ke arahnya dengan senyum tipis dan gaun putih yang anggun namun terkesan sederhana. “Kalian.” Dia hendak berlari ke arah keduanya, namun langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita paruh baya di tengah-tengah keduanya sambil menatapnya dengan senyum lembut. 'Siapa wanita cantik itu? Apa dia ibu Audrey? Atau ibu Laura?'
“Aku ibu kalian bertiga,” kata wanita itu seolah bisa membaca pikiran Audrey, gadis itu menatap linglung. Dia menoleh ke sekeliling ruangan putih itu namun tak menemukan apapun kecuali ruangannya yang berwarna putih dan entah sampai mana.
Audrey menggaruk pipinya yang tak gatal, Laura dan Audrey asli tiba-tiba memeluknya dengan erat dan membuatnya merasa sesak.
“Aku pikir kau akan benar-benar menghilang!”
“Kau membuat kami sangat khawatir.”
“Lepaskan, aku dulu!” kata Audrey, kedua gadis di depannya melepaskan pelukan mereka dengan senyuman canggung. “Kenapa aku bisa di sini?”
Laura dan Audrey asli saling berpandangan dengan senyuman manis, keduanya menatap wanita paruh baya di belakang.
“Itu karena kebaikanmu, Audrey. Meskipun sebenarnya jiwamu memang sudah menghilang, tapi dengan permintaan dari kedua putri bodoh ini. Aku jadi menggunakan sihir khusus untuk mempertahankan jiwamu tetap utuh.”
“Ibu! Kami bukan anak bodoh!” rengek Audrey asli, Laura terkekeh geli. Dia menoleh ke arah Audrey dengan senyuman tipis.
“Tempat ini adalah dimensi putih, dimensi yang terletak antara kematian dan dunia kehidupan.”
Audrey menatap sekeliling dengan tatapan takjub. “Woah, benarkah? Jadi itu sebabnya kalian berdua bisa ada di sini?”
“Em, benar. Aku yakin, kalau kau tinggal di sini. Kau pasti akan sangat senang! Tapi sayang, kau tidak memiliki banyak waktu di sini.”
“Hah? Kenapa? Kenapa aku tidak tinggal di sini? Apa aku melakukan kesalahan??” tanya Audrey terkejut.
Laura berjalan ke arahnya dan menepuk pundak gadis itu pelan. “Bukan, bukan soal itu. Ibu dan kami.” Dia menoleh ke arah wanita yang di panggil ibu. “Memutuskan untuk memberikanmu satu kesempatan terakhir.”
“Kesempatan.. terakhir?” Audrey memiringkan kepalanya dengan wajah bingung.
__ADS_1
Audrey asli mengangguk. “Benar, kami bertiga bisa mengirim jiwamu kembali ke dunia manusia dan kau bisa terlahir kembali dan menjalani kehidupanmu seperti manusia pada umumnya.”
“Tapi ada pilihan lain.”
Audrey menoleh ke Laura, gadis itu melangkah ke Audrey asli dan berbalik menatap Audrey. “Kau juga bisa menjadi roh penjaga dan melindungi orang-orang, tapi hanya orang yang melakukan kontrak denganmu yang bisa melihat wujudmu.”
Audrey memegang dagunya. “Em, apa itu mirip hewan kontrak? Hanya saja, aku tidak bisa dilihat siapapun kecuali oleh orang yang sudah mengontrakku.”
“Ralat, kau juga bisa menunjukkan wujudmu pada siapapun asal itu keinginanmu sendiri. Ibu akan memberikan kekuatan khusus yang biasa dimiliki roh penjaga jika kau mau, tapi jika kau memilih menjadi manusia. Maka kau tidak akan memiliki sihir atau kemampuan apapun, setiap ingatan yang terjadi di kehidupan pertamamu akan hilang.”
“Apa.. jika aku menjadi roh penjaga, ingatanku tidak akan hilang?” tanya Audrey ragu, Laura menjentikkan jarinya.
“Itu tergantung nasibmu nantinya, kami mungkin bisa membantumu memulihkan ingatanmu. Tapi kemungkinan kau tidak akan bisa menahan rasa sakit dari setiap ingatan yang akan ka--”
“Tidak masalah!” kata Audrey penuh semangat. “Biarkan aku menjadi roh penjaga, aku juga akan memulihkan ingatanku dan menemui seseorang!”
“Maksudmu Xavier?” tanya Laura dengan alis yang naik turun.
Audrey berdecak. “Bukan, bukan dia yang ingin kutemui. Tapi Kak Mike dan yang lainnya.” Dia menatap Audrey dengan wajah penasaran. “Kenapa kau juga tidak menjadi roh penjaga atau menjadi manusia lagi?”
Audrey asli tersenyum tipis. “Sayang sekali, kekuatan kebaikanku tidak sebanyak dirimu. Aku juga tidak bisa bertemu keluargaku setelah semua masalah yang kubuat.”
Audrey asli menghela napas pelan, dia menatap Laura. Laura yang mengerti tatapannya tersenyum ke arah Audrey asli.
“Kekuatan Audrey tidak sebanyak dirimu, dia juga tidak ditakdirkan untuk hidup kembali. Ingat ucapanku sebelumnya, kau mendapatkan kesempatan. Kesempatan emas yang tidak bisa dimiliki siapapun, termasuk kami bertiga.” Laura menoleh ke Audrey asli dan Wanita cantik itu.
“Bertiga? Jadi, Bibi juga--”
“Benar, sayang. Bibi sudah terjebak di sini selama bertahun-tahun yang lalu. Dan dari sini, bibi melihat semua yang terjadi di dunia manusia.”
Audrey menunduk. “Jadi--”
“Waktumu habis, jadi pergilah dan jangan kembali dalam waktu dekat. Ok?”
“Apa??” tanya Audrey dengan wajah linglung, tiba-tiba. Sebuah cahaya muncul di belakangnya dan seolah menyedot tubuhnya masuk ke dalam.
Sekilas cahaya silau menutupi pandangannya, saat Audrey membuka matanya lagi. Ruangan gelap memenuhi penglihatannya, dia seolah tidak bisa melihat apapun di ruangan gelap itu.
__ADS_1
Saat dia melangkah, dia seolah menemukan dinding di depannya. Begitu pun dengan mundur, seolah dia di kelilingi dinding transparan.
'Apa ini--'
“Kakak, bangunlah. Apa Kakak tidak apa-apa?”
Samar-samar, Audrey mendengar suara yang mungkin memanggilnya. 'Siapa? Siapa itu?' Dia melihat sekeliling namun tak menemukan apapun.
Tiba-tiba, muncul sebuah cahaya di depannya. Cahaya yang semakin membesar dan seolah melahap jiwanya.
“Kakak, Kakak sudah sadar?” Seorang anak kecil dengan mata biru laut yang tampak berkilau, Audrey bangun sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
“Di mana aku?”
“Kak Lia ada di kediamanku, tubuh Kakak tadi menghilang sedikit demi sedikit dan seperti baca pecah. Saat aku terkejut dan kembali ke kediaman, Kakak sudah berbaring di sini.”
'Lia? Apa namaku saat menjadi Roh penjaga itu Lia?' Audrey terdiam. “Apa kau yang menjalin kontrak denganku?”
Gadis kecil yang tidak lain adalah Rea itu tersenyum dengan wajah polosnya yang imut. “Aku tidak tau soal yang Kakak katakan, tapi aku bertemu Kakak di hutan yang sangat cantik. Saat itu, tanganku terluka dan terus mengeluarkan darah. Kakak membantu menyembuhkan tanganku, tapi sebelum itu. Kakak tiba-tiba meletakkan jari telunjuknya yang penuh darah di dahi kakak.”
'Apa itu melakukan kontrak? Jadi cara kontraknya sama seperti hewan kontrak?' Audrey memegang dagunya. “Lalu ap--”
Suara ketukan pintu membuat ucapan Audrey tergantung, keduanya menoleh ke arah pintu. “Siapa?” tanya Rea.
“Nona Rea, Tuan menunggu Anda untuk berangkat ke istana kekaisaran.”
“Kekaisaran?” Audrey menatap Rea, gadis kecil itu mengangguk.
“Em, Ayah memintaku untuk ikut dengannya ke istana kekaisaran karena ingin mengurus sesuatu.”
Audrey terdiam dengan pikiran yang rumit, senyuman tipis terbit di wajahnya. “Maukah kau membantu Kakak untuk menyampaikan pesan pada Kakak Pangeran Xavier?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Semoga kalian puas ya, sama ekstra chapternya. Meskipun akhirnya tetap membingungkan sih, tapi kalau ada ide. mungkin aku bakalan buat S2.
Tapi jangan nungguin juga ya, itu baru rencana dan mungkin aja nggak jadi. Oh Iya, bantu support cerita yang lain.
__ADS_1
Salam Dari Author : Angels_Devilen