
“Gina, bisa beritahu aku apa yang terjadi?”
Gina menggaruk pipinya bingung. “Tentang apa, Nona?”
“Soal, kenapa aku terbangun di sini!” tegas Audrey, Gina semakin bingung dibuatnya. Apa Nonanya itu tidak menginginkan kejadian sebelumnya?
Gina berdehem. “Baik, Nona. Dua hari yang lalu..”
[Flashback on]
Seorang gadis dengan terhuyung-huyung berjalan ke arah pintu Kediaman, dia dengan sekuat tenaga mengangkat tangannya dan mengetuk pintu dengan lemah.
Gina yang tengah bersih-bersih mendengar suara ketukan itu, dia meletakkan lap di atas meja dan berjalan ke arah pintu. Gina membuka pintu dan seketika shock melihat keadaan sang majikan.
Ada darah di bibir gadis itu, badannya penuh dengan luka goresan dan juga darah yang mengalir dari keningnya.
Gina segera memapah Audrey dan membantu gadis itu untuk duduk, dia dengan panik berlari ke arah dapur untuk mengambil air, kain, salep, dan juga perban.
Setelahnya, Gena dengan cepat kembali ke Audrey dan bertekuk lutut di depan Audrey, dia kemudian mengompres kain yang dibawanya dan mulai membersihkan darah dengan sangat hati-hati dan super pelan.
“Nona, jika terasa sakit. Tolong beritahu saya!”
Audrey mengangguk kecil, dia menatap wajah serius ditambah khawatir milik Gina. Menurut Audrey, itu sangat lucu. Apalagi melihat Gina yang terlihat sangat takut ketika membersihkan darah di tangannya.
Setelah hampir sepuluh menit, Gina telah selesai memperban luka gadis itu. Dia menepuk-nepuk kedua tangannya dan berkacang pinggang dengan wajah puas.
“Jadi, bagaimana Nona bisa terluka?”
“Pembunuh, aku.. ib-lis.” Audrey tiba-tiba pingsan dan membuat Gina panik tak karuan, dia langsung berlari keluar sambil berteriak memanggil tabib.
[Flashback off]
“Jadi begitu ceritanya, Nona. Apa yang Anda maksud dengan pembunuh, Aku, dan iblis?”
Audrey memegang dagunya, dia tampak berpikir keras. 'Cih, pasti karena ‘dia’ lagi!'
“Ah, mungkin aku terlalu lelah dan merasa sakit sehingga mengigau.” Audrey mengalihkan pandangannya, berusaha tidak bertatap langsung dengan mata hitam gelap yang menatapnya penuh selidik.
“Ah, begitu ya. Apa Nona ingin dipanggilkan tabib lagi?” tanya Gina dengan senyum manisnya, Audrey segera menggeleng cepat.
__ADS_1
“Hahaha, tidak perlu repot-repot. Biar aku yang menemui tabib nantinya!”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Suara gebrakan meja membuat seorang pria menunduk dalam diam.
“Apa maksudmu soal pertunangan?? Bukankah Ayahanda kaisar setuju untuk tidak memaksaku!!”
“Maaf, Yang Mulia pangeran. Tapi ini adalah Yang Mulia Kaisar untuk Anda kembali ke kekaisaran dan menentukan gadis yang dipilih oleh Yang Mulia kaisar.”
Pria yang mengebrak meja itu duduk dan memijat pelipisnya. “Aku akan ke sana.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey melempar batu-batu kecil ke dalam danau, dia benar-benar sangat bosan sekarang. Setelah kejadian dirinya pulang dengan berlumur darah, Grand Duke dan keluarganya yang lain langsung melarangnya keluar dengan alasan berbahaya.
'Huh, membosankan sekali. Tapi kenapa aku bisa pulang dengan berlumur darah? Dia saja sangat hebat, tidak mungkin kan sangat mudah dilukai bandit atau pembunuh.' Audrey mengetuk-ngetuk dagunya berpikir, dia menghela napas dan kembali melempar batu.
Audrey dengan sembarangan mengambil batu di sampingnya, dia hendak melemparnya namun terhenti karena merasa aneh dengan bentuk batu yang dia pegang.
Audrey membuka kepalan tangannya dan menemukan satu batu giok berwarna merah yang hampir saja dia lempar, keningnya tampak sedikit berkerut ketika memperhatikan batu giok itu dengan teliti.
Audrey menghela napas, dia meletakkan giok itu dan mengambil batu lain dan melemparnya ke danau.
Detik demi detik seolah berlalu dengan lambat, Audrey menghempaskan batu di tangannya kesal. Dia menghela napas dan memijat pelipisnya.
“Nona Audrey.”
Audrey melirik ke belakang, dia menghela napas. “Ada apa?”
“Ada seorang pria yang ingin bertemu Anda, katanya. Namanya Rhys.”
“Rhys?? Ah dia, aku akan ke sana.” Audrey mengambil batu giok merah itu dan berdiri, dia berlari kecil ke kediaman.
Saat Audrey membuka pintu, dia terdiam saat empat pria menatap tajam seorang pria tampan yang umurnya hampir sama dengan Mike.
“Rhys!” panggil Audrey dan membuat pria tampan itu menoleh, senyum seketika mereka di wajahnya.
“Nona Audrey! Akhirnya aku bisa menemuimu.” Rhys hendak berjalan ke arah Audrey, namun tangannya langsung dicengkeram oleh Mike. Pria itu menatap sang kakak dari sahabatnya.
__ADS_1
Audrey menghela napas, dia berjalan kearah keempat pria yang menatap Rhys dengan tatapan membunuh. “Kakak, lepaskan tanganmu. Dia adalah Rhys. Temanku.”
Mike menatap Audrey. “Apa maksudmu teman? Memang kau memiliki teman dari mana?” tanyanya sinis.
Audrey tercengang, apa maksud kakaknya itu dia tidak memiliki teman??
Dia tersenyum paksa. “Lepaskan, sekarang!” tekannya di akhir kalimatnya, Mike melepaskan cengkramannya dan membuang muka.
Audrey berdecak, dia menarik Rhys dan berjalan ke kamarnya. Sementara pria itu, dia hanya diam sambil diseret seperti anak kecil yang pergi diam-diam.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey mengunci pintu kamarnya dan menghela napas, dia berbalik ke arah Rhys.
“Ada apa, kak Rhys? Kenapa kau datang.”
“Audrey, orang itu mulai menunjukkan dirinya,” kata Rhys serius, Audrey kembali menghela napas dan berjalan ke kasurnya. Dia duduk di tepi kasur dan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan.
“Aku tau, penyeranganku saat pulang kemari juga karena orang itu kan? Tapi, orang itu memang tidak salah. Dia hanya ingin mendapatkan hal yang seharusnya dia miliki.”
“Jadi kau ingin memberikannya?”
“Heh, yang benar saja?? Kau pikir, setelah dia mendapatkannya dan meletakkannya di tempatnya, gadisnya akan hidup kembali? Sungguh naif.”
“Audrey, dia tau kalau benda itu ada padamu. Dia menginginkanmu agar menyelesaikan ritual dan juga mengambil kembali hal yang seharusnya dia miliki. Tapi, apa kau akan ikut dengannya?”
Audrey lagi-lagi menghela napas, dia berdiri dan berjalan ke arah jendela. “Entahlah, semuanya hanya takdir yang tahu. Aku hanya ingin keluarga dan orang yang kusayang-- Er??”
Rhys menatap bingung. “Siapa Er?”
Audrey menoleh ke arahnya dengan panik.
“Sembunyi sekarang! Jangan biarkan Er tau kalau kau ada di sini!!”
Bukannya panik, Rhys justru mengangkat bahunya acuh. “Siapa yang perduli, aku juga tidak mengenal siapa itu Er.”
Audrey menatap Rhys seolah pria itu adalah mangsanya, melihat itu. Rhys menghela napas. “Baik, baik. Aku akan sembunyi.” Rhys berdiri dan berjalan ke kamar mandi dengan santai.
Audrey berusaha tersenyum seolah tidak terjadi apapun, dia berjalan ke arah balkon dan melihat Er yang tengah duduk santai di atas pembatas.
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ