Menjadi Antagonis Dalam Novel

Menjadi Antagonis Dalam Novel
Episode 18. Chelsea


__ADS_3

“Lihat semuanya, kami membawakan apa untuk kalian.” Eryk memberikan satu paper bag pada Audrey dan Abella.


“Kalian darimana?” tanya Audrey sambil menerima paper bag itu, begitu pula Abella yang tak mengucapkan sepatah katapun.


“Kami dari toko di dekat sini, tadi ada warga desa yang ingin membeli keperluan barang-barang dan kami ikut.” Eryk bersandar di kursi.


“Kau memberikanku gaun?” tanya Audrey setelah membuka paper bag, Eryk mengangguk.


“Apa kau suka? Itu Xavier yang memilihkannya, tumben sekali pria dingin itu mau berjalan-jalan.”


Audrey menoleh ke arah Xavier yang berjalan masuk ke kamarnya, dia merasa ada yang aneh hari ini.


“Terima kasih untuk gaunnya,” kata Abella disertai senyuman manis.


“Cobalah, apa gaunnya cocok.”


Abella mengangguk semangat.


“Tidak, aku sedang tidak ada suasana hati. Lain kali saja, Bella kalau mau coba saja. Aku juga ingin melihat kau mengenakan gaun itu.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Malam harinya, suasana kembali hening. Kali ini, rembulan ditutupi oleh awan sepenuhnya.


Seperti hari sebelumnya. Seorang gadis dengan gaun yang sama berdiri di atas atap. Kali ini, dia tidak membawa panah ataupun pedang. Melainkan sebuah sabit di tangan kanannya.


Gadis itu masih mengenakan topeng rubah dengan rambut yang diikat satu.


“Kau masih di sini rupanya.”


Gadis itu melirik ke belakang. “Heh, kau sudah ingat rupanya. Kau lebih hebat dari yang aku pikirkan.”


“Aku tidak ingin semuanya, tapi aku ingat tempat ini dan juga.. kau.”


Gadis itu terkekeh kecil. “Saya merasa terhormat karena Yang Mulia mengingat saya, jadi. Kenapa kau kemari?” tanya gadis itu dengan nada datar.


“Apa ini kawasanmu sehingga aku tidak bisa kemari?”


Gadis itu meliriknya sekilas, dia melompat turun dan menghilang di telan kabut. Xavier menghela napas. Dia semakin yakin kalau gadis itu adalah orang yang sangat dia kenal.


'Aku yakin, kau benar-benar dia.' Xavier melompat turun.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Kakak cantik, kau kesini??” tanya anak kecil itu dengan semangat, gadis itu tersenyum tipis dan mengusap rambut anak itu lembut.

__ADS_1


“Bagaimana keadaanmu? Apa lukanya sudah sembuh?”


Anak kecil itu mengangguk. “Iya, lukaku sudah kakak cantik sembuhkan.”


Gadis itu terdiam beberapa detik sebelum tersenyum tipis. “Ini rahasia, ok? Jangan beritahu siapapun lagi.”


Anak itu mengangguk pelan dengan wajah bingung. “Tapi kenapa?”


“Karena.. Kakak memiliki misi khusus, jadi jangan beritahu siapapun. Ngomong-ngomong, kita sudah bertemu dua kali tapi kau masih belum memberi tahu namamu.”


“Namaku Alvina, Kakak bisa memanggilku Vina.”


Gadis itu mengangguk. “Kalau begitu perkenalkan, nama Kakak.. panggil kakak Chelsea.”


“Em, terima kasih sudah menolongku. Kak Chelsea,” kata Alvina.


“Anak pintar, sekarang kembali--” Chelsea berdiri, dia menarik Alvina ke belakangnya.


“Kak--”


“Sstt, jangan khawatir. Kakak akan menyelamatkanmu,” kata Chelsea sambil tersenyum manis, dia menatap datar seorang Zombie yang berjalan ke arahnya.


Chelsea hendak mengambil senjatanya namun zombie itu tiba-tiba melompat ke arah keduanya, dia yang tidak sempat mengambil senjata miliknya hanya terpaksa menarik Alvina untuk menghindar.


Namun naasnya, cakar zombie itu malah mengenai lengannya. Chelsea meringis, dia segera mengambil senjatanya. Namun baru saja ingin menghabisi zombie itu, si zombie sudah lebih dulu tumbang.


“Jangan khawatir, Kakak akan baik-baik saja. Kau.. kau lebih baik kembali sekarang, terlalu berbahaya di sini,” kata Chelsea sambil mengusap wajah Alvina dengan senyum manis.


“Tapi, Kakak..”


“Kakak baik-baik saja, jangan khawatir. Ok?”


Alvina mengangguk, dia berlari kecil menuju rumahnya. Alvina menoleh ke arah Chelsea sebelum menutup pintu rumah.


Chelsea menatap luka gores yang mulai berwarna ungu, dia menghela napas sambil memegang lengannya yang terluka.


“Nona, kau terluka!” Tiba-tiba saja, Xavier muncul di sampingnya. Chelsea hanya meliriknya sekilas dan menatap lukanya.


“Apa kau.. diserang zombie??” tanya Xavier, entah kenapa. Pria itu tiba-tiba menjadi banyak bicara, padahal dia aslinya adalah pria dengan yang pendiam dan berhati dingin.


Chelsea melirik lukanya dan menghela napas, racunnya tiba-tiba berhenti menjalar dan mulai berkurang hingga semua racunnya menghilang. Luka goresan yang diakibatkan Zombie itu juga menghilang tanpa bekas.


“Nona.. tanganmu.”


“Kau sudah lihat kan? Darahku adalah racun bagi para racun, aneh? Ya. Aku memang aneh.” Chelsea membelakangi Xavier dan menatap sabit yang penuh dengan darah.

__ADS_1


“Apa maksudnya??” tanya Xavier bingung, dia tak mengerti dengan apa yang dikatakan gadis di depannya.


“Lihat itu.” Chelsea menoleh ke arah zombie yang hampir mengigitnya, Xavier mengikuti arah pandangan gadis itu dan terkejut.


Badan semua zombie yang menggoresnya tadi membiru, setelah semua kulitnya membiru. Dia perlahan-lahan menghilang ditiup angin, seperti daun kering yang dibakar api.


“Kau lihat kan, anggap saja darahku adalah penawar dari semua racun.” Chelsea menghela napas dan memijat pelipisnya, dia kemudian menatap Xavier.


“Yang Mulia, datanglah ke kuil tua di tengah hutan saat Bulan biru. Titik masalahnya ada di sana, panggil teman-temanmu yang lain dan pastinya untuk tidak membuat sedikitpun suara.” Chelsea berbalik badan dan hendak pergi, namun Xavier langsung menarik tangannya.


“Siapa namamu?”


Chelsea mengerutkan keningnya, dia menghela napas. “Chelsea, panggil aku Chelsea,” kata Chelsea dan menatap Xavier, mata biru lautnya seolah menenggelamkan siapapun yang menatapnya.


Chelsea tersenyum. “Apa kau sudah puas menatapku, Yang Mulia?”


Xavier tersadar, dia berdehem dan membuang muka. “Siapa yang menatapmu? Jangan percaya diri.”


“Oh, begitu kah. Tapi ingat satu hal, Yang Mulia. Kecantikan bisa menjadi racun yang amat mematikan,” kata Chelsea diakhiri sebelah kedipan mata, Xavier seolah familier dengan kata dan wajah gadis di depannya.


Chelsea berbalik, dia berjalan pergi dengan anggun dan menghilang ketika angin menerbangkan dedaunan.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


“Baik, apa yang akan kita lakukan kali ini?” tanya Audrey sambil menatap 4 timnya yang sedari tadi hanya diam.


“Bagaimana kalau kita mengecek keadaan para warga,” saran Eryk.


“Em, bagaimana kalau kita pergi ke toko terdekat dan membeli obat herbal? Mungkin kita bisa membantu beberapa warga, Nona Audrey juga tidak mungkin bisa menggunakan sihir penyembuhannya setiap waktu.”


Audrey mengetuk-ngetuk dagunya, dia menoleh ke arah dua pria yang masih terdiam. “Bagaimana menurut kalian?”


“Manurutku--”


“Kita ke kuil tua di tengah hutan saat bulan biru,” kata Xavier yang langsung memotong ucapan Zachary, ketiganya menatap bingung.


“Untuk apa kita ke sana?”


“Disana--”


“Apa ingin mengambil tanaman herbal??” tanya Audrey semangat, dia sampai mengebrak meja dan berdiri. “Aku dengar, di dekat kuil tua di tengah hutan banyak tanaman herbal yang bisa menyembuhkan luka apapun. Itu pasti akan berguna kalau kita terpisah.”


“Ide bagus, tapi kita tidak bisa membuat obat herbal dengan tanaman herbal.”


“Jangan khawatir, aku dan Bella tau sedikit tentang tanaman obat.” Audrey melirik Abella yang hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


__ADS_2