
Audrey berdiri di tepi tepi dengan gaun biru yang indah, tatapannya begitu datar dan terarah ke hutan lebat di seberang jurang.
'Besok adalah hari terakhirku, setidaknya. Aku bisa melakukan satu kebaikan sebelum kematianku.'
“Audrey!”
Audrey melirik ke belakang. “Kau sudah datang.”
Neon tersenyum. “Kau datang lebih awal, ada per--”
“Jangan temui aku lagi.”
“Apa?” tanya Neon dengan kening yang sedikit berkerut.
“Jangan temui aku lagi, jauhi aku dan jangan mengingatku, anggap ini adalah hari terakhir kita bertemu,” kata Audrey tanpa berbalik.
“Audrey, leluconmu itu tidak lucu!”
“Ini bukan lelucon, aku mengatakan yang ingin kukatakan. Jauhi aku dan jangan pernah menemuiku lagi atau mengingatku.”
“Tapi kenapa??” tanya Neon dengan raut wajah tak terbaca, dia melangkah ke arah Audrey namun langkahnya langsung terhenti saat melihat gadis itu berdiri tepat di tepi jurang. “Audrey, apa. Apa yang akan kau lakukan?” tanya Neon waspada.
“Aku tidak akan melakukan apapun, aku mengajakmu kemari hanya untuk memberitahumu hal itu.” Audrey menghela napas, dia berbalik dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. “Jadi ini adalah pertemuan terakhir kita, jangan pernah atau berpikir untuk menemuiku lagi setelah ini.”
“Kenapa? Apa kau membenciku?”
Audrey menggeleng. “Tidak, aku tidak membencimu sama sekali. Aku bahkan sudah menganggapmu sebagai saudaraku, tapi biarkan aku egois kali ini. Aku tidak ingin melihatmu lagi seumur hidupku!”
Neon tersenyum kecut, dia mengalihkan pandangannya dari gadis di depannya dengan air mata yang terus ditahan. “Apa kau tau perasaanku selama ini?”
“Aku tau.”
Dua kata dari Audrey membuat Neon kembali menatapnya. “Apa itu sebabnya kau ingin aku menjauhimu dan tidak mengingatmu lagi? Apa kau pikir aku akan kecewa saat tau kau mencintai Xavier dan akan membunuh pria itu?”
__ADS_1
Audrey menatapnya dengan kening yang sedikit berkerut. “Kenapa kau berpikir--”
“Aku melihatnya, Audrey. Tiga hari yang lalu, aku ke kediaman Grand Duke untuk melihatmu.” Neon membuang muka dengan senyuman kecut, terlihat jelas kekecewaan di matanya. “Dan saat itu, aku melihatmu bersama Xavier.”
Audrey menghela napas. “Ternyata kau yang melihat hal itu, tapi aku mengatakannya bukan karena Xavier. Hal yang kukatakan tadi tidak ada hubungannya sama sekali dengannya.”
“Lalu kenapa?? Kenapa kau sangat ingin aku menjauhimu!?”
“Karena.” Audrey menggantung kalimatnya, dia menutup matanya sejenak sebelum menatap serius Neon. “Aku membencimu.”
Neon menatapnya tak percaya. “Lalu, kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu selama ini? Kenapa kau terlihat baik-baik saja saat di sampingku??” tanya Neon dengan suara bergetar.
“Itu karena, aku menganggapmu saudaraku. Tapi kau malah menganggapku berbeda, itu sebabnya aku membenci dan tidak ingin bertemu denganmu lagi,” kata Audrey, dia mengigit bibir dalamnya. 'Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku akan mati besok, itu akan membuatnya semakin hancur.'
Neon berbalik dan mengusap wajahnya kasar. “Baiklah, jika itu kemauanmu. Aku tidak akan menemuimu atau mencari tau apapun tentang dirimu, aku berjanji!” Dia berjalan dengan langkah besar dan meninggalkan tebing itu.
Audrey memperhatikan punggung Neon yang semakin menjauh dan menghilang dari kegelapan, dia menoleh ke arah jurang dan melihat ke bawah. “Kau tau, meskipun kau akan berusaha menemui atau mencariku. Kau tidak akan bertemu lagi, suatu hari nanti. Jurang ini yang akan menjadi saksi kematianku.”
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Audrey tersenyum. “Maaf aku pergi tanpa pamit, apa kau bisa membantuku? Sekali saja.”
Gina berkedip dengan wajah polos, dia tersenyum. “Apa maksud Anda, Nona? Anda bisa meminta bantuan saya kapanpun Anda mau.”
Audrey sedikit menunduk dengan senyum kecut, dia menutup matanya dan mengatur napasnya yang memburu. “Tolong kumpulan semua anggota keluarga dan tunggu aku di bawa, perintahkan juga semua pelayan untum tidak menganggu atau menguping pembicaraan apapun. Jika bisa, bawa mereka ke taman sebentar saja.”
“Eum, boleh saja. Tapi apa Nona bisa memberitahu apa yang ingin Nona bicarakan?”
“Biar mereka yang memberitahumu nanti, tolong laksanakan perintahku tadi secepat mungkin.”
Meskipun tampak bingung, Gina tetap berjalan keluar dan menutup pintu.
Audrey bersandar, dia menghela napas panjang. 'Setidaknya, biarkan aku melihat kalian semua sebelum aku mati.'
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Apa ada yang tau kenapa Audrey mengumpulkan kita semua?” tanya Grand Duke, ketiga kedua putranya menggeleng tak tau.
“Kami--”
“Di mana Kak Caesar?”
Ketiganya menoleh ke asal suara, Audrey melangkah turun sambil melihat sekeliling namun tak menemukan kakak tertuanya itu.
“Kak Caesar kembali ke kekaisaran pagi tadi, ada apa kau tiba-tiba meminta kami berkumpul?”
“Aku, ingin berterima kasih pada kalian semua. Terima kasih sudah mau menerimaku meski tau aku bukan Audrey, terima kasih karena tidak membenciku yang sudah membohongi kalian. Dan terima kasih karena telah melimpahkan kasih sayang padaku selama ini.”
“Audrey, apa yang ingin kau katakan? Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan ucapanmu?” tanya Damien.
“Kau seolah-olah mengucapkan kata-kata perpisahan,” gumam Mike dan di angguki Damien.
Audrey terdiam sesaat, dia tersenyum sangat tipis. “Kak Mike sudah mengerti, aku memang mengucapkan kata-kata perpisahan.”
“Untuk apa? Kenapa kau mengucapkan kata-kata itu padahal kau sendiri tidak ingin kemana-mana.”
Audrey menoleh ke Grand Duke, dia menatap lekat wajah yang mulai menunjukkan keriput itu namun masih terlihat sangat tampan. “Karena, aku akan pergi besok,” kata Audrey dengan senyuman manis.
“Kenapa kau pergi? Apa kau membenciku karena aku menamparmu waktu itu? Hari itu aku benar-benar tidak bermaksud! Aku hanya tidak terima kau mengatakan kalau adikku sudah mati.”
“Tidak, ini bukan karena perkara Kak Damien yang menamparku. Meskipun tanpa melakukan apapun, aku akan tetap pergi dari sini dan tidak akan kembali lagi.”
“Apa maksudmu, jangan bercanda! Aku tidak akan membiarkanmu pergi atau keluar dari kamarmu sedetikpun!!”
Audrey menatap ketiganya bergantian, senyuman lembut mereka di wajahnya. Senyuman yang sangat jarang ditunjukkan seorang Alina. “Aku hanya akan keluar untuk menemui Xavier besok, jika Kakak melarangku. Aku akan tetap pergi, kalau kakak mengurungku di kamar dan memperketat penjagaan. Maka aku akan pergi tanpa mengucapkan kata-kata perpisahan pada Xavier.”
“Kenapa kau sangat ingin pergi!? Apa kau ingin bunuh diri?? Kalau begitu, aku akan mengosongkan kamarmu dan mengurungmu! Dengan begitu, kau tidak akan mencoba untuk bunuh diri lagi!”
__ADS_1
“Percuma.” Audrey menjerat ucapannya, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Dia mengigit bibir dalamnya, Audrey menyentuh dadanya. “Aku harap, kalian akan membantu Xavier untuk menghabisi raja iblis. Sekarang, kekuatannya telah tersegel seutuhnya dan dia dalam kondisi lemah. Kalian bisa menggunakan kekuatan kekaisaran untuk menghabisi para iblis sekaligus dan tidak perlu khawatir kekuatan Raymond akan kembali.”